Polemik di Balik Pembangunan Wisata Arunika
Di balik keindahan panorama lereng Gunung Ciremai, sebuah polemik tajam tengah mengusik ketenangan kawasan wisata Palutungan. Desa Cisantana Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan menjadi pusat perhatian setelah narasi penghijauan yang disampaikan oleh PT Puspita Cipta Grup atau pengelola kawasan Arunika mendapat kritik keras.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Cigugur, Aang Taufik, membawa perspektif yang menjungkirbalikkan klaim perusahaan. Baginya, publik sedang disuguhi narasi yang “salah kaprah” mengenai kondisi asli ekologi di kaki Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut.
Menggugat Narasi “Lahan Tandus”
Ia memulai kritiknya dengan membedah sejarah tata guna lahan yang seolah dikaburkan dan menepis anggapan bahwa kawasan tersebut dulunya adalah lahan gersang yang tak bernyawa karena citra satelit yang menampilkan warna kecokelatan, bukanlah bukti kerontokan alam, melainkan potret dinamika kehidupan petani.
“Sangat keliru jika wilayah itu disebut lahan tandus. Sejak dekade 1980-an, wilayah Palutungan hingga ke bawah merupakan urat nadi pertanian sayuran yang sangat produktif,” ujarnya, Sabtu, 20 Desember 2025.
Dijelaskannya, petani sayuran secara teknis membutuhkan paparan sinar matahari langsung sehingga pohon-pohon besar memang tidak mendominasi area bersangkutan. Warna cokelat pada citra satelit tahun 2015 hanyalah fase sementara saat lahan memasuki masa istirahat (bera) atau puncak musim kemarau. Fakta ini diperkuat oleh data satelit tahun 2014 yang menunjukkan hamparan hijau subur sehingga membuktikan lahan tersebut adalah ekosistem pertanian yang sehat sebelum akhirnya tersentuh proyek wisata.
Dari Hamparan Hijau ke Hutan Beton
Diperkirakan lahan sekitar 8 hektare yang dulunya mampu menyerap air hujan dan menghasilkan pangan, kini telah bersalin rupa menjadi gugusan bangunan permanen kawasan Wisata Arunika mulai dari hotel, berbagai wahana hiburan hingga fasilitas penunjang pariwisata. Begitu pula dengan tempat-tempat wisata lainnya yang ada di daerah Palutungan.
Dirinya mempertanyakan, apakah pembangunan berskala besar ini telah menimbang daya dukung lingkungan secara jujur atau bagaimana. “Ini bukan penghijauan, melainkan transformasi bentang alam. Apakah perubahan ini didasari manajemen risiko yang matang atau perburuan keuntungan ekonomi semata?” tuturnya.
Keganjilan Lain
Keganjilan lainnya lanjut Aang, adalah pembangunan jalan selebar akses utama di area pengembangan seluas 20 hektare. Pihak perusahaan berkilah bahwa infrastruktur tersebut diperuntukkan bagi pembibitan tanaman atau arboretum. Namun logika tersebut sulit diterima.
“Secara nalar, untuk apa membangun jalan lebar menggunakan alat berat jika tujuannya hanya untuk arboretum?” kata tokoh yang kerap mengadvokasi masyarakat.
Alam Memiliki Hukum yang Tak Bisa Dinegosiasikan
Setiap jengkel lahan di lereng Gunung Ciremai memiliki peran ekologis yang vital. Karakter ekosistem di kawasan ini sangat sensitif terhadap perubahan vegetasi, sistem drainase dan penambahan beban bangunan, sehingga dirinya memperingatkan, jika batas daya dukung lingkungan dilampaui, alam akan memberikan reaksinya sendiri.
Konsekuensinya nyata dan tak bisa ditawar, mulai dari ancaman tanah longsor, erosi yang merusak kesuburan, hingga hilangnya sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan warga.
“Mari kita bernarasi untuk mencerdaskan. Jangan sampai istilah penghijauan hanya dijadikan kedok untuk melegitimasi alih fungsi lahan yang justru mempercepat degradasi ekologi,” ucapnya.
Ia mengajak publik dan pemerintah untuk lebih kritis. Pembangunan memang diperlukan untuk roda ekonomi namun kejujuran dalam narasi adalah kunci keselamatan jangka panjang.
Kasus Arunika dan Tempat Wisata Lainnya
Kasus Arunika dan tempat wisata lainnya di daerah Palutungan kini menjadi potret besar tarik-menarik antara ambisi bisnis dan prinsip konservasi di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
“Kita boleh membangun, tapi jangan pernah mengaburkan kebenaran. Mari jaga keseimbangan agar Gunung Ciremai tetap menjadi gunung yang memberi kehidupan, bukan menjadi latar belakang foto wisata yang rapuh. Sedangkan penghijauan yang tengah dilakukan, apakah benar untuk kepentingan alam atau estetika guna memoles wajah bisnis pariwisata?” katanya.
Pengelola Arboretum, Maryoto menyampaikan, arboretum dikembangkan sebagai kawasan konservasi yang berfungsi sebagai pusat koleksi tumbuhan khas Kabupaten Kuningan baik yang berasal dari dalam maupun luar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Pengembangan Arboretum diarahkan untuk mendukung pelestarian lingkungan melalui koleksi tumbuhan lokal sebagai tanaman pionir. Ke depan, kawasan tersebut diharapkan menjadi pusat konservasi, pendidikan dan penelitian sekaligus wisata berbasis lingkungan.











