My WordPress Blog
Bisnis  

Rahasia INA Dikagumi Investor Global: Tata Kelola yang Stabil

Pendekatan Disiplin dan Transparansi yang Membawa Perhatian Investor Global

Indonesia Investment Authority (INA) telah menarik perhatian investor kelas dunia, bukan karena besarnya dana yang dikelola, melainkan karena pendekatan yang disiplin, transparan, dan jauh dari kesan ugal-ugalan. Dengan tata kelola yang ketat, proses yang transparan, serta penerapan daftar negatif investasi, INA berhasil menjaga keamanan dana negara sekaligus membangun kepercayaan mitra asing.

Vice President ESG Indonesia Investment Authority, Fetriza Rinaldy, menyampaikan bahwa faktor utama yang menarik perhatian mitra investasi global adalah konsistensi dalam menjaga tata kelola. Hal ini disampaikan dalam program Naratama, “Pintu Investasi Indonesia di Pundak INA”, yang dipandu oleh Pemimpin Redaksi Amir Sodikin.

“Yang pertama adalah konsistensi kita dalam menjaga tata kelola, bukan misalnya berapa dana yang dikelola oleh INA, itu bukan. Sesuai dengan pengalaman kita sejauh ini, ketika kita bermitra dengan mitra investasi terutama global, yang mereka lihat adalah proses internal kita seperti apa, tata kelola kita seperti apa,” ujar Fetriza.

Proses Investasi yang Berlandaskan Dua Mandat Utama

Proses investasi yang dijalankan INA dimulai sejak tahap awal screening hingga pengambilan keputusan akhir dengan berpegang pada dua mandat utama yang berjalan beriringan. Di satu sisi, investasi harus mampu memberikan imbal hasil finansial yang baik dan berkelanjutan. Di sisi lain, proyek tersebut dituntut memiliki dampak jangka panjang yang positif, tidak hanya bagi kinerja ekonomi, tetapi juga bagi aspek sosial dan lingkungan.

Kedua mandat tersebut menjadi landasan yang terus dijaga konsistensinya sepanjang proses, sehingga setiap keputusan investasi tidak diambil semata-mata berdasarkan potensi keuntungan jangka pendek.

Manajemen Risiko yang Terbuka dan Transparan

Dalam setiap tahap evaluasi, INA menyadari bahwa risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah investasi. Berbagai risiko akan muncul dan teridentifikasi, baik yang bersifat finansial, operasional, maupun terkait aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Tantangan utamanya bukan pada ada atau tidaknya risiko, melainkan bagaimana risiko-risiko tersebut dikelola dan dimitigasi secara tepat. Karena itu, seluruh temuan risiko dibahas secara terbuka dan transparan, sehingga setiap pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama. Pendekatan ini memungkinkan proses investasi tetap berjalan terukur dan pada akhirnya menghasilkan pengambilan keputusan yang lebih objektif, bertanggung jawab, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Transparansi sebagai Pilar Utama Kepercayaan Investor

Selain tata kelola, transparansi menjadi pilar kedua yang membuat INA dipercaya investor global. Fetriza menegaskan bahwa dalam setiap evaluasi investasi, risiko selalu muncul dan tidak mungkin dihindari. Tantangannya adalah bagaimana risiko tersebut dimitigasi secara terbuka dan sistematis.

“Ketika kita melakukan suatu evaluasi tentu akan banyak risiko yang kita identifikasi. Tapi PR-nya adalah bagaimana risiko-risiko tersebut bisa kita mitigasi dengan baik. Sehingga proses bisa tetap berjalan, semua kita diskusikan dengan secara terbuka, sehingga pengambilan keputusan pada akhirnya bisa lebih objektif,” paparnya.

ESG sebagai Persyaratan Global

Menariknya, berdasarkan pengalaman INA, justru mitra investasi global yang kerap mensyaratkan penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) secara ketat.

“Justru berdasarkan pengalaman kami di sini sebaliknya, Mas. Mitra investasi global ini yang meminta atau mempersyaratkan bahwa kita juga harus mengedepankan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Jadi biasanya mereka sudah punya standarnya sendiri di tingkat global,” beber Fetriza.

Tantangan dalam Penerapan ESG di Indonesia

Tantangan utama bagi INA terletak pada upaya menerapkan ESG yang berlaku secara global ke dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang. Standar ESG internasional umumnya disusun dengan asumsi ketersediaan sumber daya, tingkat kesiapan institusi, serta kondisi pasar yang sudah matang.

Sementara di Indonesia masih menghadapi berbagai keterbatasan dan kompleksitas khas emerging market. Perbedaan inilah yang membuat penerapan ESG tidak bisa dilakukan secara seragam atau instan.

Namun, kondisi tersebut justru dipandang INA sebagai peluang strategis. Dengan memahami ekspektasi global sekaligus realitas di lapangan, INA mengambil peran sebagai jembatan antara keduanya.

Kebijakan Internal dan Uji Tuntas ESG

Untuk itu, INA memiliki kebijakan internal ESG yang menjadi pedoman utama. INA juga melakukan uji tuntas ESG (ESG due diligence) untuk mengidentifikasi risiko yang paling material dan berdampak langsung terhadap bisnis.

“Tentu pertama kami diatur dalam kebijakan internal kami. Jadi kami punya kebijakan terkait ESG sendiri di dalam INA. Lalu yang kedua kami melakukan uji tuntas ESG tadi, due diligence tadi. Jadi tujuannya adalah untuk mengidentifikasi risiko apa yang paling material, yang paling harus dibenerin deh terlebih dahulu,” kata Fetriza.

Daftar Negatif Investasi sebagai Alat Pemilihan Sektor

Pendekatan kehati-hatian INA juga tercermin dalam proses screening investasi melalui penerapan daftar negatif. INA secara tegas mengecualikan sektor-sektor tertentu dari portofolio investasinya.

“Kita punya daftar, contohnya daftar negatif, Mas. Jadi sektor-sektor yang kita kecualikan dari daftar investasi kita, ada,” lanjut Fetriza.

Fetriza menyebut, saat ini terdapat sekitar 17 sektor yang masuk dalam daftar pengecualian tersebut, termasuk penambangan ilegal dan sektor yang memproduksi bahan kimia terlarang secara nasional maupun internasional.

Proses Uji Tuntas yang Memakan Waktu

Dalam tahap uji tuntas ESG, temuan-temuan yang muncul harus dimitigasi secara jelas dan dituangkan dalam dokumen yang mengikat secara hukum.

“Kalau tidak dimitigasi dengan baik, kalau kita tidak bisa menuangkannya di dalam dokumen yang mengikat, risiko ini takutnya tidak bisa kita kendalikan,” katanya.

Proses ini, lanjut Fetriza, memang memakan waktu karena melibatkan berbagai workstream seperti hukum dan finansial. Namun INA tidak menjadikan kecepatan sebagai prioritas utama.

Fokus pada Lima Sektor Utama

INA saat ini berfokus pada lima sektor utama yang dinilai selaras dengan prioritas nasional, termasuk dekarbonisasi dan transisi energi. Salah satu contohnya adalah investasi di PT Pertamina Geothermal Energy bersama Masdar.

Dengan pendekatan tata kelola yang ketat, transparansi penuh, serta kehati-hatian dalam memilih sektor investasi, INA membuktikan bahwa menarik modal global tidak harus dilakukan secara agresif. Justru dengan proses yang rigid dan bertanggung jawab, kepercayaan investor dunia dapat dibangun secara berkelanjutan.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *