Mutasi Letjen TNI Widi Prasetijono dan Keterkaitannya dengan Kasus TPPU
Letnan Jenderal (Letjen) TNI Widi Prasetijono, mantan ajudan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), telah dimutasi oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto. Sebelumnya, ia menjabat sebagai dosen di Universitas Pertahanan (Unhan). Kini, ia dipindahkan menjadi Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Mutasi ini dilakukan sebagai bagian dari rotasi dan mutasi terhadap 187 Perwira Tinggi (Pati) TNI. Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1664/XII/2025 tanggal 15 Desember 2025 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI.
Dengan penempatan sebagai staf khusus, Letjen Widi tidak lagi memegang komando pasukan atau kewenangan operasional. Jabatan staf khusus merupakan posisi nonkomando di lingkungan TNI AD.
Penyelidikan Terkait Kasus TPPU
Dalam beberapa waktu terakhir, sosok Letjen Widi Prasetijono menjadi sorotan setelah menjalani pemeriksaan oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah (Kejati Jateng). Ia dipanggil sebagai saksi dalam kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terkait korupsi pembelian lahan milik BUMD PT Cilacap Segara Artha (CSA).
Kepala Kejati Jateng, Siswanto, mengatakan bahwa pemanggilan sebagai saksi tersebut sudah dilakukan untuk kedua kalinya. Dalam penelusuran TPPU, kasus ini juga berkaitan dengan Novita Permatasari, istri dari Widi Prasetijono. Namun, Kajati belum mengetahui apakah pasangan suami istri tersebut dipanggil sebagai saksi dalam satu tempat.
“Belum (tahu) karena istrinya itu masih proses persidangan (sebagai saksi),” katanya di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Senin (1/12/2025).
Profil Letjen TNI Widi Prasetijono
Letjen TNI Widi Prasetijono lahir di Trenggalek, Jawa Timur, pada 4 Juni 1971. Saat ini, ia berusia 54 tahun. Dalam kehidupan pribadi, Widi menikah dengan Novita Permatasari.
Ia lulus dari Akademi Militer (Akmil) tahun 1993 dan mengawali karier militernya di kesatuan Infanteri Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Saat ini, Widi menyandang pangkat Letnan Jenderal, yang merupakan pangkat perwira tinggi TNI yang berada satu tingkat di bawah Jenderal dan satu tingkat di atas Mayor Jenderal.
Selama berkarier, Letjen Widi pernah menduduki jabatan strategis, seperti:
- Komandan Unit (Danunit) Grup 2 Kopassus (1995)
- Komandan Unit Batalyon (Danunit Yon) 22 Grup 2 Kopassus (1996)
- Komandan Sub Tim (Dansubtim Yon) 22 Grup 2 Kopassus (1998)
- Komandan Tim (Dantim) Yon 22 Grup 2 Kopassus (2000)
- Kepala Seksi Logistik (Kasilog) Grup 1 Kopassus (2003)
- Wakil Komandan Batalyon (Wadanyon) 11 Grup 1 Kopassus (2006)
- Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 400/Raider (2009—2010)
Karier Widi semakin melambung ketika ia dipercaya menjadi Komandan Distrik Militer (Dandim) 0735/Surakarta pada tahun 2011. Pada masa itu, Jokowi masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Karier di TNI dan Jabatan Strategis
Kedekatan antara Widi dan Jokowi terus terjalin setelah mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjadi Presiden hasil Pilpres 2014. Sebab, Widi diberikan kepercayaan menjadi ajudan Jokowi saat masih berpangkat kolonel.
Setelah bertugas sebagai ajudan presiden, Widi kemudian mengemban jabatan sebagai Komandan Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) III/Siliwangi. Tak berselang lama, ia diangkat menjadi Komandan Resor Militer/Danrem 074/Warastratama pada 2017.
Pada 2018, Widi berhasil pecah bintang dengan menyandang pangkat Brigjen. Kala itu, ia diangkat menjadi Danrem 091/Aji Surya Natakesuma. Pada 2020, Widi dimutasi menjadi Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) IV/Diponegoro.
Tidak lama setelahnya, ia naik pangkat menjadi Mayor Jenderal (Mayjen) pada tahun 2022. Widi kemudian diutus untuk mengisi kursi jabatan sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Di tahun yang sama, ia kemudian dipercaya untuk menduduki posisi sebagai Panglima Kodam (Pangdam) IV/Diponegoro menggantikan Letjen TNI Rudianto. Puncak karier Widi sebagai prajurit TNI berhasil diraihnya ketika ia akhirnya naik pangkat menjadi Letjen pada 2023.
Harta Kekayaan Letjen Widi Prasetijono
Selama bertugas di TNI AD, Letjen Widi Prasetijono terpantau dua kali melaporkan harta kekayaannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yang paling terbaru saat ia menjabat sebagai Dankodiklatad pada 13 Februari 2024.
Dalam laporan tersebut, total harta kekayaan Widi mencapai Rp 16,4 miliar, tepatnya Rp 16.483.000.000. Ia memiliki 7 bidang tanah dan bangunan di Semarang, Boyolali, Surakarta, dan Tangerang Selatan senilai Rp 13,7 miliar.
Di garasinya, ada tiga unit mobil dengan kendaraan yang paling mahal adalah Toyota Alphard dengan nilai Rp 900 juta. Aset lain yang dipunyainya adalah kas dan setara kas sebesar Rp 1,18 miliar serta tanpa utang sepeser pun.
Kasus Pencucian Uang Jual Beli Lahan
Masih dari TribunJateng.com, kasus yang diduga menyeret Letjen Widi ini bermula saat jual beli tanah seluas 700 hektare seharga Rp 237 miliar. Pembelinya adalah PT Cilacap Segara Artha selaku BUMD Pemkab Cilacap, sedangkan penjualnya PT Rumpun Sari Antan.
PT Cilacap Segara Artha membayar lunas untuk mendapatkan tanah berstatus hak guna usaha (HGU). Usai membayar, ternyata tanah tersebut tidak bisa diserahkan karena ternyata di bawah kuasa Kodam IV/Diponegoro.
Kasus ini kemudian didalami Kejati Jateng dengan hasil 3 orang sudah diadili, mereka adalah:
- Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Cilacap, Awaluddin Muuri
- Mantan Komisaris PT Cilacap Segara Artha, Iskandar Zulkarnain
- Mantan Direktur PT Rumpun Sari Antan, Andhi Nur Huda.
Pedalaman kasus terus dilakukan hingga muncul nama praktisi pengobatan tradisional Ahmad Yazid (AY) alias Gus Yazid Basayban. Ia diduga menerima uang Rp20 miliar dari kerabat Letjen Widi Prasetijono.
Pada Rabu (24/12/2025) kemarin, Kejati Jateng menetapkan Gus Yazid sebagai tersangka dan resmi menahannya. Kasi Penyidikan Bidang Pidana Khusus Kejati Jateng, Eri Wibowo, mengatakan aliran dana tersebut diterima langsung oleh tersangka tanpa melalui perantara.
“Kita tunggu fakta persidangan (apakah ada tersangka lain),” kata Eri, Jumat (26/12/2025).
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”











