My WordPress Blog
Bisnis  

Banking Stocks Diperkirakan Bangkit pada 2026, Ini Penyebabnya



JAKARTA,

Pada penutupan tahun 2025, sejumlah saham bank besar atau big banks terlihat menguat. Beberapa saham bank yang mencatatkan pergerakan positif antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Namun, berbeda dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang mencatatkan penurunan pada kinerja sahamnya.

Saham BBCA ditutup menguat 0,62 persen ke level Rp 8.075. Dalam sepekan, saham ini juga menguat 0,62 persen, namun dalam setahun terakhir sahamnya anjlok 16,54 persen. Saham BMRI ditutup menguat di level Rp 5.100 atau naik 0,49 persen. Selama sepekan, sahamnya naik tipis 0,99 persen, tetapi dalam setahun terakhir sahamnya masih susut 10,53 persen. Sementara itu, saham BBNI ditutup menguat 2,58 persen ke level Rp 4.370 per saham. Dalam sepekan, saham ini juga naik 2,34 persen. Meski demikian, selama setahun terakhir saham BBNI hanya naik tipis 0,46 persen.

Berbeda dengan kinerja saham big banks lainnya, saham BBRI ditutup turun 3,17 persen ke level Rp 3.660 dan selama sepekan sahamnya juga susut 2,92 persen. Dalam setahun terakhir, saham BBRI turun 10,29 persen.

Setelah melewati periode lesu sepanjang setahun terakhir, saham perbankan diproyeksikan memasuki fase pemulihan pada 2026. Sejumlah analis menilai bahwa penurunan suku bunga akan menjadi sentimen utama yang mendorong perbaikan kinerja saham maupun fundamental bank tahun 2026.

Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyebutkan bahwa 2026 berpotensi menjadi fase turnaround bagi saham perbankan. Sepanjang 2025, tekanan kinerja saham bank terutama disebabkan oleh tingginya cost of fund (CoF) yang menekan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM).

“Sentimen utama tahun depan adalah penurunan suku bunga. Ketika suku bunga turun, NIM bank justru bisa naik karena penurunan CoF biasanya lebih cepat dibandingkan penyesuaian bunga kredit,” ujar Wafi kepada Kontan, Rabu (24/12/2025).

Dari sisi fundamental, Wafi menilai industri perbankan akan bergeser dari fase bertahan menuju ekspansi. Penurunan suku bunga berpotensi mendorong permintaan kredit baru, sekaligus memperbaiki kualitas aset. Dengan membaiknya kualitas kredit, beban provisi diperkirakan menurun sehingga laba bersih bank berpeluang tumbuh lebih signifikan.

Sejalan dengan itu, Wafi menilai strategi investasi yang dapat dilakukan adalah front-running atau masuk lebih awal sebelum sentimen penurunan suku bunga benar-benar terealisasi. “Investor bisa mulai akumulasi sekarang ketika valuasi masih diskon. Jangan menunggu BI rate turun, karena pasar biasanya bergerak lebih dulu sebelum berita resmi keluar,” jelasnya.

Untuk saham bank besar, Wafi merekomendasikan target harga saham bank di 2026 yakni BBRI di level Rp 5.800, BMRI Rp 7.800, BBCA Rp 11.200, dan BBNI Rp 5.200.

Sementara itu, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, juga melihat 2026 sebagai tahun pemulihan bagi sektor perbankan. Ia memperkirakan adanya perbaikan penyaluran kredit, likuiditas yang lebih longgar, serta suku bunga yang cenderung stabil, sehingga mendukung peningkatan profitabilitas bank.

“Harapannya juga ada dukungan pemerintah dalam penyaluran kredit, terutama ke sektor-sektor produktif. Dengan kondisi tersebut, NIM bank bisa tetap terjaga di tengah pertumbuhan kredit yang moderat hingga agresif,” ujar Indy.

Indy merekomendasikan investor untuk melakukan akumulasi bertahap dengan horizon jangka panjang, khususnya ketika harga saham masih berada di level rendah. Adapun target harga jangka panjang yang ia tetapkan antara lain BBCA di level Rp 9.800, BBRI Rp 5.025, dan BMRI Rp 5.200.

Dengan kombinasi sentimen penurunan suku bunga, perbaikan fundamental, serta valuasi yang relatif menarik, sektor perbankan dinilai masih menjadi salah satu pilihan utama bagi investor pada 2026.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *