My WordPress Blog

Sawit Sebabkan Krisis Air, Penyakit, dan Kehilangan Hutan di Guatemala



Di bawah bayang-bayang pohon sawit yang menjulang tinggi, sebuah komunitas kecil di Guatemala berjuang memulihkan hutan, air, dan harapan yang perlahan menghilang.

Saat Dolores Mucu pertama kali tiba di Carolina, sebuah desa di Provinsi Alta Verapaz yang beriklim tropis, wilayah itu masih diselimuti hutan hujan lebat. “Dulu ada sungai yang mengalir melewati pusat desa,” kenang Mucu (66) pada kondisi 40 tahun silam. Kala itu, aliran sungai kecil dan anak-anak sungai tersebar di sekitar Carolina. Airnya dimanfaatkan warga untuk mencuci dan menangkap ikan. Namun kini, sungai tersebut telah mengering. Lahan di sekitarnya dipenuhi pohon kelapa sawit Afrika.

Pohon kelapa sawit Afrika dewasa dapat tumbuh lebih dari 18 meter, berakar sangat dalam, dan menghasilkan sekitar 22 kilogram buah setiap beberapa minggu. Dari buah itulah dihasilkan minyak sawit mentah berwarna merah yang kini banyak digunakan dalam makanan olahan, kosmetik, hingga biodiesel.

Sawit, ekspansi, dan hilangnya hutan

Didorong tingginya permintaan global, Guatemala kini menjadi salah satu produsen minyak sawit dengan pertumbuhan tercepat di luar Asia Tenggara. Perkebunan sawit di Carolina mulai beroperasi pada 2011, awalnya mencakup sekitar 14 hektar lahan yang dibeli dari negara. Warga setempat menyebut perusahaan menawarkan pekerjaan bergaji rendah dengan kondisi kerja yang buruk.

Dalam kurun 5 tahun, perkebunan tersebut meluas hingga mencaplok tanah milik komunitas warga Carolina, menebangi dan membakar hutan hujan serta lahan gambut di bawahnya. Hilangnya hutan lembap tropis berdampak besar terhadap iklim. Hutan jenis ini menyimpan sekitar seperempat emisi karbon dunia, mengatur sistem cuaca yang memengaruhi curah hujan, serta menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati yang tinggi.

Setelah bertahun-tahun melakukan kampanye dan protes, warga Carolina akhirnya berhasil kembali menempati sebagian kecil lahan yang direbut dari perkebunan sawit. “Anak-anak kami butuh tempat tinggal. Itulah sebabnya kami memperjuangkan tanah itu. Kalau tidak, mereka akan menanam sawit lebih banyak lagi,” jelas Elizabeth Chemax (57).

Sumur mengering, penyakit meningkat

Seiring bertambahnya jumlah pohon sawit, warga mulai mengalami krisis air. Hampir setiap rumah di Carolina memiliki sumur kecil, tetapi kini sumur-sumur itu kerap mengering selama musim panas yang semakin panjang. Chemax menyebut sumur yang berada dekat pohon sawit berakar dalam paling terdampak. Dalam dua tahun terakhir, beberapa keluarga bahkan hidup tanpa air hingga hampir 3 pekan saat musim panas.

Ketika itu terjadi, warga terpaksa pergi ke tempat lain untuk mandi dan mencuci pakaian. “Saya hampir meninggal tahun lalu,” tutur Chemax, mengenang pengalamannya nyaris tenggelam saat mencuci di sungai asing pada Juni 2024. “Kami tidak tahu seberapa dalam airnya atau di mana arusnya kuat. Dari luar terlihat tenang, tapi sungainya berbahaya.”

Menurut warga, kekurangan air dan perubahan iklim setempat juga memicu peningkatan lalat, hama, serta penyakit kulit. “Banyak anak-anak jatuh sakit,” kata Chemax. “Beberapa bulan terakhir, demam tinggi sering terjadi, disertai batuk dan sakit perut.”

Tanah rusak dan pertanian tertekan

Ekspansi perkebunan sawit juga beriringan dengan penurunan kualitas tanah. David Gaveau, pendiri TheTreeMap, menjelaskan bahwa sebagian besar sawit, baik milik perusahaan besar maupun petani kecil, ditanam dalam sistem monokultur intensif. “Sistem ini sangat bergantung pada pupuk dan pestisida, yang merusak tanah, mencemari air, serta meningkatkan kerentanan terhadap hama, jamur mematikan, dan kekeringan,” ujarnya.

Chemax merasakan dampaknya langsung. “Saat musim panas datang, tanah menjadi sangat keras. Kami tidak bisa menanam apa pun. Jagung hampir tidak tumbuh. Kalau pakai pupuk, mungkin panennya sedikit; kalau tidak, sama sekali tidak ada,” ucapnya. Namun pupuk kimia terlalu mahal bagi banyak petani. Di desa Pecjaba yang berdekatan, organisasi non-pemerintah asal Irlandia, Christian Aid, bekerja sama dengan mitra lokal Congcoop untuk melatih petani membuat pupuk organik sendiri.

Regulasi Uni Eropa dan celah pengawasan

Sebagai bagian dari upaya global mengurangi deforestasi, Uni Eropa, yang merupakan importir minyak sawit terbesar ketiga di dunia, mengesahkan Regulasi Produk Bebas Deforestasi (EUDR) pada 2023. Setelah sempat tertunda, aturan ini mulai berlaku pada akhir 2025. Regulasi tersebut mewajibkan eksportir dan importir minyak sawit ke Uni Eropa membuktikan bahwa produk mereka tidak berasal dari lahan yang baru ditebangi hutan. Jika satu saja sumber minyak sawit tidak tersertifikasi, seluruh pengiriman bisa ditolak.

Namun, lemahnya pengawasan rantai pasok dan insentif Uni Eropa terhadap biofuel membuka celah. Beberapa operator diduga melabeli minyak sawit sebagai minyak jelantah agar dapat diimpor sebagai biofuel tanpa tunduk pada EUDR. “Skema sertifikasi bahan baku biofuel ini tidak diawasi lembaga publik mana pun. Sistemnya berbasis kepercayaan, tapi tidak ada yang benar-benar memeriksa,” kata James Cogan, penasihat industri dan kebijakan di perusahaan energi terbarukan Irlandia, Clonbio.

Siapa yang untung, siapa yang rugi

Sebagian kritik menyebut EUDR berpotensi membebani petani kecil karena biaya kepatuhan yang mahal. Dokumen resmi Uni Eropa memang menyatakan petani dapat memetakan lahannya dengan ponsel dan aplikasi gratis, tetapi banyak petani tidak memiliki dokumen kepemilikan tanah. Profesor ilmu sosial dari National University of Singapore, Tania Li, menilai kebijakan seharusnya mendorong model sawit berbasis petani kecil, bukan perkebunan korporasi. “Petani kecil menyesuaikan pola tanam dengan tanah dan iklim. Saat iklim berubah, mereka beradaptasi karena harus bertahan hidup,” kata Li kepada jurnalis.

Gaveau menambahkan, riset terbaru menunjukkan konsep “pulau hutan”, yakni petak-petak pohon asli di tengah perkebunan monokultur, dapat meningkatkan keanekaragaman hayati dan kualitas tanah. “Agroforestri sawit seperti ini bisa membuat minyak sawit benar-benar berkelanjutan, secara ekologis maupun ekonomi,” ujarnya. Namun, Li menegaskan akar persoalan bukan pada tanamannya. “Masalah utamanya bukan sawitnya, melainkan siapa yang menanam, di atas tanah siapa, dengan dasar apa, siapa yang untung, dan siapa yang dirugikan. Tidak ada sejarah keberhasilan masyarakat dengan model perkebunan besar,” ucapnya.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *