My WordPress Blog
Bisnis  

Ingin bukumu terbit tahun ini?



Apakah menulis dan menerbitkan buku merupakan sebuah pencapaian? Bagi mereka yang baru sekali menulis buku, tentu ini adalah momen penting yang layak dirayakan. Namun bagi penulis yang sudah beberapa kali menerbitkan buku, setiap tahun menjadi perencanaan yang penuh makna. Buku apa lagi yang akan ditulis dan diterbitkan tahun ini?

Sebagai penulis atau seseorang yang ingin menulis buku, tetaplah optimis bahwa dunia buku Indonesia terus berkembang. Jangan terlalu terpengaruh oleh anggapan suramnya industri buku. Indikator utama mengapa buku (terutama buku cetak) masih memiliki peminat dan pembaca adalah kehadiran buku-buku best seller nasional yang mencapai penjualan hingga puluhan hingga ratusan ribu eksemplar dalam setahun. Setiap tahun selalu ada buku seperti itu. Yang terlihat jelas, yang tidak terlihat mungkin lebih banyak lagi.

Beberapa riset dan laporan tahun lalu menunjukkan adanya kecenderungan Gen-Z kembali membaca buku cetak. Anak saya, yang berusia 21 tahun, kemarin merayakan ulang tahunnya dengan makan-makan bersama keluarga. Setelah itu, ia meminta diantar ke toko buku impor. Selera bacanya telah saya amati sejak lama—tidak seperti anak kebanyakan. Kali ini, ia memilih buku The Fall karya Albert Camus. Harganya lumayan mahal, yaitu Rp275.000 untuk buku tipis. Ha-ha-ha.

Gen-Z seperti anak saya semakin banyak yang membaca buku cetak. Menulis dan menerbitkan buku juga menjadi kebahagiaan bagi mereka karena turut menciptakan generasi baru pembaca buku—generasi yang sering digambarkan lebih akrab dengan teknologi digital.

Meskipun industri buku Indonesia terkesan stagnan, terutama pasca-COVID-19, produksi judul buku terus meningkat. Pelacakan melalui pengurusan ISBN buku nasional menunjukkan peningkatan ajuan ISBN hingga lebih dari 50.000 judul buku per tahun.

Data tersebut menunjukkan paradoks dunia perbukuan Indonesia. Mengapa banyak judul buku diproduksi, tetapi angka penjualan buku tidak signifikan? Ada hal-hal yang tidak terdeteksi, seperti penerbitan buku untuk pendidikan tinggi yang sering tidak memperhatikan penjualan. Penerbitan mandiri (self-publisher) juga tidak terdeteksi dari segi penjualan ketika mereka memasarkan buku dengan cara-cara inkonvensional, seperti menggunakan grup WA. Bahkan, penjualan melalui media sosial mampu menghasilkan ribuan eksemplar.

Riset perbukuan kita minim, begitu pula data perbukuan dari kalangan perbukuan sendiri. Apa boleh buat? Tidak ada yang mencuri baut perbukuan di Indonesia atau lepas sendiri?

Namun, saya tidak ingin membahas karut-marut perbukuan di Indonesia hingga muncul usulan membuat UU baru bertajuk UU Literasi demi mengimbangi atau menggantikan UU Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Alasan muncul kembali inisiatif DPR-RI dari Komisi XIII itu karena industri perbukuan Indonesia tak kunjung membaik. Alih-alih merevisi UU sebelumnya, DPR-RI lebih memilih membuat UU baru.

Sebagai penulis buku dan editor sampai sekarang, saya ingin berbagi informasi jika engkau ingin menerbitkan buku tahun ini. Kita sama-sama berada di hulu penerbitan buku, sedangkan masyarakat pembaca berada pada hilir penerbitan buku. Keduanya sama-sama penting. Namun, saya tidak ingin mengidekan adanya program hilirisasi buku—apaan tuh?

Jalan menerbitkan buku memang tidak sebanyak jalan menuju Roma, tetapi engkau dapat memilih salah satunya dari sisi penerbitan. Ada enam pilihan yang saya bagikan di sini:

1. Penerbitan Mandiri (Self-Publishing)

Opsi ini sering dirancukan dengan penerbitan berbayar. Penerbit mandiri artinya penerbit milik penulis sendiri, termasuk apakah berbadan usaha/berbadan hukum atau tidak. Saat ini, perseorangan dapat mendirikan usaha sendiri dan mendapatkan NIB (nomor induk berusaha) dengan nama badan usaha perseorangan atau PT perseorangan. Intinya, penerbitan mandiri adalah penerbitan yang didirikan dan dikelola oleh penulis untuk hanya menerbitkan karyanya sendiri.

Itu sebabnya penulis yang memilih opsi self-publishing disarankan menguasai bisnis dan bisnis itu diarahkan untuk jangka panjang. Jadi, jangan buat penerbit mandiri terus hanya menerbitkan buku sekali dan setelah itu mati. Penerbitan mandiri juga mengharuskan penulis memiliki modal uang yang cukup, minimal untuk biaya editorial. Jika buku ingin dicetak, siapkan biaya cetak yang sekarang justru lebih efisien. Dengan teknologi cetak POD (print on demand), engkau dapat mencetak 1–100 eksemplar dengan biaya hemat.

2. Penerbitan Berbayar (Vanity Publishing)

Mereka kini muncul banyak sekali. Umumnya menawarkan jasa penerbitan sekaligus percetakan. Saya menengarai kebanyakan dari mereka awalnya adalah pencetak yang kemudian mendirikan penerbit agar mesin cetaknya bisa “diberi makan”. Kebanyakan berasal dari Jawa Tengah sebagai UMKM.

Akan tetapi, tidak semua memiliki percetakan seperti itu. Ada juga yang murni menjalankan bisnis penerbitan lalu bekerja sama dengan percetakan. Penerbitan berbayar mengharuskan penulis membayar sejumlah biaya tertentu dengan iming-iming jasa pengurusan ISBN, pengesahan anggota Ikapi, dan penangangan editorial. Penulis membayar, tetapi kontrol penerbitan tidak ada di penulis, termasuk kontrol penjualan.

Jadi, ingat ini bukan self-publisher, melainkan adalah vanity publisher. Bukan hanya buku engkau yang diterbitkan, melainkan buku karya orang lain juga diterima.

3. Penerbitan Independen/Mikro (Independent Publishing)

Penerbitan independen termasuk ke dalam penerbitan konvensional. Para penulis mengirimkan naskah kepada mereka dan mereka menerimanya melalui kurasi. Penerbit independen lingkup penerbitannya kecil dan menengah, biasanya model UMKM, tetapi mereka membiayai sendiri penerbitannya dan membayar royalti.

Penerbit independen biasanya terspesialisasi pada jenis penerbitan tertentu, seperti penerbitan buku sejarah, penerbitan novel sastra, penerbitan buku anak, dan penerbitan buku religi. Ada banyak sekali penerbit independen/penerbit mikro di Indonesia yang paling tidak menerbitkan 5–20 judul buku per tahun. Pendiri penerbit independen biasanya juga dari kalangan penulis/sastrawan atau editor.

4. Penerbitan Mayor (Mayor Publishing)

Namanya saja mayor, pastilah penerbit besar. Penerbitan mayor di Indonesia tidaklah banyak dengan ciri penerbit yang merupakan grup penerbitan—memiliki beberapa lini penerbitan (imprint), bahkan beberapa di antaranya merupakan unit bisnis tersendiri. Kelompok Kompas Gramedia, Grup Agromedia, Grup Mizan, Grup Penebar Swadaya, Penerbit Erlangga, Penerbit Yudhistira, Penerbit Intan Pariwara, Penerbit Tiga Serangkai, Penerbit Bumi Aksara, Penerbit Yayasan Obor Indonesia, Penerbit Raja Grafindo, Penerbit Gema Insani Press adalah di antara nama-nama penerbit mayor di Indonesia. Mereka pada umumnya terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Penerbitan mayor mampu mengelola penerbitan 50 judul hingga lebih dari seratus judul buku per tahun. Mereka memberlakukan kurasi ketat terhadap naskah sehingga naskah dari penulis paling cepat diproses dalam dua bulan—setelah diajukan.

Namun, sulitnya pembiayaan untuk judul-judul buku tertentu menyebabkan beberapa penerbit mayor juga menggunakan model bisnis penerbitan berbayar (vanity publisher). Naskah Anda meskipun dari segi pasar kurang prospektif, tetap diterbitkan asalkan Anda membeli lebih dari setengah jumlah tiras. Misalnya, dari tiras 3.000 eksemplar, Anda harus membeli 2.000 eksemplar—impas biaya produksi dan ada sedikit profit.

Jadi, jangan heran jika ada teman penulis tiba-tiba naskahnya diterbitkan di penerbit mayor dalam waktu yang sesingkat-singkatnya—padahal naskahnya biasa-biasa saja. Namanya juga membayar, pasti segera diproses.

5. Penerbitan Universitas (University Press)

Penerbit jenis ini berafiliasi pada satu kampus yang umumnya menerbitkan buku karya civitas academica mereka. Penerbit universitas berkonsentrasi pada penerbitan buku-buku perguruan tinggi (terkadang juga jurnal ilmiah), seperti buku ajar, buku teks, monografi riset, dan buku referensi. Beberapa penerbit universitas juga menggunakan model bisnis penerbitan berbayar. Dosen/akademisi membayar maka diterbitkan.

Namun, banyak penerbit universitas mendapatkan subsidi dari kampus melalui hibah/insentif menulis buku kepada para dosen. Mereka juga memberlakukan kurasi terhadap karya-karya dosen agar mendapatkan hibah/insentif penulisan buku. Penerbitan universitas termasuk unit bisnis kampus sehingga wajar jika ia juga mencari profit dari penjualan buku. Pasar yang sudah jelas (captive market), yakni mahasiswa dan alumni, cenderung menjadikan penerbit universitas sebagai penerbit spesialis. Jarang penerbit universitas menerbitkan buku-buku secara umum (trade book).

6. Penerbitan Pemerintah (Government Publisher)

Pemerintah juga memiliki penerbit. Sebut saja seperti Penerbit BRIN dan Pusat Perbukuan. Mereka juga mengakuisisi naskah dari para penulis eksternal melalui sayembara atau kurasi. Penerbit BRIN memiliki program Akuisisi Pengetahuan Lokal dan Pusat Perbukuan memiliki program Kurasi Naskah SIBI. Demikian pula Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah beberapa tahun ini menerbitkan buku bacaan literasi (untuk anak dan remaja) melalui sayembara, baik di pusat maupun daerah.

Jika ingin karya engkau diterbitkan oleh penerbit pemerintah, cermati dan ikuti program akuisisi mereka, baik melalui kurasi maupun sayembara. Namun, karyamu tidak akan dijual bebas, tetapi digratiskan. Imbalan yang diterima hanya berupa honor jual putus. Hak cipta dialihkan ke pemerintah.


Keenam opsi itu dapat diklasifikasikan sebagai jalan penerbitan berikut ini:

– Penulis mengeluarkan modal sendiri dan mengelolanya sendiri.

– Penulis mengeluarkan modal dan mengalihdayakan pengelolaannya kepada penerbit berbayar.

– Penulis mengajukan naskah melalui kurasi kepada penerbit konvensional atau penerbit pemerintah tanpa mengeluarkan modal penerbitan (termasuk percetakan).

Jika memilih opsi melalui kurasi, tentu naskah milik engkau harus memenuhi kriteria layak terbit di redaksi penerbit buku. Di situ ada para editor yang memegang kunci indikator kelayakan terbit. Begitu pula jika engkau ingin lolos sayembara penulisan buku, penuhi kriteria naskah layak juara. Memang tidak mudah memilih opsi penerbitan dengan kurasi atau penilaian itu.

Maka dari itu, ada penulis yang memilih opsi menerbitkan sendiri atau membayar agar diterbitkan. Sah-sah saja opsi ini dipilih karena tidak semua penerbit (baca: editor) memiliki intuisi yang tajam untuk meloloskan sebuah naskah potensial. Menurut dia tidak potensial, tetapi engkau yakin sekali pasarnya ada. Terbitkanlah dengan keyakinanmu itu tentu dengan persiapan.

Jika engkau benar-benar menggunakan opsi penerbitan mandiri, jangan lupa untuk mengelola aspek desain dan spesifikasi penerbitan. Spesifikasi penerbitan merupakan informasi awal untuk pencetakan, yaitu:
* ukuran buku (biasanya dalam cm);
* tebal buku (total halaman isi buku prelims + isi + postlims);
* jenis kertas isi (contoh: HVS, Bookpaper) berikut gramaturnya, misal 70 gsm, 80 gsm, 100 gsm;
* jenis kerta kover (contoh: Artpaper, Ivory) berikut gramaturnya, misalnya 260 gsm;
* warna cetak isi, misalnya B/W atau fullcolor;
* warna cetak kover;
* finishing kover, misalnya UV vernis, laminating doop; dan
* jenis jilid, misalnya perfect binding (jilid lem).

Sepengalaman saya untuk konteks kini, menerbitkan buku secara mandiri cukup dengan biaya Rp3 juta, bahkan kurang dari itu kalau jumlah tirasnya kecil (buku cetak). Saya menulis sendiri, mengerjakan desain isi sendiri (dengan InDesign), desain kover juga sendiri (dengan Canva), dan memasarkan juga sendiri melalui situs web serta event pelatihan.

Untuk buku elektronik malah minus biaya cetak. Saya memasarkannya melalui platform Google Play—masih sebagian kecil.

Jika engkau ingin bukumu terbit tahun ini, bukan sekadar omon-omon, segera rencanakan awal tahun ini. Janganlah dinanti-nanti meskipun Belanda masih jauh.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *