My WordPress Blog
Budaya  

Mengunjungi Saung Udjo, Menikmati Nyanyian Angklung

Pengalaman Berkunjung ke Saung Angklung Udjo

Salah satu aktivitas liburan yang sudah direncanakan sejak jauh hari di masa liburan sekolah ini adalah berkunjung ke Saung Angklung Udjo (SAU). Tempat ini sudah terkenal hingga mancanegara, sebagai salah satu tempat yang melestarikan angklung sebagai warisan leluhur. Banyak turis asing dan juga turis domestik yang datang ke SAU ini.

Keberadaan SAU sudah terkenal sejak tahun 1980-an. Walaupun sebenarnya Saung Angklung ini sudah didirikan sejak tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dengan tujuan untuk melestarikan seni tradisional Sunda. SAU makin maju dan berkembang di tahun 1990-an hingga kini. Adanya SAU ini menopang kegiatan wisata berbasis budaya lokal di Kota Bandung.

SAU ini merupakan sebuah tempat yang memadukan pertunjukan dan pembelajaran angklung. Selain itu, di SAU juga terdapat workshop pembuatan angklung. SAU ini menjadi tempat pendidikan bagi orang-orang yang ingin belajar kesenian Sunda dengan menggunakan alat musik angklung.

Di minggu lalu, keluarga kami berkunjung ke SAU. Kunjungan ini dalam rangka liburan. Anak-anak yang pada dasarnya senang musik, sangat antusias terhadap kunjungan tersebut. Si Teteh yang penggemar berat lagu-lagu Queen dan the Beatles, sudah sejak dua hari sebelumnya mengingatkan jadwal kunjungan ini. Si bungsu yang kebetulan ikut kegiatan ekstrakurikuler angklung di sekolahnya, tampak sudah tidak sabar.

Sekilas tentang Angklung

Angklung terkenal sebagai alat musik dari daerah Jawa Barat. Nama Angklung berasal dari Bahasa Sunda, yang berarti “angkleung-angkelungan.” Angklung terdiri dua kata. Ang – berarti nada. Klung berarti putus atau pecah. Makna angkleung-angkleungan sendiri secara bebas diartikan sebagai “kondisi melakukan aktivitas secara berulang-ulang dalam waktu yang lama dengan gerakan sama.”

Di masyarakat Sunda, dulu angklung dimainkan masyarakat Sunda dalam rangka kepercayaan untuk penghormatan kepada Nyi Sri Pohaci sebagai Dewi Kesuburan. Masyarakat berharap agar padi yang ditanam di sawah bisa tumbuh subur. Angklung dimainkan masyarakat untuk mengiringi syair mantra-mantra yang disampaikan kepada Nyi Sri Pohaci.

Di Jawa Barat, angklung ini banyak ditemui di Bandung dan Garut (angklung Badeng), Tasikmalaya (angklung Sered Balandongan), Bogor (angklung Gubrag) dan Sukabumi (angklung Dogdog Lojor), Ciamis (angklung Buncis) dan sebagainya. Angklung adalah alat musik tradisional yang terbuat dari rangkaian batang-batang bambu. Bambu yang biasa digunakan untuk membuat angklung adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen) serta bambu apus (awi tali) yang digunakan untuk mengikat rangkaian bambu-bambu tersebut.

Rangkaian bambu yang diikat menjadi satu rangkain itu berbentuk seperti pipa-pipa (tabung-tabung bambu) yang kemudian diikat dalam suatu bingkai. Bingkai rangkaian angklung ini terdiri dua, tiga dan empat batang (pipa) bambu yang membentuk susunan dua, tiga dan empat nada. Angklung bisa menghasilkan bunyi (resonansi suara) dengan cara digoyangkan ke kiri dan kanan. Angklung mengeluarkan bunyi karena adanya benturan antar badan pipa bambu dengan nada yang berulang. Angklung harus dimainkan minimal oleh tiga orang agar menghasilkan melodi yang indah untuk didengar. Dan angklung akan menjadi lebih megah suaranya jika dimainkan oleh banyak orang secara bersamaan.

Angklung ini diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan (Intangible Cultural Heritage of Humanity) pada 16 November 2010. Tanggal itu pun akhirnya ditetapkan sebagai Hari Angklung Sedunia. Pengakuan ini dikarenakan adanya upaya pelestarian sistematis secara turun temurun dalam melestarikan angklung sebagai warisan budaya leluhur masyarakat Sunda.

Angklung yang dikembangkan di SAU ini sendiri adalah jenis angklung dengan nada diatonis yang diciptakan pada tahun 1938 oleh Daeng Soetigna, guru dari Udjo. Sebelumnya angklung hanya bernada pentatonis. Dengan nada diatonis, angklung menghasilkan nada do-re-mi-fa-so-la-si-do, mirip seperti irama musik dari dunia barat. Sehingga angklung bisa menyenandungkan lagu-lagu internasional.

Akses ke Lokasi

Saung Angklung Udjo ini terletak tak jauh dari Terminal Cicaheum, sebuah terminal yang terkenal gara-gara sinetron Preman Pensiun. Terletak di Jalan Padasuka Nomor 118, Saung Angklung Ujdo ini mudah diakses dari segala arah. Karena dekat dengan terminal, para pengunjung bisa menggunakan angkutan umum yaitu bus kota (BK) dan angkutan kota (AK).

Jika naik BK dan AK, pengunjung bisa naik rute ke arah Terminal Cicaheum dan rute ke arah Ujung Berung. Banyak rute BK dan AK yang melalui rute-rute tersebut. Ongkos naik BK, jika bus DAMRI adalah Rp 7000 dan jika bus Trans Metro Jabar adalah Rp 4900. Untuk ongkos AK, cukup bervariasi antara Rp 5000 hingga Rp 8000, tergantung jauh dekat. Pengunjung nanti bisa berhenti di halteu dekat pertigaan Jalan Padasuka.

Di sekitar halteu, ada pangkalan ojek motor. Karena jaraknya masih sekitar 800 meter menuju ke SAU dari halteu tersebut, pengunjung bisa menggunakan ojek motor. Ongkosnya sekitar Rp 15.000. Sebetulnnya, bisa juga ditempuh dengan jalan kaki namun tidak disarankan karena tidak ada fasilitas trotoar pejalan kaki dan tidak ada pohon peneduh.

Akses yang lebih mudah adalah jika menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor. Di SAU disediakan tempat parkir yang sangat luas, bisa menampung berbagai jenis kendaraan termasuk bus besar untuk pengunjung yang datang berombongan. Keluarga kami datang ke SAU menggunakan 2 sepeda motor. Parkir kendaraan roda dua disediakan terpisah.

Suasana Saung

Perasaan nyaman dan tenang itulah yang pertama kali dirasakan saat memasuki SAU. Area parkir dan halaman terbuka yang luas, serta banyaknya pepohonan di sekeliling SAU, membuat udara terasa sejuk. Tanaman bambu mendominasi sekeliling SAU. Tanaman bambu itu menjulang tinggi. Daun dan batang bambu selalu berayun kiri kanan ketika angin berhembus.

Namun banyak juga pohon besar lainnya seperti Caringin dan Kiara Payung. Bambu dan pohon-pohon besar itu memberikan keteduhan dan kesejukan. Malah ada kesan jika berdiri di dekat rumpun bambu, kita seperti berada di kebun bambu (kebon awi). Keasrian tempat itu semakin lengkap dengan adanya kandang-kandang binatang peliharaan yaitu ayam dan burung. Suara kokok ayam dan siulan burung membuat suasana seperti berada di kampung.

Semua bangunan di SAU didominsi oleh bambu dan kayu. Dengan penataan lansekap bangunan yang rapi, saung-saung itu membuat nyaman para pengunjung untuk duduk bersantai sambil menikmati sejuknya udara. Di beberapa sudut, banyak ditempatkan pot-pot tanaman beraneka macam seperti tanaman sayuran, buah-buahan dan berbagai bunga.

Tiket, Jadwal Pertunjukan dan Fasilitas SAU

Kedatangan kami disambut oleh seorang bapak berpakaian pangsi dan ikat Sunda. Bapak tersebut mengarahkan kami ke loket pembelian tiket masuk. Harga tiket masuk untuk warga negara Indonesia dibandrol sebesar Rp 85.000 per orang. Pembayaran tiket bisa dilakukan secara tunai dan non tunai, termasuk juga dengan kartu kredit. Sebuah harga yang membuat Hemat Biaya Liburan.

Dengan harga tiket sebesar itu, kami berhak untuk melihat pertunjukan selama satu setengah jam, mendapat souvenir angklung kecil dan juga mendapat makanan minuman selamat datang. Bapak tadi mengarahkan ke tempat sajian makanan dan minuman di depan loket tiket masuk. Minuman yang disajikan adalah air putih dan jus melon. Anak-anak mengambil jus dan air putih. Sedangkan saya dan istri mengambil makanan seperti kecimpring, keripik ubi ungu dan renginang.

Pertunjukan masih berlangsung satu jam lagi. Kami hendak menonton jadwal pertunjukan di pagi hari yaitu jam 10 hingga jam 11.30. Di hari-hari biasa, pertunjukan di SAU ini biasanya dilaksanakan satu kali saja yaitu di sore hari sekitar jam 15 – 16.30. Namun untuk di musim liburan, pertunjukan menjadi tiga kali, yaitu ditambah jadwal pada jam 13 hingga jam 14.30.

Sambil menunggu waktu pertunjukan tiba, si bapak tadi bercerita mengenai sejarah angklung dan proses perjalanan perkembangan SAU. Beliau bercerita mengenai pasang naik dan pasang surut perjuangan SAU dalam melestarikan angklung ini. Beliau terlihat bangga ketika bercerita SAU sering diundang ke luar negeri dalam berbagai event, termasuk salah satunya pembukaan Piala Dunia 2022 lalu di Qatar.

Fasilitas yang ada di SAU ini cukup komplit. Ruang pertunjukan utama sangat besar, bisa menampung pengunjung sebanyak 500 orang. Ruang pertunjukkannya sangat besar dan megah. Kursi untuk pengunjung berupa bangku-bangku panjang yang melingkar membentuk setengah lingkaran seperti huruf U. Ada 6 tingkatan kursi, dengan tingkat pertama berada paling dekat dengan panggung lantai panggung pertunjukkan.

Di bagian belakang ruang pertunjukan, terdapat beberapa saung-saung kecil yang bisa dipergunakan pengunjung. Ada juga ruang pertemuan yang bisa menampung 100 orang. Bisa disewa untuk acara keluarga dan acara kantor. Di samping ruang pertemuan, terdapat mushola dan juga toilet untuk umum dengan bentuk bangunan dari bambu seperti di kampung.

Lima belas menit sebelum pertunjukan, kami juga mendatangi workshop pembuatan angklung. Di saat itu, ada contoh peragaan pembuatan angklung. Seorang bapak sedang meraut batang bambu dengan sebilah pisau raut. Beliau mempersilahkan kami untuk memegang sebatang bambu yang sudah diraut, lalu beliau memegang bambu lainnya. Bambu itu dipukul dan ternyata bambu yang saya pegang menimbulkan suara. Beliau bilang itulah resonansi bunyi yang ditimbulkan bambu.

Di belakang workshop, ada cafe yang menjual makanan dan minuman ringan. Cafe tersebut didesain seperti warung-warung tradisional. Di dekat cafe ada restoran dengan bangunan dari bambu dan kayu. Kami tidak mendatangi cafe dan restoran tersebut. Namun informasi yang kami dapatkan, sajian makanan dan minuman di cafe dan restoran itu adalah sajian khas Sunda.

Fasiltas lainnya adalah ruangan penjualan souvenir. Anak-anak saya membeli gantungan kunci dan si Teteh juga membeli si Cepot- wayang golek ukuran kecil. Ada banyak souvenir yang dijual, mulai dari angklung, kaos, gelang, kalung, tas kecil, wayang golek dan sebagainya. Angklung merupakan souvenir yang paling laris. Saat itu harganya dibandrol Rp 35.000, sedang diskon karena harga normalnya Rp 50.000.

Jalannya Pertunjukan

Pertunjukan bermain angklung secara orkestra massal adalah menu utama dari pertunjukan di SAU ini tapi disajikan di 30 menit terakhir. Acara pertunjukan pagi dimulai jam 10 sampai 11.30 siang. Lima menit sebelum pertunjukan dibuka, pihak SAU mengumumkan dan mengarahkan para pengunjung untuk segera mencari tempat duduk. Duduknya bebas bisa dimana saja. Namun kami memilih tempat duduk paling atas agar lebih leluasa melihat semua area pertunjukan.

Pertunjukan dibuka dengan sambutan dan dilanjutkan dengan menyanyi bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya. Selanjutnya, pembawa acara memperkenalkan diri dan menyapa secara umum asal muasal pengunjung yang datang pada saat itu. Para pengunjung yang datang saat itu adalah rombongan anak sekolah dari Jakarta, rombongan wisata dari Yogya dan rombongan keluarga besar dari Surabaya. Pengunjung dari Bandung, hanya keluarga saya sendiri. Dan ada satu turis asing dari Jerman yang ditemani orang Indonesia.

Pertunjukan pertama dimulai dengan atraksi wayang golek. Pembaca acara menceritakan sejarah singkat wayang golek. Dalang hanya memainkan lakon perkelahian Hanoman dengan raksasa dalam cerita Ramayana. Atraksi wayang golek ini sebentar saja, sekitar lima belas menit.

Pertunjukan lainnya adalah Helaran, yang artinya arak-arakan dan pawai yang memperlihatkan pesta dalam rangka perayaan syukur atau hasil panen. Helaran ini melibatkan banyak penari dan pemeran di lantai panggung. Helaran ini dikombinasikan dengan perayaan sunat seorang anak digotong di atas tandu sisingaan. Di atas panggung sendiri, para pemusik (gamelan, angklung dan alat musik modern) mengiringi musik pertunjukan helaran tersebut.

Seusai pertunjukan Helaran, dilanjutkan dengan pertunjukan tari Merak oleh enam orang wanita penari. Keenam penari tersebut, berkostum tarian dengan riasan baju dengan bentangan kain panjang di bawah kedua lengan. Kalau kain itu dibentangkan, seakan-akan mirip kepakan sayang burung merak. Sungguh indah.

Sesudah pertunjukan Tari Merak selesai, kemudian masuk anak-anak kecil dengan membawa angklung. Mereka memainkan angklung dengan lagu-lagu anak. Tapi pertunjukan angklung anak kecil ini sebentar saja, namun pesan yang disampaikan adalah bahwa SAU tetap konsisten melestarikan angklung dengan mendidik anak-anak belajar angklung. Jadi, jika anak-anak ada yang ingin belajar angklung di SAU, maka sudah ada jadwal rutin latihan angklung di setiap harinya yang disesuaikan dengan jadwal sekolah anak-anak.

Waktu berjalan tidak terasa. Akhirnya di jam 11 tepat, pertunjukan utama yaitu orkestra angklung pun dimulai. Setiap pengunjung diberikan satu buah angklung yang dibagikan oleh para penari dan pemeran pertunjukan sebelumnya. Ada yang mendapat angklung dengan angka 1, berarti Do. Angka selanjutnya berarti Re, Mi, Fa, So. La. Si. Do. Saya sendiri mendapat angklung bertanda angka 5, artinya bernada So.

Pembawa acara membimbing kami, cara memegang angklung yang benar. Tangan kiri memengang batang angklung di bagian tengah. Tangan kanan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan, agar timbul suara angklung. Selanjutnya, pembawa acara juga membimbing pengunjung, dengan menjelaskan kalau tangan pembawa acara dikepal ke bawah, maka yang harus dibunyikan adalah angklung berkode angka 1. Jadi, ada kode-kode tangan yang harus diikuti pengunjung sesuai nada yang akan dimainkan dalam sebuah lagu.

Lagu yang dimainkan dalam orkestra angklung ini, untuk lagu pertama adalah lagu Tanah Airku. Orkestras angklung ini dimainkan bersama-sama. Lagu ini berhasil dimainkan dengan baik. Dan semua pengunjung tampak begitu menikmati. Saya sendiri bersama keluarga sangat senang dengan bermain angklung bersama ini.

Lagu kedua yang dimainkan adalah lagu “Selalu Ada Di Nadimu,” lagu ini adalah soundtrack dari film Jumbo. Film animasi Indonesia yang mendunia. Lagu ini sebetulnya enak didengar. Iramanya lembut dan menyentuh. Namun karena masih baru, sepertinya tidak semua pengunjung cukup familiar dengan lagu ini.

Akhirnya lagu terakhir yang dibawakan dalam orkestra angklung itu adalah lagu Laskar Pelangi. Ini adalah lagu yang populer. Semua pengunjung memainkan angklungnya dengan baik. Bahkan mayoirtas pengunjung pun bersenandung lirik lagu Laskar Pelangi tersebut. Saya sendiri merasa senang dengan lagu tersebut, karena sangat pas sekali disenandungkan dengan angklung.

Sayangnya cuma 3 lagu saja yang dimainkan dalam main angklung secara bersama dalam orkestra angklung tersebut. Kalau saja lebih dari 3 lagu, pasti akan sangat menyenangkan. Namun tidak apa, yang penting dengan 3 lagu tersebut cukup membuat kita bergembira. Akhir pertunjukan adalah menari bersama. Setiap pengunjung, akan dijemput dari tempat duduknya oleh para personil SAU, lalu diajak ke lantai panggung untuk menari bersama.

Dari keluarga kami, yang turun menari bersama hanyalah si Teteh. Saya harus mengantar si bungsu ke kamar mandi. Sedangkan istri sibuk mengambil foto si Teteh. Seusai pertunjukan, saat berada di ruang souvenir, saya bertanya ke si Teteh. “Gimana Teh tadi pertunjukannya?” Dan jawab si Teteh, “Seru pisan Abah …. tapi sayang, coba lagu saat main orkestra angklung tadi itu, lagunya dari Queen. Bohemian Rhapsody, pasti keren banget tuh.”

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *