My WordPress Blog

Indeks PMI Manufaktur Asia Tenggara Desember 2025: Siapa Pemenangnya?



JAKARTA — Ekspansi sektor manufaktur Indonesia mengalami perlambatan pada Desember 2025, dengan Indeks Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur turun menjadi 51,2 dari sebelumnya 53,3. Meski mengalami penurunan, angka tersebut masih menunjukkan performa yang kuat, meskipun terjadi penurunan di akhir tahun.

Laporan S&P Global menyebutkan bahwa penurunan PMI manufaktur nasional disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kenaikan harga bahan baku, kelangkaan pasokan, dan keterlambatan pengiriman. Hal ini berdampak pada peningkatan biaya input secara signifikan, sehingga perusahaan mencoba untuk menyeimbangkan biaya tersebut dengan kenaikan harga produk secara moderat.

Meskipun demikian, pengusaha industri tetap mencatat adanya ekspansi dalam produksi, meskipun pertumbuhannya melambat secara marginal. Permintaan domestik tetap kuat, sehingga produsen terus meningkatkan jumlah tenaga kerja dan pembelian bahan baku. Selain itu, perusahaan juga meningkatkan stok inventaris guna menyesuaikan dengan kebutuhan pesanan saat ini dan mendatang, seiring meningkatnya kepercayaan bisnis ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Di samping situasi di Indonesia, PMI manufaktur negara-negara tetangga seperti Filipina, Malaysia, dan Taiwan juga menunjukkan pertumbuhan. Misalnya, aktivitas manufaktur Filipina tumbuh pada level 50,2 pada Desember, naik dari 47,4 pada November. Kondisi permintaan yang membaik terlihat dari meningkatnya pesanan baru, yang merupakan kenaikan pertama sejak Agustus. Perusahaan manufaktur Filipina kembali meningkatkan aktivitas pembelian bahan baku.

Pada saat yang sama, penurunan produksi dan jumlah tenaga kerja mulai melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Menjelang akhir tahun, pesanan baru kembali meningkat, sehingga mengakhiri periode kontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Meski laju kenaikannya masih terbatas, peningkatan ini merupakan yang paling kuat sejak April.

Namun, permintaan dari luar negeri terhadap produk manufaktur Filipina justru memburuk pada Desember. Penurunan pesanan ekspor baru menahan pemulihan total penjualan.

Sementara itu, PMI manufaktur Malaysia stagnan di level 50,1 pada Desember 2025. Ekonom S&P Global Market Intelligence, Maryam Baluch, menyatakan bahwa PMI manufaktur Malaysia tetap berada di zona positif hingga akhir 2025. Kondisi ini didukung oleh stabilnya produksi, di mana penurunan output pada Desember tergolong sangat kecil dan menjadi yang terlemah dalam empat bulan terakhir. Tekanan inflasi, baik dari sisi biaya input maupun harga jual, juga tercatat ringan dan hanya mengalami kenaikan tipis.

Peningkatan kondisi sektor manufaktur Malaysia terutama didorong oleh kenaikan jumlah tenaga kerja. Penyerapan pekerja meningkat untuk bulan kedua berturut-turut, dengan laju pertumbuhan yang termasuk salah satu yang tercepat dalam lebih dari tujuh tahun, seiring persiapan perusahaan menghadapi proyek baru. Namun, arus pesanan baru kembali melambat pada Desember. Perlambatan permintaan ini membuat perusahaan menahan aktivitas pembelian bahan baku, yang setelah lima bulan berturut-turut tumbuh, kini cenderung stagnan.

Lemahnya permintaan juga tercermin dari tekanan harga yang rendah, bahkan mendorong sebagian perusahaan memberikan diskon kepada pelanggan guna mendongkrak penjualan.

Di sisi lain, indeks PMI Manufaktur Vietnam versi S&P Global tercatat di level 53,0 pada Desember, sedikit turun dari 53,8 pada November, tapi tetap jauh di atas batas netral 50,0. Sektor manufaktur Vietnam menutup tahun 2025 dengan kondisi yang tetap solid dan berada di zona ekspansi. Pada Desember, produksi, pesanan baru, dan penyerapan tenaga kerja sama-sama meningkat.

Kenaikan produksi didorong oleh bertambahnya pesanan baru serta kondisi cuaca yang lebih baik, sehingga kapasitas produksi bisa dimaksimalkan. Perusahaan juga menambah tenaga kerja untuk mengurangi tumpukan pekerjaan. Namun, dampak badai dan banjir pada bulan-bulan sebelumnya masih terasa. Pasokan bahan baku masih terbatas, menyebabkan waktu pengiriman dari pemasok kembali memanjang. Kondisi ini mendorong kenaikan biaya input dengan laju tercepat dalam sekitar tiga setengah tahun terakhir.

Secara keseluruhan, sektor manufaktur Vietnam memasuki tahun 2026 dalam posisi yang positif. Pelaku industri tetap optimistis terhadap perolehan pesanan baru dan peluang peningkatan kapasitas produksi. S&P Global Market Intelligence memperkirakan produksi industri Vietnam akan tumbuh sekitar 6,7% pada 2026.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *