Azita Febriani: Menyeimbangkan Hobi Mendaki dengan Kehidupan Sebagai Ibu dan ASN
Azita Febriani, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) sekaligus ibu rumah tangga asal Banjarbaru, menunjukkan bahwa hobi mendaki gunung tidak pernah terkubur meskipun ia memiliki peran sebagai seorang ibu dan pekerja. Bahkan, perempuan berkacamata ini telah mendaki lebih dari 30 gunung, termasuk Everest Base Camp di Nepal. Dengan proyek “Menyulam Langit Nusantara”, ia berambisi untuk mendaki titik tertinggi di 38 provinsi Indonesia.
Dalam program Btalk bersama host Danti Ayu, Azita membahas berbagai hal, termasuk bagaimana ia mampu menjaga keseimbangan antara hobi mendaki dan perannya sebagai ibu serta ASN. Berikut wawancaranya:
Masih Aktif Mendaki?
Sampai sekarang, Azita masih sangat aktif dalam mendaki. Awalnya, ia mulai menyukai kegiatan ini saat masih duduk di bangku SMP pada tahun 1999. Gunung pertama yang ia daki adalah Gunung Burangrang. Namun, setelah itu ia sempat vakum cukup lama dan baru kembali aktif pada tahun 2014, tepat setelah ia menjadi seorang ibu.
Jumlah Gunung yang Telah Didaki
Hingga saat ini, Azita telah mendaki sekitar 30 gunung. Di Kalimantan, titik tertinggi yang ia daki adalah Gunung Halauhalau, yang ia kunjungi dua kali. Untuk target Seven Summits Indonesia (tujuh puncak tertinggi di tujuh pulau besar), ia hanya menyisakan Gunung Carstensz.
Proyek Pribadi: “Menyulam Langit Nusantara”
Saat ini, Azita sedang fokus pada proyek pribadinya yang diberi nama “Menyulam Langit Nusantara”. Misi utamanya adalah menyelesaikan pendakian di 38 titik tertinggi di 38 provinsi di Indonesia. Sejauh ini, progresnya sudah mencapai 13 provinsi.
Pengalaman Mendaki di Luar Negeri
Selain di Indonesia, Azita juga pernah mengunjungi Gunung Everest Base Camp di Nepal dan Gunung Kinabalu di Malaysia. Perjalanan menuju EBC membutuhkan waktu selama 7 hari jalan kaki. Di sana, ia pertama kali mengenal Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit ketinggian. Pengalaman tersebut sangat luar biasa dan berbeda dibanding suasana gunung-gunung di Indonesia.
Mengatur Waktu antara Pekerjaan, Keluarga, dan Hobi
Kunci dari kesuksesannya dalam menjaga keseimbangan adalah kemampuannya dalam membagi waktu. Azita biasanya memanfaatkan jatah cuti tahunan. Kadang, jika ada tugas dinas luar daerah, ia sempatkan untuk mendaki gunung di sekitar daerah tersebut selama 2 hari 1 malam.
Soal dukungan dari suami, Azita merasa sangat beruntung. Suami yang memberikan dukungan penuh. Sejak ia kembali aktif pada tahun 2014, setiap kali berangkat mendaki, suami yang mengambil alih peran menjaga dan mengurus anak-anak di rumah.
Perspektif tentang Kebahagiaan Seorang Ibu
Bagi Azita, menjadi ibu berarti tidak pernah berhenti belajar. Ia percaya bahwa seorang ibu yang bahagia lebih dibutuhkan oleh anak-anak daripada seorang ibu yang ada di rumah 24 jam penuh tapi jiwanya tidak bahagia.
Ia pernah mengalami baby blues setelah melahirkan anak ketiga. Saat bayi berusia 3 bulan, ia meminta izin ke suami untuk mendaki Gunung Ijen sendirian. Itu adalah cara ia untuk me-time, merenung, dan berkomunikasi dengan diri sendiri agar mentalnya pulih. Jika ibu bahagia, keluarga pasti akan sejahtera.
Pengalaman Paling Sulit dan Berkesan
Pengalaman paling sulit yang tak bisa dilupakan adalah beberapa minggu lalu di Gorontalo Utara, tepatnya di Pegunungan Boliyohuto menuju Puncak Ile-Ile. Jalurnya sangat jarang dilalui, penuh pohon tumbang, dan duri yang rapat. Azita sempat tersesat selama 5 jam untuk mencari jalur.
Bahkan, saat berkemah pagi hari, ia merasakan gempa bumi di atas gunung untuk pertama kalinya. Di saat seperti itu, rasa khawatir pasti ada, tapi ia belajar bahwa di gunung kita tidak boleh panik. Kita harus tetap tenang untuk bisa mengambil keputusan dengan bijak.











