My WordPress Blog
Bisnis  

Dulu Ramai, Kini Sepi: Keluhan Pedagang Kalimadu Gorontalo

Perubahan di Kawasan Kuliner Kalimadu

Kawasan Kuliner Kalimantan Madura (Kalimadu) di Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, yang dulu menjadi pusat keramaian malam hari, kini menunjukkan perubahan yang signifikan. Suasana yang dahulu ramai dengan pengunjung kini berubah menjadi lengang dan terkesan sunyi pada jam-jam yang biasanya ramai.

Beberapa pedagang mulai mengeluhkan penurunan jumlah pengunjung yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Masalah seperti parkir, penataan lapak, hingga pelaksanaan program Car Free Night (CFN) disebut-sebut sebagai pemicu utama lesunya aktivitas jual beli di kawasan tersebut.

Pada Kamis (15/1/2026) sore, kawasan Kalimadu dikunjungi untuk melihat kondisi langsung di lapangan. Sekitar pukul 16.45 Wita, sejumlah pedagang tampak baru mulai membuka lapak. Ada yang menyusun kursi plastik, ada pula yang sibuk menata etalase makanan dan minuman. Aroma kuliner mulai tercium tipis dari beberapa sudut kawasan. Namun hingga azan Magrib berkumandang, jumlah pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari.

Beberapa pembeli terlihat hanya singgah sebentar, membeli minuman, lalu berlalu tanpa berlama-lama. Deretan kursi di sejumlah booth tampak kosong. Lampu-lampu lapak belum seluruhnya menyala. Di beberapa titik, terlihat booth tertutup rapat dengan gembok, sebagian catnya mulai pudar, menandakan sudah lama tidak beroperasi.

Muh. Fahri Katjong (25), pedagang macha kocok, mengatakan kondisi sepi tersebut bukanlah hal baru. “Bukan baru satu dua minggu. Ini sudah berbulan-bulan,” katanya saat diwawancarai di sela-sela aktivitas membuka lapak.

Fahri mengaku, sebelum adanya penataan kawasan dan pelaksanaan Car Free Night, omzetnya relatif stabil. “Dulu saya bisa dapat Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per malam. Itu hari biasa, bukan malam Minggu,” ujarnya. Namun setelah penataan dan penerapan CFN, pendapatannya turun drastis. “Sekarang di bawah Rp200 ribu saja sudah syukur. Kadang tidak sampai Rp100 ribu,” ucapnya.

Kondisi tersebut membuat Fahri kini takut membawa stok terlalu banyak. “Kalau bawa banyak, sering tidak habis. Pernah teman saya jual mie ayam, buka dari jam 5 sore sampai jam 11 malam, yang laku cuma dua porsi. Sekitar Rp30 ribu,” katanya pelan.

Menurut Fahri, penataan kawasan sebenarnya bukan masalah utama bagi pedagang. “Kami tidak mempersoalkan penataannya. Tapi setelah CFN kok justru tambah sepi. Padahal ini disebut event,” ujarnya. Ia menilai, sebuah event seharusnya memberi dampak positif bagi perputaran ekonomi pedagang kecil.

“Kalau event tapi tidak menggerakkan UMKM, buat apa,” katanya. Fahri juga menyoroti banyaknya booth yang kini memilih tutup. “Ada yang tutup karena kalah modal. Bahan makanan kan ada yang cepat basi. Kalau tidak laku, rugi terus,” ucapnya.

Ia menyebut para pedagang sempat membentuk grup diskusi untuk membahas kondisi tersebut. “Kami mau ajukan diskusi ke pemerintah. Tapi saya bilang, kita juga harus lihat kondisi kawasan ini sekarang gelap. Yang terang cuma malam Kamis atau malam Minggu, itu pun kalau tidak hujan,” katanya.

Soal penyebab sepinya pengunjung, Fahri menyebut persoalan parkir menjadi salah satu keluhan yang paling sering disampaikan pembeli. “Ada pembeli bilang, sekali beli bayar parkir Rp3.000, pindah beli lagi di booth lain bayar lagi. Harusnya kan satu karcis,” ujarnya.



MALAM HARI — Potret malam hari di Kalimadu Kota Gorontalo pada Kamis 15 Januari 2025.

Menurutnya, hal-hal kecil seperti itu bisa memengaruhi minat orang untuk datang. “Orang mau nongkrong jadi mikir-mikir. Yang mau mampir sebentar pun tetap mereka pertimbangkan,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Jihan Ayu (27), pedagang risol. Ia mengaku perubahan mulai terasa sejak kawasan tersebut ditertibkan. “Awalnya di sini tidak ada pengaturan parkir. Terus ditertibkan, booth diminta mundur ke belakang, penerangan juga kurang,” ujarnya. Menurut Jihan, kondisi itu berdampak besar terhadap jumlah pengunjung. “Kelihatan sekali bedanya. Dulu rame, sekarang sangat berkurang,” katanya.

Penurunan omzet pun tak terelakkan. “Dulu bisa bawa pulang Rp500 ribu sampai Rp600 ribu per hari,” ucapnya. Kini, pendapatannya jauh dari angka tersebut. “Kadang Rp100 ribu, kadang kalau lumayan bisa Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Itu pun biasanya malam Minggu atau Minggu sore,” katanya.

Ia menyebut kondisi ini mengganggu perputaran modal harian. “Kami harus pintar-pintar putar otak supaya tetap jualan tapi tidak rugi,” ujarnya. Kerugian akibat bahan makanan basi juga kerap dialami. “Beberapa kali stok tidak habis, sudah tidak layak jual, terpaksa dibuang,” katanya.

Jihan berharap ada perhatian lebih dari Pemerintah Kota Gorontalo terhadap pelaku UMKM di kawasan Kalimadu. “Kami ingin juga diperhatikan seperti UMKM di sentra lain atau yang di depan kantor wali kota,” ucapnya. Menurut dia, CFN merupakan program pemerintah sehingga seharusnya dievaluasi bersama pedagang. “Kami tidak pernah diajak diskusi soal dampaknya. Padahal bisa dilihat sendiri, sudah banyak yang tutup,” katanya.

Ia juga menyinggung soal parkir berlangganan yang mulai diterapkan di sejumlah titik kota. “Sampai sekarang belum ada peningkatan pengunjung. Masih sama saja seperti setahun belakangan,” ujarnya.

Keluhan senada diungkapkan Rian Mahmud (32), pedagang minuman dingin yang sudah lama berjualan di Kalimadu. Saat ditemui, Rian sedang membersihkan gelas plastik di lapaknya yang tampak sepi tanpa pelanggan. “Dulu jam segini sudah ada yang duduk-duduk,” katanya sambil menunjuk kursi kosong di depannya.

Ia mengaku omzetnya turun lebih dari separuh. “Kalau dulu bisa Rp400 ribu lebih, sekarang paling Rp150 ribu. Itu kalau ada yang beli,” ujarnya. Rian menyebut beberapa rekannya sudah memilih berhenti berjualan. “Ada yang angkat booth, ada yang tidak sanggup bayar modal lagi,” katanya.

Ia berharap Kalimadu tidak hanya dijadikan lokasi event sesekali. “Kalau mau hidup, harus rutin. Event-nya juga yang cocok dengan anak muda, yang suka nongkrong,” ucapnya.

Pantauan hingga pukul 18.45 Wita menunjukkan arus pengunjung masih sangat minim. Di sepanjang jalur utama kawasan, hanya terlihat beberapa sepeda motor terparkir. Suara kendaraan yang melintas justru lebih dominan dibanding percakapan pengunjung. Beberapa pedagang tampak hanya duduk diam menunggu pembeli. Ada yang sibuk dengan ponsel, ada pula yang berbincang pelan dengan pedagang di sebelahnya. Lampu jalan di beberapa titik terlihat redup, membuat sebagian area tampak kurang terang saat malam mulai turun.

Kondisi tersebut kontras dengan cerita para pedagang tentang ramainya Kalimadu beberapa tahun lalu, ketika hampir setiap kursi terisi dan aroma makanan memenuhi seluruh kawasan. Kini, harapan para pedagang sederhana: kawasan kembali hidup, pengunjung kembali datang, dan usaha kecil mereka bisa terus bertahan.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *