My WordPress Blog
Budaya  

Cerita Solo dan Keroncong, Tempat Lahirnya Gesang

Kota Solo dan Identitas Budaya Musik Keroncong

Solo, yang dikenal sebagai kota budaya dengan identitas kuat musik keroncong, memiliki sejarah panjang dalam pengembangan seni musik ini. Musik keroncong tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Solo, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya Indonesia. Sejak masuk ke Surakarta pada 1920-an, keroncong berkembang pesat melalui peran radio, orkes-orkes lokal, serta masa pendudukan Jepang. Proses Indonesianisasi membuat keroncong beradaptasi dengan nilai dan budaya Nusantara, sehingga menjadi musik rakyat yang diakui sebagai bagian dari identitas musik Indonesia.

Asal Usul Musik Keroncong

Menurut Aji Tambajong dalam Ensiklopedia Musik Jilid I, keroncong bukan berasal langsung dari Portugis, melainkan dari bekas-bekas budak keturunan Portugis yang dikenal sebagai Mardjiker. Dari komunitas inilah, musik keroncong berkembang dan kemudian bertransformasi menjadi kesenian rakyat yang diakui sebagai bagian dari identitas musik Indonesia. Meskipun memiliki akar budaya asing, musik keroncong tidak berkembang sebagai produk Barat semata. Sebaliknya, ia tumbuh subur sebagai musik rakyat yang menyerap unsur-unsur lokal.

Perkembangan Keroncong di Solo

Surakarta atau Solo memiliki posisi istimewa dalam sejarah perkembangan musik keroncong. Kota ini dikenal sebagai kota seniman, tempat berbagai cabang seni tumbuh dan berkembang. Musik keroncong mulai masuk ke Surakarta sekitar tahun 1920-an. Hal ini dibuktikan dengan munculnya tokoh seperti Anton Ferdinand Roland Landouw, yang dikenal sebagai penyanyi keroncong pada masa itu. Pada dekade 1940–1950-an, citra Solo sebagai pusat keroncong Indonesia semakin menguat.

Dari kota inilah lahir lagu legendaris “Bengawan Solo” ciptaan Gesang Martohartono pada tahun 1940, yang kemudian mendunia dan menjadi simbol musik keroncong Indonesia.

Dinamika Keroncong di Masa Kolonial dan Pendudukan Jepang

Di Solo, perkembangan keroncong semakin pesat pada 1930-an hingga 1940-an. Muncul orkes-orkes keroncong seperti OK Marko yang bermarkas di Singosaren, dengan Gesang sebagai penyanyi andalannya. Selain itu, Orkes Keroncong Kembang Kacang juga turut mewarnai dunia musik Solo. Peran radio pada masa itu sangat besar dalam menyebarluaskan musik keroncong ke masyarakat luas. Masa pendudukan Jepang membawa dampak besar bagi dunia musik Indonesia. Banyak bentuk hiburan dilarang, terutama musik Barat. Namun, di tengah pembatasan tersebut, musik keroncong justru mendapat ruang untuk berkembang. Keroncong menjadi salah satu musik yang diperbolehkan, bahkan mendominasi siaran radio.

Pada masa inilah lahir karya-karya penting seperti “Jembatan Merah” ciptaan Gesang. Pada tahun 1944, sebuah concours keroncong bahkan digelar oleh Solo Hosokyoku di Taman Sriwedari.

Sentuhan Langgam Jawa dalam Keroncong Solo

Kecintaan warga Surakarta terhadap keroncong tidak lepas dari sentuhan langgam Jawa yang kuat. Ketua Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (HAMKRI) Kota Surakarta, Wartono, menyebut bahwa keroncong Solo memiliki kedekatan dengan gamelan Jawa. Instrumen cello yang dipukul menyerupai kendang, cak yang mirip siter, serta cuk yang menyerupai bunyi bonang, membuat keroncong terasa akrab bagi masyarakat Jawa. Doktor pengkajian seni ISI Surakarta, Tito Setyo Budi, bahkan menyebut Solo sebagai benteng terakhir musik keroncong. Menurutnya, keroncong telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Komunitas yang aktif dan pembinaan generasi muda membuat keroncong terus hidup dan relevan hingga kini.

Empat Musisi Keroncong dari Solo

Mengutip dari surakarta.go.id, setidaknya ada empat penyanyi keroncong asal Solo yang populer dan berperan besar dalam menjaga eksistensi musik keroncong.

  1. Gesang Martohartono

    Nama Gesang Martohartono tak bisa dilepaskan dari sejarah musik keroncong Indonesia. Lahir di Solo pada 1 Oktober 1917, Gesang dikenal sebagai maestro keroncong yang karya-karyanya abadi lintas generasi. Ia wafat pada usia 93 tahun, meninggalkan warisan musik yang tak ternilai. Karier Gesang bermula dari panggung ke panggung sebagai penyanyi keroncong. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit, akibat kebangkrutan usaha batik sang ayah, mendorongnya menekuni dunia musik. Dengan belajar secara otodidak, Gesang tidak hanya bernyanyi, tetapi juga menciptakan lagu. Karya paling monumental Gesang adalah lagu “Bengawan Solo” yang diciptakan pada 1940. Lagu ini melambungkan namanya ke kancah internasional dan membawanya berkeliling Asia. “Bengawan Solo” bahkan telah diterjemahkan ke sekitar 13 bahasa, di antaranya Inggris, Rusia, China, dan Jepang, menjadikan Gesang legenda keroncong asal Solo.

  1. Waldjinah

    Waldjinah, yang dijuluki sebagai Ratu Keroncong, lahir di Solo pada 7 November 1945. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai karyawan batik, sementara ibunya berjualan kue untuk membantu perekonomian keluarga. Bakat Waldjinah mulai dikenal luas setelah ia mengikuti berbagai lomba menyanyi keroncong tingkat nasional. Titik balik kariernya terjadi pada 1958 ketika ia menjuarai kontes menyanyi Ratu Kembang Katjang. Prestasi tersebut melambungkan namanya di dunia musik keroncong. Popularitas Waldjinah semakin menguat setelah ia terpilih sebagai juara Bintang Radio Republik Indonesia. Sejumlah lagu ciptaannya hingga kini masih dikenal luas, seperti “Walang Kekek”, “Yen Ing Tawang”, dan “Jangkrik Genggong”, yang menjadi bagian penting dari khazanah keroncong Jawa.

  1. Endah Laras

    Endah Laras merupakan sosok seniman multitalenta asal Solo. Ia dikenal sebagai penyanyi keroncong, penari, sekaligus aktris. Pada 2021, Endah dipercaya menjadi maskot Solo International Performing Arts (SIPA), sebuah pengakuan atas kiprahnya di dunia seni pertunjukan. Selain memiliki suara merdu, Endah Laras juga aktif menciptakan lagu. Beberapa karyanya antara lain “Kangen Kanca” dan “Neng Omah Dewe”. Tak hanya di musik, Endah juga menorehkan prestasi di dunia perfilman dengan membintangi sejumlah film layar lebar, seperti Guru Ngaji dan Badut Maksimal, Soegija, Kucumbu Tubuh Indahku, dan Finding Srimulat.

  2. Sruti Respati

    Sruti Respati, adik dari Endah Laras, juga menekuni dunia keroncong sejak usia muda. Ia telah lama berkecimpung di berbagai bidang seni, mulai dari presenter televisi daerah, pengisi pertunjukan musik, hingga tampil dalam acara-acara penganugerahan penghargaan. Selain aktif sebagai penyanyi keroncong, Sruti Respati juga berperan sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta. Dia turut berkontribusi dalam pembinaan seni dengan menjadi pelatih vokal di studio Erwin Gutawa Orchestra.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *