Kondisi Pasar Rakyat Jajan Kota Gorontalo yang Mengkhawatirkan
Pasar Rakyat Jajan (PRJ) Kota Gorontalo menjadi salah satu tempat berdagang yang terus bertahan meskipun menghadapi tantangan besar. Para pedagang tetap berada di sana, meski omzet mereka menurun drastis dan kios terlihat kosong. Berdagang menjadi satu-satunya penghasilan bagi mereka, sehingga sulit untuk meninggalkan tempat tersebut.
Perbaikan pasar dan penataan kios tidak berhasil menarik banyak pengunjung. Bahkan beberapa pedagang terpaksa menutup lapak karena sepi dan biaya sewa yang tinggi. Mereka berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menciptakan aktivitas yang bisa menghidupkan kembali pasar, seperti konsep coffee street.
Perjuangan Pedagang yang Tak Pernah Berhenti
Begitu gigih perjuangan para pedagang PRJ. Meski tak dilirik pembeli, mereka memilih tetap bertahan. Alasannya sederhana, mereka tak punya tempat jualan. Sementara berdagang jadi satu-satunya keahlian yang mereka miliki.
Saat didatangi siang tadi, Senin (19/1/2026), para pedagang ini setia menggelar lapak. Padahal, mayoritas dari mereka mengeluhkan omzet yang merosot tajam dalam beberapa tahun belakangan. Bahkan, ada yang hanya membawa pulang belasan ribu rupiah dalam sehari, sementara biaya sewa ruko dengan harga tinggi.
Pantauan hari itu, lorong pasar terlihat lengang sejak sore hari. Kursi plastik warna hijau dan oranye tersusun rapi di depan kios, tetapi hampir semuanya kosong. Dari sisi kiri pintu masuk, tiang bangunan bercat hijau muda menopang atap seng dengan cat yang mulai kusam dan mengelupas di beberapa bagian. Lantai keramik terlihat retak di sudut-sudut lorong, sebagian warnanya memudar karena jarang terinjak pengunjung.
Di sisi kanan, meja panjang berlapis plastik merah berjajar tanpa pembeli. Beberapa kios tampak gelap dengan rolling door setengah tertutup. Di depan salah satu kios, termos air panas masih mengepul tipis, tetapi pemilik warung hanya duduk menunggu sambil sesekali menatap pintu masuk pasar.
Lorong tengah pasar nyaris tanpa suara tawar-menawar. Yang terdengar hanya langkah pedagang yang mondar-mandir, serta bunyi kendaraan dari jalan utama yang melintas di luar kawasan Kota Tua. Apalagi sangat ironis di bagian belakang sama sekali tak ada pembeli hanya pedagang yang menunggu dalam ketidak pastian.
Pengalaman Iin Idi dan Agus Mohammad
Salah satu pedagang, Iin Idi (43), menceritakan kondisi yang ia alami selama beberapa tahun terakhir. Ia sudah berjualan di kawasan Kota Tua ini sejak 2014. “Sekarang ini pendapatan sudah jauh sekali turun. Kadang cuma dapat Rp15 ribu, kadang juga tidak dapat apa-apa sama sekali. Pernah buka dari pagi sampai sore, tidak ada satu pun yang beli,” kata Iin lirih.
Ia awalnya menjual barang kebutuhan harian. Namun karena makin sepi, ia beralih menjual makanan ringan dan gorengan agar bisa bertahan. “Dulu saya jual barang harian, tapi makin lama makin tidak laku. Orang jarang masuk ke pasar. Jadi saya pindah jual makanan, harapannya bisa lebih cepat laku. Tapi ternyata sama saja, tetap sepi,” ujarnya.
Iin mengatakan biaya sewa ruko di Pasar Jajan Kota Tua mencapai Rp120 ribu per bulan. Angka itu menurutnya berat jika dibandingkan dengan pendapatan saat ini. “Kalau sepi begini, mau tutup juga bingung, karena sudah terlanjur di sini. Tapi kalau buka juga, sering tekor. Kadang uang hasil jualan tidak cukup untuk bayar sewa, hanya cukup untuk sehari-hari,” katanya.
Di kios tak jauh dari tempat Iin berjualan, tepatnya di bagian belakang, ada lapak milik Agus Mohammad yang sudah kosong. Pria ini sebelumnya menjual es dan minuman dingin. “Saya sudah tutup beberapa bulan lalu. Tidak kuat lagi,” kata Agus saat ditemui kembali di kawasan itu.
Menurut Agus, ia sempat mencoba bertahan setelah pandemi, namun jumlah pembeli terus menurun. “Setiap hari buka, tapi paling cuma dapat beberapa gelas. Kadang tidak cukup untuk beli bahan lagi. Lama-lama rugi terus, jadi saya putuskan berhenti,” katanya.
Harapan Pedagang untuk Masa Depan Pasar
Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya membangun fisik pasar, tetapi juga menghidupkan aktivitas. Mereka menyarankan agar pemerintah membuat coffee street seperti di Pasar Sentral untuk menarik pelanggan.
Beberapa pedagang juga mengeluhkan kebijakan pemindahan kios saat penataan dilakukan. Seorang pedagang perempuan menceritakan bahwa sebelumnya ia berada di depan pasar, namun setelah penataan dipindahkan ke belakang semakin sepi. “Kami dipindahkan ke bagian belakang. Katanya supaya rapi. Tapi ternyata di belakang lebih sepi lagi,” katanya.
Ia mengatakan penjualan langsung turun drastis setelah pindah. “Barang dagangan lama habis. Ada yang sampai dua bulan tidak laku. Modal habis, usaha tidak berkembang,” ujarnya. Menurutnya, banyak pelanggan malas masuk ke bagian belakang pasar. “Mereka tidak mau naik ke atas atau masuk ke dalam. Jadi lebih banyak yang lewat di depan saja,” katanya.











