My WordPress Blog

Analisis Kritis Tenaga Ahli DPN: Mengapa Humas Pemerintah Baper Saat Dikritik? Ini Jawabannya

Kritik dan Komunikasi Pemerintah yang Emosional

Sabrang Mowo, atau dikenal juga sebagai Noe Letto, menilai bahwa humas pemerintah sering kali merespons kritik secara emosional, bukan secara strategis. Hal ini terlihat dari respons pihak-pihak yang mewakili pemerintah terhadap kritik Pandji Pragiwaksono, yang disampaikan melalui medium seni dan komedi.

Bagi warganet Indonesia, tindakan admin akun pemerintah yang adu argumen di kolom komentar atau mengeluarkan pernyataan bernada defensif bukan lagi hal asing. Alih-alih meredakan situasi, respons tersebut kerap memicu perdebatan baru dan memperpanjang polemik.

Keresahan ini disorot secara tajam namun elegan oleh Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto. Musisi yang kini menjabat Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional (DPN) RI itu menilai, gaya komunikasi humas pemerintah kerap terlalu emosional saat menghadapi kritik, terutama jika berkaca pada respons terhadap kritik Pandji Pragiwaksono.

Saat Kritik Dibalas dengan Emosi

Komentar Noe muncul setelah mencermati bagaimana kritik Pandji Pragiwaksono ditanggapi oleh pihak-pihak yang mewakili pemerintah. Alih-alih dibaca sebagai masukan publik, kritik tersebut justru direspons secara reaktif. Noe menilai pola ini bukan kasus tunggal, melainkan kebiasaan yang berulang dalam komunikasi krisis pemerintah.

“Saya berkali-kali ngeritik betapa PR, public relation pemerintah kalau handle situasi kritis itu sangat emosional. Contohnya handle sopo sih, Pandji. Itu mbalesnya kok emosional sih,” kata Noe dikutip dari kanal YouTube Sabrang MDP Official, Jumat (23/1/2026).

Fenomena inilah yang dalam kajian komunikasi dikenal sebagai reactive communication, respons cepat berbasis emosi, bukan strategi.

Mengapa Emosi Sering Mengalahkan Logika?

Secara psikologis, ada beberapa faktor yang membuat komunikasi profesional pemerintah mudah “baper” ketika dikritik:

  • Identity threat – Kritik terhadap kebijakan sering diterjemahkan sebagai serangan terhadap identitas pribadi atau institusi. Ketika ego kelembagaan tersentuh, respons defensif pun muncul secara refleks.
  • Hierarchy pressure – Tekanan struktural dari atasan membuat humas atau admin merasa wajib menunjukkan loyalitas dan citra “sempurna”. Dalam situasi ini, membantah kritik dianggap lebih aman daripada mengakui celah.
  • Minimnya literasi komunikasi digital – Di media sosial, tidak semua kritik perlu dibalas. Sering kali, diam strategis atau respons berbasis data jauh lebih efektif dibanding debat terbuka yang sarat emosi. Sayangnya, prinsip ini belum sepenuhnya dipahami dalam birokrasi.

Ketiga faktor ini bertemu, emosi pun mengambil alih logika.

Poin Penjelasan Noe Letto

Noe menegaskan bahwa masalah utamanya bukan pada keberadaan kritik, melainkan cara negara menyikapinya. Menurutnya, kritik seharusnya diperlakukan sebagai bahan evaluasi, bukan ancaman. Ia menekankan pentingnya memisahkan substansi kritik dari gaya penyampaian, serta perlunya kerangka kerja yang jelas dalam merespons suara publik.

“Pertanyaannya, kira-kira pejabat mana yang berani? Pejabat mana yang mau menggunakan framework ini? Itulah eksperimennya,” ucap Noe.

Dalam pandangan Noe, humas seharusnya berperan sebagai jembatan dialog antara negara dan warga, bukan benteng yang sibuk menyerang balik kritik. Menurut Noe, selama ini tuntutan agar pejabat bersikap ideal tidak disertai standar atau tolok ukur yang jelas.

Noe juga mengungkapkan, salah satu alasan menerima posisi Tenaga Ahli di DPN RI sebagai bentuk eksperimen untuk membangun standar interaksi pejabat dengan masyarakat.

“Ya peran kampret memang. Harus kayak gini. Tapi tidak bisa kita ngomongin ide kita dan suruh orang lain yang ambil risikonya,” kata Noe.

Dampak ‘Baper’ Terhadap Public Trust

Jika pola komunikasi emosional ini terus berlanjut, dampaknya tidak sederhana:

  • Antipati publik meningkat – Masyarakat cenderung merasa suaranya tidak didengar, bahkan dianggap musuh.
  • Pesan utama pemerintah tenggelam – Program, kebijakan, dan capaian positif kalah oleh drama klarifikasi dan debat di ruang digital.
  • Kepercayaan publik di ruang online menurun – Dalam jangka panjang, gaya komunikasi yang reaktif justru merugikan legitimasi pemerintah itu sendiri.

Alih-alih meredam kritik, sikap “baper” justru memperlebar jarak antara negara dan warganya. Pernyataan Noe Letto menjadi pengingat bahwa komunikasi publik bukan sekadar soal menjawab kritik, melainkan seni mengelola ego demi kepentingan informasi yang sehat. Negara yang dewasa bukanlah negara yang kebal kritik, melainkan yang mampu mendengarkan tanpa merasa terancam.

Sosok Noe Letto

Sosok Sabrang tercatat pada buku Inspiring Stories, 30 Kisah Para Tokoh Beken yang Menggugah karya Ahmadun Yosi Hefanda dan Irwan Kelana. Ia diketahui merupakan anak dari Cak Nun dari istri pertamanya, Neneng Suryaningsih.

Setelah Cak Nun berpisah dengan Neneng, Neneng kembali ke Metro Lampung bersama Sabrang kecil. Singkat cerita, Sabrang bersekolah di SMP Xaverius, Lampung. Sabrang kemudian melanjutkan pendidikan di SMAN 7 Jogja bersama Patub, Aldi, dan Ari, tiga personel band Letto.

Dalam buku tersebut dijelaskan cara Cak Nun mendidik anaknya, termasuk Sabrang. Cak Nun memilih menyekolahkan anaknya di sekolah biasa, agar mudah bergaul dengan semua kalangan.

Lulus SMA di Jogja, Sabrang menyelesaikan pendidikan S1 di Math and Physics University of Alberta, Kanada. Sabrang mulai membuat album musik di Jogja secara diam-diam. Ternyata, Sabrang bukan sekadar penyanyi. Namun, ia juga membuat karya berupa syair.

Melansir situs Festival Film Indonesia (FFI), Sabrang Mowo merupakan vokalis dan keyboardis band Letto (posisi keyboardis hingga 2014 sebelum masuknya Widi). Dalam situs festivalfilm.id itu disebutkan, sepulang dari Kanada, Sabrang bertemu kembali dengan kawan-kawan karibnya di Jogja.

Sabrang juga sering bermain musik di studio Kiai Kanjeng, grup musik pimpinan Novi Budianto yang selalu menjadi partner dan sahabat Cak Nun. Dari studio Kiai Kanjeng, Noe belajar hal ihwal mixing, mastering, memproduksi dan menulis musik.

Sabrang mulai menulis lirik lagu, yang akhirnya banyak tertuang dalam album perdana Letto, Truth, Cry, and Lie. Pada 2004, Musica tertarik pada lagu yang ditawarkan Noe dan kawan-kawannya. Barulah mereka membentuk band yang diberi nama Letto.

Debut album Letto berjudul Truth, Cry, and Lie itu dirilis pada 2006. Keseriusan Sabrang dan kawan-kawan dalam bermusik membuahkan double platinum bagi Letto. Kesuksesan itu memacu Letto untuk membuat album kedua, Don’t Make Me Sad (2007).

Sejak 10 Juni 2008, Sabrang mendirikan Production House Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman. Dalam situs resminya, picklockfilms.com, dijelaskan bahwa Pic[k]Lock Productions merupakan perusahaan film yang fokus pada produksi cerita dengan latar belakang sosio-kultural-politik yang kuat.

Dengan bendera Pic[k]lock Films, Sabrang yang bergelar sarjana Fisika dan Matematika dari University of Alberta Kanada itu telah memproduseri tiga film layar lebar.

Film perdananya Minggu Pagi di Victoria Park dirilis pada 10 Juni 2010. Film kedua mereka, RAYYA, Cahaya Di Atas Cahaya ditulis oleh bapak Sabrang, Emha Ainun Nadjib, dan Viva Westi.

Pada 2015, Pic[k]Lock Productions bekerja sama dengan Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto dan MSH Films dan meluncurkan film Guru Bangsa Tjokroaminoto yang disutradarai Garin Nugroho.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *