My WordPress Blog

3 Fakta Ancaman Mogok Angkutan Sungai dari Samarinda ke Mahulu yang Bisa Picu Kelangkaan Sembako

Ancaman Lumpuhnya Transportasi Sungai Samarinda

Transportasi sungai dari Samarinda menuju Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu) terancam lumpuh akibat tidak tersedianya pasokan BBM subsidi. Hal ini memicu para pengusaha kapal untuk menghentikan operasional mereka, yang berdampak pada distribusi kebutuhan pokok dan mobilitas warga di wilayah hulu Kalimantan Timur.

Pengusaha Kapal Terpaksa Menggunakan BBM Industri

Para pengusaha kapal angkutan menyatakan bahwa mereka harus menggunakan BBM industri dengan harga dua kali lipat dibandingkan BBM subsidi. Haji Iwan, pemilik kapal angkutan Akbar Amanda 1, mengungkapkan bahwa biaya operasional meningkat signifikan karena kenaikan harga BBM.

“Kami terpaksa beli minyak di luar, harganya dua kali lipat. Kalau subsidi sekitar Rp6.000-an per liter, sekarang kami beli industri harganya Rp13.000 sampai Rp14.000 per liter,” ujarnya di Pelabuhan Sungai Kunjang.

Meski demikian, biaya operasional dengan BBM industri tidak lagi tertutup oleh tarif angkutan yang telah ditetapkan bersama Organda. Jika dalam satu hingga dua hari ke depan belum ada kepastian mengenai kuota BBM subsidi, seluruh kapal akan berhenti beroperasi dan diikat di Pelabuhan Sungai Kunjang.

Kapal Sebagai Urat Nadi Distribusi Barang

Setiap harinya, biasanya terdapat dua kapal taksi yang berangkat dari Samarinda menuju Kubar dan Mahulu. Kapal-kapal tersebut memiliki kapasitas angkut besar, antara 70 ton hingga 150 ton, dan menjadi urat nadi utama distribusi barang serta mobilisasi warga di pedalaman Kalimantan Timur.

Jika pengusaha kapal mogok, hal ini bisa mengancam ketersediaan sembako dan bahan lainnya di Kubar dan Mahulu. Dampak ini sangat nyata, terutama di daerah yang lebih ujung seperti Long Apari atau Long Pahangai, di mana harga beras bisa meroket hingga menembus angka Rp1.000.000 per sak.

Tantangan di Musim Kemarau

Musim kemarau telah tiba, dan bagi warga di pedalaman, air sungai yang menyusut bukan sekadar fenomena alam, melainkan sebuah ancaman bagi dompet mereka. Kendala air kecil ini membuat kapal tidak bisa sampai tujuan. Biasanya, KM Akbar Amanda 1 bisa berlayar tenang hingga ke Long Bagun, namun kini kapal besar hanya mampu bersandar hingga ke Datah Bilang atau bahkan tertahan di Long Iram.

Di sana, perjalanan berubah menjadi estafet yang mahal. Barang-barang harus dipindahkan ke perahu kecil atau kelotok agar bisa menembus dangkalnya jeram. Dampak dari estafet ini sangat nyata. Haji Iwan memberi gambaran sederhana tentang biaya angkut beras.

“Normalnya dari Samarinda ke Long Bagun itu Rp450.000 per ton, atau sekitar Rp12.500 per sak. Tapi kalau harus transit pakai kelotok, harganya jadi dua kali lipat. Ongkos kelotoknya saja sudah Rp25.000 per sak, belum lagi ongkos kapal besarnya,” jelasnya.

Strategi Melansir Barang dengan Kelotok

Strategi melansir barang dengan long boat atau kelotok menjadi satu-satunya cara agar pasokan makanan tetap tersambung, meski dengan konsekuensi biaya tambahan dari pemilik barang. Sekretaris Organisasi Angkutan Mahulu (ORGAMU), Budi, membenarkan bahwa alur sungai sebenarnya normal, namun debit air yang tidak cukup membuat kapal-kapal besar sering kandas.

“Pemilik barang harus bayar dobel. Ada ongkos kapal besar, ada ongkos langsir. Estimasinya dua kali lipat dari harga normal,” tutur Budi.

Bagi para nakhoda dan pengusaha angkutan sungai, pemandangan air surut adalah ujian kesabaran. Namun di sisi lain, warga di pelosok Mahakam Ulu, setiap senti air yang turun di permukaan sungai berarti kenaikan harga yang harus mereka tanggung di meja makan.

Hingga saat ini, para pemilik kapal dan pedagang hanya bisa berharap hujan segera turun di wilayah hulu, agar nadi transportasi Sungai Mahakam kembali berdenyut normal dan harga pangan kembali membumi.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *