My WordPress Blog

Belanda Mengira Diterima Hangat, Malah Hadapi Perlawanan Gerilya



Setelah Jepang jatuh, Belanda mengira akan disambut hangat oleh Indonesia yang muda. Sebaliknya, yang ada justru perlawanan gerilya.

Perkiraan yang Salah dan Akibatnya

Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Belanda memiliki harapan besar bahwa mereka akan diterima dengan baik setelah Jepang meninggalkan wilayah Hindia Belanda. Namun, harapan tersebut ternyata sangat salah. Mereka tidak menyadari bahwa situasi di Indonesia sudah berubah secara signifikan. Alih-alih mendapat dukungan, Belanda justru menghadapi perlawanan yang kuat dari rakyat Indonesia.

Perkiraan ini berasal dari kesalahan intelijen yang dilakukan oleh pihak Belanda. Mereka terlalu percaya pada informasi yang diperoleh dari sumber-sumber yang tidak akurat. Hal ini membuat mereka mengira bahwa pemerintah Indonesia yang baru dibentuk masih dalam pengaruh Jepang dan tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Padahal, fakta menunjukkan sebaliknya.

Usaha Pengamanan Sebelum Jepang Masuk

Sebelum Jepang memasuki wilayah Hindia Belanda, beberapa pejabat pemerintahan Belanda mulai mengambil langkah-langkah untuk menjaga diri. Salah satunya adalah Dr. H.J. Van Mook, yang pernah menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pada bulan Februari 1942, ia memilih sekelompok kecil orang-orang untuk dikirim ke Australia. Mereka dipilih berdasarkan kesukarelaan dan tidak bisa membawa anggota keluarganya.

Beberapa orang yang dikirim ke Australia antara lain Raden Ario Adipati Sujono, anggota Raad van Indie, serta Raden Lukman Djajadiningrat, kepala Departemen Pengajaran dan Agama Hindia Belanda pada waktu itu. Di kalangan militer, terdapat para perwira staf seperti Kapten Sanberg, Kapten Burman Vervrijden, dan Kapten Smoor. Mereka juga membawa pasukan tentara yang mengawal para tawanan Jepang dan Jerman ke Australia.

Van Mook sendiri merupakan orang terakhir yang berangkat bersama Mr. Ch. O. van der Plas. Mereka berangkat sekitar tanggal 5 Maret 1942 menggunakan pesawat-pesawat terbang terakhir dari landasan terbang rahasia Buahbatu di Bandung. Mereka tidak berangkat dari Andir (sekarang Husein Sastranegara).

Perkembangan di Australia

Di Australia, Belanda mendirikan Nederlands Indies Commissie (Panitia Hindia Belanda), yaitu semacam pemerintahan pelarian yang berkedudukan di Australia. Selama berada di sana, mereka berusaha untuk mengetahui perkembangan situasi di Indonesia. Meskipun hubungan dengan Indonesia praktis putus, mereka tetap mencoba mencari informasi.

Van der Plas, sebelum meninggalkan Hindia Belanda, meninggalkan sejumlah uang kepada orang Indonesia untuk mengorganisasi suatu gerakan di bawah tanah. Sayangnya, usaha ini gagal dan dapat dibongkar oleh Kempetai Jepang. Beberapa orang yang tertangkap dan dihukum, termasuk Mr. Amir Syarifuddin, yang akhirnya dihukum mati. Atas permintaan Soekarno-Hatta, hukuman tersebut diubah menjadi seumur hidup.

Informasi dari Radio Jepang

Di Australia, orang-orang Belanda juga mendirikan dinas yang bertugas memantau siaran-siaran radio Jepang yang disiarkan dari Jakarta. Pada tahun 1944, didirikanlah NAFIES (Netherlands’ Armed Force Intelligence Service), yaitu Dinas Rahasia Angkatan Perang Belanda. Salah satu tugasnya adalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari target yang hendak dicapainya, dalam hal ini mencari informasi dari Indonesia.

Siaran radio Jepang waktu itu, Nippon Hosukyoku, dapat ditangkap di Australia. Mereka juga mendengar pidato-pidato Soekarno-Hatta, yang seringkali disertai slogan-slogan anti-Sekutu, “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”.

Upaya Intelijen yang Berbahaya

Selain itu, NAFIES juga berusaha memperoleh informasi dengan mengirim orang ke daerah yang diduduki Jepang. Usaha ini sangat berbahaya dan riskan. Itu semua disebut Intelligence Parties (tugas-tugas intelijen). Biasanya para petugas intelijen itu didaratkan dengan kapal selam di suatu tempat, dan harus kembali pada tanggal yang sudah disepakati.

Jepang telah membentuk organisasi pertahanan sipil sampai ke desa-desa, bahkan sampai ke tingkat RT. Satuan terkecil adalah Tonarigumi (RT), yang dipimpin seorang Kumico. Tugasnya antara lain memberantas mata-mata musuh. Di suatu daerah kecil tentu mudah sekali untuk mengetahui orang yang bukan berasal dari daerah itu. Apalagi kalau gerak-geriknya mencurigakan.

Kesimpulan

Pendapat Van Mook yang menyatakan bahwa pemerintahan Soekarno dibentuk oleh Jepang dan berada di bawah pengawasan Jepang ternyata sangat salah. Pendapat ini tidak hanya terjadi pada 1945, tetapi berjalan sampai tahun 1948, ketika Belanda menjalankan Aksi Militer II. Mereka berpendapat bahwa TNI sudah hancur dan mental orang Indonesia tidak berubah, tetap seperti sebelum perang.

Namun, faktanya, situasi di Indonesia jauh lebih kompleks dari yang mereka bayangkan. Perlawanan gerilya yang terjadi di berbagai daerah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia tidak ingin kembali dibawah penguasaan Belanda.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *