Gubernur Jawa Barat Kecewa, Menggebrak Meja Karena Penjual Es Berbohong
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menunjukkan kekecewaannya setelah mengetahui bahwa Suderajat (50), penjual es asal Bogor yang sempat viral di media sosial, ternyata berbohong tentang kondisi ekonominya. Sebelumnya, Suderajat mendapat simpati luas dari masyarakat dan bantuan sebesar Rp 15 juta dari Dedi Mulyadi setelah mengaku menjadi korban penganiayaan preman serta kesulitan membayar kontrakan sebesar Rp 850 ribu per bulan.
Pengakuan Awal Suderajat
Suderajat, yang akrab disapa Ajat atau Jajat, awalnya mengungkapkan cerita yang menyentuh hati. Ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup karena dagangannya tidak laku saat musim hujan. Selain itu, ia juga mengeluhkan biaya kontrakan dan biaya pendidikan anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Dedi Mulyadi merasa heran karena pendidikan di SD seharusnya gratis. Ia pun ragu dengan klaim Suderajat soal kontrakan. Untuk memastikan, Dedi langsung memutuskan untuk membayarkan kontrakan tersebut secara langsung.
Fakta Terungkap
Baru-baru ini, saat berbincang dengan Ketua RW setempat, Dedi mendapati fakta bahwa Suderajat tidak mengontrak, melainkan tinggal di rumah pribadinya sendiri. Rumah tersebut merupakan warisan dari orang tuanya yang bernilai sekitar Rp40 jutaan. Meski rumah itu sudah tidak layak huni, Suderajat sempat mendapatkan bantuan Rutilahu sebesar Rp 20 juta sebelum kasusnya viral.
Selain itu, Dedi juga menemukan bahwa Suderajat berbohong soal warisan rumah tersebut. Ia mengaku hanya mendapat uang sebesar Rp 200 ribu dari penjualan rumah, padahal faktanya rumah tersebut adalah bagian dari warisan keluarga.
Teguran dan Permintaan Maaf
Setelah mengetahui kebohongan tersebut, Dedi Mulyadi kembali kesal. Ia menegaskan bahwa masalahnya bukanlah permintaan maaf, melainkan sikap tidak jujur Suderajat. Menurut Dedi, Suderajat juga bersalah kepada orang tuanya karena sering kali menghilangkan rezeki yang telah diperolehnya.
Ketua RW setempat juga memberikan teguran terhadap Suderajat. Ia menekankan pentingnya menjaga rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan. Sementara itu, Dedi Mulyadi mengingatkan Suderajat untuk lebih bersyukur dan mengubah mentalitasnya.
Pesan dari Gubernur
Dedi Mulyadi menulis pesan keras di media sosialnya. Ia menyebutkan bahwa kebohongan Suderajat bukan bermaksud mempermalukan, tetapi sebagai pelajaran tentang mentalitas. Ia menegaskan bahwa banyak orang yang berbohong dan akhirnya mendapat sial.
Bantuan Tetap Diberikan
Meskipun mengetahui kebohongan Suderajat, Dedi Mulyadi tetap memberikan bantuan. Awalnya, bantuan senilai Rp 15 juta diberikan untuk biaya kontrakan dan pendidikan anak Suderajat. Namun, setelah mengetahui bahwa biaya tersebut diada-adakan, Dedi memutuskan untuk mengalihkan dana tersebut untuk renovasi rumah Suderajat.
“Saya gak mau kasih duit lagi. Saya DP Rp 10 juta, nanti udah selesai saya bayar lagi Rp 10 juta lagi. Karena ini kewajiban negara ada warga rumahnya kategori tidak layak huni,” ujar Dedi Mulyadi.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."











