Perjalanan Karier Kombes Pol Budi Rachmat
Perjalanan karier Kombes Pol Budi Rachmat, hingga menduduki jabatan Kepala Bidang Humas Polda Kalteng atau Kalimantan Tengah, bukanlah kisah yang direncanakan sejak awal. Justru, karier panjang di kepolisian dimulai dari pilihan sederhana seorang siswa SMA di Sukabumi mengikuti nasihat gurunya, mencari pendidikan dengan ikatan dinas.
Budi Rachmat lahir di Sukabumi pada September 1976, dan masa kecil serta remajanya dihabiskan di Jawa Barat. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 1 Cisaat, dilanjutkan ke SMP Negeri 1 Cisaat, hingga akhirnya lulus dari SMA Negeri 1 Sukabumi pada 1995.
Selepas SMA, ia sempat bercita-cita melanjutkan studi ke Universitas Padjadjaran (Unpad), Fakultas Hukum. Bahkan, ia mengikuti seleksi dan dinyatakan lulus. Namun di waktu yang hampir bersamaan, Budi juga mendaftar ke Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) di Kodam III/Siliwangi, Bandung.
“Waktu itu belum ada internet, belum ada handphone. Informasi cuma dari mading dan cerita senior-senior. Banyak yang sudah di AKABRI, saya pikir, wah keren juga,” ujarnya.
Tak disangka, ia diterima di dua jalur sekaligus. Dengan proses yang mengalir apa adanya, Budi akhirnya memilih AKABRI dan resmi masuk kepolisian pada 1995, lulus pada 1998.
Awal Karier di Kepolisian
Penugasan pertamanya membawanya jauh dari kampung halaman, yakni ke Polda Sulawesi Utara. Ia memulai karier sebagai perwira muda di Polresta Bitung, menjabat Pamapta, Kanit Sabhara KPPP, Kaur Bin Ops Lantas, hingga dipercaya menjadi Kapolsek Lolak.
Ketika masih berkarier di Sulawesi Utara pula ia memantapkan kehidupan pribadinya dengan menikah. “Pesan orang tua saya sederhana, cari istri yang satu akidah dan satu pulau,” ucapnya sambil tersenyum.
Kariernya kemudian berlanjut ke Polresta Manado, sebelum mengikuti pendidikan lanjutan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta pada 2003. Usai PTIK, Budi ditugaskan ke Kalimantan Selatan sebagai Kapolsek Banjarmasin Barat, lalu menduduki sejumlah jabatan strategis di Ditlantas Polda Kalsel, termasuk Kasi Dikyasa dan Kasi BPKB.
Pengembangan Karier dan Pendidikan Lanjutan
Tahun 2007, ia dipercaya menjabat Kabag Ops Res Tabalong. Di tengah kesibukan dinas, Budi kembali ke dunia akademik. Ia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Indonesia dan lulus pada 2010.
“Selama dua tahun kuliah di UI, saya benar-benar merasa seperti mahasiswa. Datang ke kampus, belajar, diskusi, bukan seperti polisi,” katanya.
Bekal akademik tersebut membawanya ke lingkungan pendidikan Polri. Ia bertugas di Lemdikpol dan Sespim, membidangi profesi dan teknologi kepolisian, sekaligus mengajar mata kuliah teknis seperti manajemen lalu lintas dan kepemimpinan.
Perjalanan di Berbagai Daerah
Pada 2013, setelah lulus Sespimmen, Budi ditempatkan di Polda Jambi dan menduduki berbagai posisi penting di Roops dan Ditlantas. Ia pernah menjabat Kabag Binlatops, Kasat PJR, Kasubdit Regident, Kabag Binops Roops, hingga Kapolres Tebo.
“Saya pernah satu periode tidak naik pangkat karena jabatan penuh, bukan karena kasus. Itu dinamika biasa dalam organisasi,” ujarnya lugas.
Kariernya kemudian berlanjut sebagai Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Kalimantan Utara. Di provinsi tersebut, ia cukup lama mengemban amanah sebagai Kabid Humas Polda Kaltara, sebelum akhirnya dipercaya menjabat Kabid Humas Polda Kalimantan Tengah.
Latar Belakang Keluarga dan Hobi
Di balik seragam jenderal polisi berpangkat melati tiga, Budi Rachmat berasal dari keluarga sederhana. Ia bukan keturunan polisi. “Ayah saya petugas pemadam kebakaran, ibu saya guru MI. Saya bukan dari keluarga polisi,” tuturnya.
Ia merupakan anak dari empat bersaudara. Budi memiliki dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Namun keduanya tidak tertarik mengikuti jejak sang ayah. “Mereka merasakan sendiri bagaimana pindah-pindah tempat sejak kecil. Jadi mereka bilang cukup ayah saja yang polisi,” katanya sambil tertawa kecil.
Di sela tugasnya, ia menyalurkan hobi bersepeda dan berenang. Bersepeda bukan sekadar olahraga, melainkan juga cara membangun kedekatan sosial dengan masyarakat.
“Bersepeda itu cara saya membangun jejaring sosial. Di Kalimantan Utara, saya sering gowes puluhan kilometer bareng masyarakat,” ujarnya.
Kesimpulan
Menurutnya, pengabdian di kepolisian bukan hanya soal jabatan, melainkan proses panjang yang membentuk karakter melalui pendidikan, penugasan lintas daerah, dan kedekatan dengan masyarakat.
“Dimanapun kita bertugas, yang penting tetap rendah hati dan ingat bahwa polisi itu melayani,” pungkasnya.











