Sejarah Gresik: Dari Bandar Dagang hingga Kota Wali
Gresik memiliki peran penting dalam sejarah Nusantara, terutama sebagai bandar dagang yang berkembang sejak abad ke-11. Letaknya yang strategis di pesisir utara Jawa Timur menjadikannya pusat perdagangan antarpulau dan antarnegara. Pada masa lalu, Gresik dikenal sebagai kawasan yang berpengaruh dalam jalur perdagangan, baik sebelum maupun setelah masuknya agama Islam.
Awal Masuknya Islam di Gresik
Islam pertama kali masuk ke Gresik melalui tokoh-tokoh seperti Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri. Kedua tokoh ini tidak hanya menyebarkan agama Islam, tetapi juga membangun fondasi pendidikan dan kehidupan masyarakat yang religius. Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Gresik pada awal abad ke-11 bersama istrinya, Fatimah Binti Maimun. Ia berbaur dengan masyarakat lokal, berdagang secara jujur, serta membantu kaum miskin. Pendekatan sosial dan budaya ini membuat ajaran Islam dapat diterima tanpa paksaan.
Selain itu, peran Nyai Ageng Pinatih, seorang syahbandar perempuan yang berpengaruh, turut menguatkan penyebaran Islam di wilayah ini. Dari kisahnya lahir tokoh besar bernama Jaka Samudra, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri.
Perkembangan Gresik sebagai Pusat Penyebaran Islam
Sunan Giri atau Raden Paku mendirikan pusat pemerintahan dan keagamaan di Giri Kedaton. Dari tempat itulah Gresik berkembang sebagai pusat penyebaran Islam sekaligus kekuatan politik di wilayah Jawa Timur dan Nusantara bagian timur. Sunan Giri tidak hanya dikenal sebagai Wali, tetapi juga sebagai penguasa pemerintahan dengan gelar Prabu Satmata atau Sultan Ainul Yaqin. Ia dinobatkan sebagai penguasa pada 9 Maret 1487 M, tanggal yang kemudian diperingati sebagai hari lahir Kota Gresik hingga saat ini.
Kepemimpinan Sunan Giri berlangsung selama sekitar 30 tahun dan dilanjutkan oleh keturunannya hingga hampir dua abad. Masa tersebut menandai puncak kejayaan Gresik sebagai kota religius, pusat pendidikan Islam, dan pelabuhan dagang yang ramai.
Sejarah Awal Gresik Sebelum Islam
Sebelum masuknya Islam, wilayah Gresik berada di bawah pengaruh Hindu-Buddha, terutama pada masa Kerajaan Majapahit. Dalam prasasti Karang Bogem tahun 1387 M, nama Gresik disebut sebagai kawasan yang memiliki aktivitas ekonomi, khususnya perikanan dan tambak. Hal ini menandakan Gresik telah berperan sebagai wilayah pendukung penting Majapahit, terutama di jalur pesisir utara Jawa.
Bukti arkeologis berupa prasasti, arca, dan gerabah ditemukan di kawasan pesisir hingga pedalaman, termasuk di wilayah Pulau Bawean. Memasuki era kolonial, Gresik kembali memainkan peran strategis sebagai pelabuhan dagang. Bangsa Portugis sempat singgah pada awal abad ke-16, disusul Belanda yang kemudian menjadikan Gresik sebagai basis perdagangan VOC sejak awal 1600-an.

Penyebutan Nama Gresik dalam Catatan Kolonial
Dalam catatan masa kolonial, Gresik juga dikenal dengan sebutan Grisse atau Grissee. Nama tersebut tercantum dalam peta dan dokumen pelayaran bangsa Eropa yang menjadikan Gresik sebagai salah satu pelabuhan penting di wilayah pesisir. Selain itu, berbagai peninggalan kolonial masih dapat dijumpai hingga kini, seperti Benteng Lodewijk di muara Bengawan Solo dan Gardu Suling di kawasan kota lama. Bangunan-bangunan ini menjadi saksi peran Gresik dalam pertahanan dan perdagangan masa kolonial.
Gresik Masa Kini
Pasca-kemerdekaan, Gresik semula berstatus sebagai ibu kota Kabupaten Surabaya. Status tersebut menimbulkan perbedaan antara nama kabupaten dengan ibu kotanya, karena kabupaten diberikan nama Surabaya sementara pusat pemerintahannya berada di Gresik. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1974, status tersebut berubah dan secara resmi ditetapkan sebagai Kabupaten Gresik dengan pusat pemerintahan di Kota Gresik.
Kini, Gresik dikenal dengan berbagai julukan, mulai dari Kota Wali, Kota Santri, hingga Kota Industri. Keberadaan makam Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim memperkuat identitas religius, sementara tumbuhnya kawasan industri modern menjadikan Gresik sebagai salah satu pusat ekonomi Jawa Timur.
Sebagai bagian dari kawasan strategis Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), Gresik terus berkembang di sektor industri, maritim, perdagangan, pendidikan, dan pariwisata. Perpaduan sejarah panjang dan perkembangan modern inilah yang menjadikan Gresik tetap relevan hingga masa kini.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











