My WordPress Blog

Pengamat: Prabowo Miliki Ruang Negosiasi Batasan TNI di BoP

Presiden Prabowo Subianto Hadiri KTT Dewan Perdamaian di AS

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) di Amerika Serikat pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Kehadiran ini menjadi momen penting bagi Indonesia, terutama dalam konteks peran negara dalam upaya perdamaian Palestina.

Menurut pengamat militer sekaligus Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas, kehadiran Presiden dalam forum tersebut memberikan ruang untuk bernegosiasi langsung mengenai batasan pelibatan TNI dalam misi International Stabilization Force (ISF) di Gaza. Ia menilai langkah ini krusial agar TNI fokus pada misi kemanusiaan, bukan demiliterisasi, serta memitigasi risiko tuduhan keberpihakan di wilayah konflik.

Peran Indonesia dalam Misi ISF

Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa kehadiran Presiden merupakan wujud komitmen Indonesia untuk berperan aktif dalam membentuk arah dan kerja BoP. Salah satu isu utama adalah rencana pengiriman pasukan TNI ke Gaza di bawah bendera ISF. Anton mencatat bahwa Indonesia menjadi salah satu dari dua negara yang menyatakan kesiapan mengirimkan pasukan, dengan jumlah 5.000–8.000 personel. Namun, aturan main ISF masih belum jelas.

Menurut Anton, Resolusi 2803 menugaskan ISF untuk memastikan demiliterisasi, termasuk pelucutan senjata dan penarikan mundur tentara Israel dari Gaza. Meski begitu, TNI disiapkan lebih untuk misi kemanusiaan seperti rehabilitasi dan rekonstruksi, dengan prajurit dari korps zeni dan kesehatan.

Risiko Besar dalam Pelibatan TNI

Anton menilai pelibatan TNI dalam ISF memiliki risiko besar, terutama karena penempatan pasukan di Gaza sarat nilai politis. “Di satu sisi, TNI bisa dituduh berpihak pada Israel jika bertugas di zona hijau yang dikuasai IDF. Di sisi lain, TNI juga bisa dituduh berpihak pada Hamas jika bertugas di zona merah, wilayah dengan perlawanan kuat,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterlibatan TNI kali ini berbeda dengan misi perdamaian di bawah bendera PBB. Tanpa mandat PBB, misi ISF akan menjadi pengalaman baru bagi prajurit TNI, mulai dari pelatihan hingga pelaksanaan tugas di Gaza. Karena itu, menjaga agar TNI tidak terlibat dalam proses demiliterisasi menjadi kunci, dengan fokus pada bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina.

Komunikasi dengan Hamas

Anton menekankan bahwa kehadiran militer asing di wilayah konflik tetap membutuhkan persetujuan pihak-pihak yang bertikai. Meski tidak menjamin keselamatan, hal itu setidaknya memberi pemahaman tentang peran militer asing. “Karena misi yang ingin dicapai Presiden Prabowo sudah jelas: perdamaian dan kemerdekaan Palestina. Dengan komposisi tim Kemenlu yang ada, komunikasi multi pihak pastinya dilakukan, termasuk dengan Hamas,” pungkasnya.

Indonesia Tegaskan Komitmen Perdamaian Palestina

Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam upaya perdamaian Palestina melalui keikutsertaan dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, sebuah badan internasional yang dibentuk untuk mengawal stabilisasi dan rehabilitasi pascakonflik di Gaza.

Penegasan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono di Bad Ragaz, Swiss, pada Jumat, 23 Januari 2026, usai Presiden Prabowo Subianto menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos. Menlu menjelaskan, salah satu agenda utama Presiden adalah penandatanganan Charter BoP, yang merupakan kelanjutan dari proses panjang dialog sejumlah negara, khususnya negara-negara Islam dan negara dengan penduduk mayoritas Muslim terkait situasi Palestina.

Konsistensi Indonesia dalam Upaya Perdamaian

Menlu menegaskan bahwa Indonesia bergabung karena sejak awal konsisten mendukung perdamaian dan stabilitas internasional, khususnya bagi Palestina. Meski proses pembentukan badan ini berlangsung relatif cepat, Presiden Prabowo memutuskan Indonesia ikut serta setelah mempertimbangkan berbagai aspek strategis.

“Kita sejak awal peduli pada perdamaian dan stabilitas internasional, khususnya situasi di Palestina. Karena Board of Peace merupakan bagian dari upaya mencapai perdamaian tersebut, maka Indonesia harus ada di dalamnya,” tegas Menlu.

Orientasi pada Kemerdekaan Palestina

Menlu meyakini keberadaan BoP merupakan langkah konkret yang telah lama dinantikan dalam mengawal proses perdamaian Palestina. Kehadiran negara-negara tersebut diharapkan memastikan setiap langkah tetap berorientasi pada kemerdekaan Palestina dan terwujudnya solusi dua negara.

“Upaya yang dilakukan Board of Peace harus tetap berorientasi pada kemerdekaan Palestina dan tercapainya solusi dua negara,” ujarnya.

Keputusan untuk Bergabung dengan BoP

Keputusan untuk bergabung dengan BoP diambil melalui konsultasi intensif dengan negara-negara yang tergabung dalam Group of New York. Sejumlah negara sepakat bergabung, antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, Turkiye, Pakistan, Mesir, serta Indonesia.

“Dua hari sebelum penandatanganan, semuanya bersepakat untuk ikut bergabung bersama Board of Peace,” ungkapnya.

Tidak Menggantikan Peran PBB

Menutup keterangannya, Menlu menegaskan bahwa BoP tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Badan ini tidak ditujukan untuk menggantikan PBB. BoP lahir dari kepedulian untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas, khususnya di Gaza. Karena itu Indonesia memutuskan untuk bergabung,” pungkasnya.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *