Kunjungan Keluarga Korban Perang Dunia II dari Australia ke Mentok
Keluarga korban Perang Dunia II (PD II) yang berasal dari Australia kembali mengunjungi Pantai Tanjungkalian Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada Senin (16/2/2026) siang. Kedatangan mereka bertujuan untuk memperingati tragedi kemanusian yang terjadi selama PD II, insiden yang menewaskan 50 tentara Inggris dan 22 perawat Australia.
Mereka melaksanakan upacara ibadah atau ritual peringatan korban Perang Dunia II di Pantai Raji dan Pantai Tanjungkalian Mentok. Sejumlah keluarga meletakkan karangan bunga di monumen yang dibangun di bibir pantai Tanjungkalian Mentok. Di depan gedung Mercusuar Tanjungkalian, berdiri monumen penghargaan dari pemerintah Australia kepada perawatnya, menjadi korban pembunuhan Jepang pada Februari 1942.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Fachriansyah, menjelaskan bahwa kehadiran mereka untuk memperingati tragedi PD II, di mana sejumlah perawat dari Australia menjadi korban pada saat itu. “Mereka hadir di sini memperingati tragedi PD II bahwa perawat mereka menjadi korban, salah satu mereka melakukan ibadah dan berdoa di sini,” kata Fachriansyah.
Sebelumnya, para tamu juga telah mendapatkan jamuan makan malam bersama Bupati Bangka Barat Markus serta melakukan agenda lainnya. “Jadi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan kunjungan Kedutaan Besar Australia bersama keluarga korban Perang Dunia II,” jelasnya.
Rombongan selanjutnya akan mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah di Mentok, seperti Museum Perdamaian, Tugu Peringatan Perang Dunia II Tanjungkalian, beribadah di Pantai Radji, serta beberapa lokasi lainnya.
Bupati Bangka Barat Markus menyambut kedatangan Kedubes dan Keluarga Korban PD II dari Australia dengan menggelar jamuan makan malam di Aula Rumah Dinas Bupati Bangka Barat, Minggu (15/2/2026) malam. Markus, didampingi istrinya Evi Astura Markus, dan pejabat Pemkab Babar berbincang-bincang sembari menyantap hidangan yang disuguhkan kepada para tamu.
“Salah satu tamu menyampaikan, mereka sangat happy atas jamuan bupati beserta jajaran, mereka sangat terkesima atas sambutan yang telah kita berikan,” kata Bupati Bangka Barat Markus.
Markus meminta para tamu yang hadir dapat mengajak keluarga maupun kolega mereka untuk berkunjung kembali dan membantu mempromosikan pariwisata Bangka Barat. “Mereka bisa menyampaikan kepada keluarga, teman, dan semua yang ada di tempat mereka untuk ikut mempromosikan pariwisata yang ada di Kota Mentok,” ujarnya.
Selain itu, Markus mengajak seluruh jajaran pemerintah daerah memanfaatkan momentum kunjungan Kedutaan Besar Australia dan keluarga korban Perang Dunia II untuk memperkenalkan kearifan lokal serta berbagai potensi daerah. “Kita berharap momen seperti ini dapat dimanfaatkan untuk kemajuan Bangka Barat,” lanjutnya.
Ia menegaskan, seluruh dinas terkait telah memiliki tugas memperkenalkan potensi dan kearifan lokal, mulai dari budaya, sejarah hingga produk UMKM.
Sejarah Perang Dunia II di Mentok
Dalam buku Tragedi Perang Dunia II di Kota Mentok dalam Kilasan Sejarah, dengan penulis buku bernama Syarifudin Isa dan Produser Samuel Then, mengulas terkait sejarah Perang Dunia II di Kota Mentok. Mereka telah melakukan launching dan hibah buku di Gedung Perpusda Kabupaten Bangka Barat, Pal 2 Mentok, Rabu (7/1/2026) lalu.
Buku setebal 134 halaman ini mengulas secara kronologis peristiwa penting selama Perang Dunia II, dari mulai konteks global jatuhnya Pearl Harbour, masuknya tentara Jepang ke Mentok, hingga peristiwa kelam lainnya. Menurut mereka, Kota Mentok memiliki peran penting dalam sejarah Perang Dunia II (PD II) yang tak lepas dari faktor geografisnya. Meski tidak terlibat langsung dalam pertempuran besar, posisi strategis Mentok menjadikannya wilayah yang diperhitungkan pada masa itu.
Menurut Syarifudin Isa, dalam kajian sejarah, keterlibatan Mentok pada era PD II dipengaruhi oleh letaknya yang berdekatan dengan Singapura. Kedekatan geografis ini membuat Mentok menjadi bagian dari jalur strategis kawasan Asia. Khususnya dalam kepentingan militer Jepang.
“Jepang melihat posisi geografis. Kita lihat, kedekatan Mentok dengan Singapura. Di situ cikal bakal perang dunia kedua,” kata Syarifudin Isa.
Pada masa itu, kata Syarifudin, Mentok diketahui menjadi lokasi kamp konsentrasi Jepang. Sejumlah tawanan perang ditahan di wilayah tersebut. Bahkan sebagian di antaranya mengalami pembunuhan massal yang terjadi di Pantai Radjik. Peristiwa kelam ini menjadi bagian penting dari sejarah Mentok, dituliskan dalam buku tersebut.
“Kenapa, Mentok bisa terlibat, kita melihat ada faktor geografis Kota Mentok. Sehingga dari alasan itu, pengembangan Mentok dapat dilakukan sebagai multi player efek untuk menjadikan Singapura kedua,” harapnya.
Ia menambahkan, dari sudut pandang pengembangan wilayah, kondisi ini dapat menjadi dasar dalam merumuskan arah pembangunan Kabupaten Bangka Barat ke depan. “Dengan melihat sejarah dan posisi geografisnya, Mentok dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai kawasan strategis di bidang perdagangan dan ekonomi,” katanya.
Selanjutnya, kajian dapat dilakukan, mengarah pada arus ekspor dan impor. Di mana selama ini distribusi barang dari Pulau Jawa banyak melalui Pelabuhan Tanjung Priok dan berujung ke pasar dunia melalui Singapura. “Kedepan, Mentok dinilai memiliki peluang untuk menjadi simpul perdagangan sendiri. Arus ekspor dari Jawa, lewat Tanjung Priok lalu ke akhir pasar dunia, masuk Singapura. Tetapi kedepan dapat melalui Mentok, karena melihat geografisnya, yang berdekatan dengan Singapura,” harapnya.
Apabila potensi ini dikembangkan secara serius, menurut Syarifudin Isa, Mentok dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan efek berantai atau multiplier effect yang signifikan bagi Bangka Barat dan Provinsi Bangka Belitung. “Hal ini sekaligus membuka ruang kajian lanjutan sebagai acuan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan wilayah berbasis sejarah dan keunggulan geografis,” harapnya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











