My WordPress Blog

Panggilan Telepon Selamatkan Opu Muetazim dari Bank Sulselbar

Kehidupan Politik dan Akademis Bupati Maros

Ilmu hukum dan ilmu politik sering kali dianggap sebagai dua bidang yang saling berkaitan. Namun, keduanya hanya akan bermanfaat ketika diterapkan untuk kepentingan masyarakat luas. “Politik bukan hanya tentang kekuasaan. Politik adalah ruang moral untuk menguji nurani pemimpin. Pada akhirnya, politik adalah tentang keberpihakan, di mana integritas hukum dan moral juga diuji,” ujar promovendus Dr Andi Syafril Chaidir Syam (49) dalam pidato pengukuhan gelar doktor ilmu politik di kampus Unhas, Makassar, Rabu (11/2/2026) siang.

Chaidir, yang menjabat Bupati Maros selama dua periode, mempertahankan disertasinya yang berjudul; “Partai Politik dalam Perspektif Demokrasi; Studi Fenomenologi Calon Tunggal di Pilkada Maros”. Memang, menjadi petahana sekaligus calon bupati cukup umum dalam arena politik lokal Indonesia. Namun, menjadi petahana, bertarung melawan ‘kotak kosong’, serta memiliki gelar doktor hukum dan menuangkannya dalam disertasi doktor ilmu politik, mungkin hanya bisa dilakukan oleh Sekretaris DPW PAN Sulsel ini.

Sebagai aktivis ormas Islam, politisi, dan pemimpin birokrat, Chaidir mencoba menjadi seorang akademisi. Asbabul hikayat disertasi ini terjadi ketika Wakil Bupati Suhartina Bohari (45) dinyatakan tidak bisa ikut pilkada karena tersandung ‘temuan amphetamine’ oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Penegasan Ketua KPU Sulsel Dr Hasbullah (47) bahwa pilkada Maros akan tertunda hingga 2027 jika satu dari 16 partai politik pengusungnya tidak merestui, adalah debarkasi ilmu hukum. Harus ditegakkan dan diterima segala konsekuensinya.

Namun, saat 16 elite partai politik pengusungnya di Pilkada Maros 2024 menawarkan 25 calon pengganti Suhartina, itu menjadi ranah politik. Dan, disitulah drama politik lokal itu dimulai. Pilkada langsung serentak di Maros, kala itu juga sekaligus pertaruhan sejarah politik demokrasi Indonesia.

Belum pernah ada negara di dunia ini, menggelar pemilu lokal serentak di 640 pilkada daerah. Ada 37 pemilu provinsi, 93 kota, dan 415 kabupaten. Saat itu, calon kepala daerah yang melawan Kotak Kosong, ada 37 daerah. Rinciannya, 1 provinsi (Papua Barat), ada 5 kota, dan 31 kabupaten. Dan, Pilkada ‘Kotak Kosong” Maros satu-satunya di Sulsel.

Sejatinya, 30 hari sebelum drama zat amphetamine BNN mendera Suhartina, ratusan elite dan simpatisan 16 partai pengusung sudah mengantar paket incumbent Chaidir Syam dan Suhartina Bohari mendaftar di KPU Maros, Rabu (28/8/2024). Batas penelitian berkas, verifikasi faktual dukungan, pemeriksaan dan uji hasil kesehatan berakhir Sabtu (21 September 2024).

Tapi Jumat (20/8/2024) atau sehari sebelum batas akhir pendaftaran, Minggu 22 September 2024, channel YouTube resmi BNN Sulsel, Kepala BNN Sulsel Brigadir Jenderal Polisi Budi Sajidin menyatakan dari 140 calon kepala daerah yang menjalani tes urine, satu di antaranya positif amphetamine. Dan, seorang itu, bernama Suhartina Bohari.

Spekulasi politik pun bermunculan. Untuk reafirmasi dan meredam spekulasi, BNN 3 kali uji sampel. Namun, hasilnya tetap positif. “Hasil pengecekan tersebut bisa membedakan antara penggunaan obat biasa atau narkotika,” kata Kepala BNN.

Saat hasil itu, diumumkan ruang integritas sekaligus pengalaman politik Chaidir diuji. Kalau ruang politiknya hanya di Maros, urusannya mudah. Baginya, ini momen ujian naik kelas politik. Sejatinya, mencari pengganti Suhartina semudah undian arisan. Tingkat elektabilitas Chaidir, sebagai incumbent sudah mendekati 60 persen. Bersama Suhartina, elektabilitas bahkan mendekati 75 persen.

Hasil survei inilah sekaligus konfirmasi kenapa tak ada calon penantang petahana Maros. Namun, obstacle- keputusan saat itu justru meredam hasrat kekuasaan dan politisi 15 partai lain di luar PAN; Golkar, PDIP, Nasdem, Gelora, Hanura, PPP, PKS, Perindo, Gerindra PBB, PKB, Demokrat, PSI, Partai Buruh dan PKN.

“Wakilnya, bisa dari PAN, ada Irfan AB (legistor provinsi), atau Marjan Massere dan Andi Rijal (legislator Maros). Tapi opsi itu rentan memecah belah 15 parpol lain,” ujar Chaidir kepada Tribun, Senin (9/2/2026).

Langkah pertama dia menenangkan elite 15 parpol pengusung lain. Berkejaran dengan waktu, akhirnya, Chaidir konsultasi dengan Ketua DPW PAN Sulsel Ashabul Kahfi (63). Hasilnya, “Oleh Ketum (Zulkifli Hasan) saya harus menemui Yandri Susanto (51) (Wakil Ketua DPP PAN bidang organisasi dan kader).” ujarnya.

Sabtu (21/9/2024), malam terbanglah Chaidir ke rumah Yandri di Serang, Banten. Momennya saat itu, Yandri yang juga Menteri Desa, juga tengah menyiapkan kampanye istrinya, Ratu Rachmatuzakiyah jadi Bupati Serang. Chadie menunggu dalam gelisah dan diamuk ketegangan dari Maros. Di masa itulah, tiba-tiba muncul seorang mengingatkannya untuk menunaikan shalat hajat dan istikharah. “Jujur, saya lebih tenang saat itu.”

Yandri mengusulkan pengganti calon bupati dari birokrat lokal. Disaat bersamaan dia juga harus meyakinkan elite parpol lain, di level provinsi dan nasional untuk sabar menunggu ikhtiar politiknya. Di kepala Chaidir muncul empat nama. Pertama; Sekda Maros Andi Davied Syamsuddin. Kedua, Direktur RSUD La Palaloi Sri Syamsinar, ketiga Kepala Dinas Kesehatan Dr Muh Yunus, dan terakhir Kepala Dinas Pekerjaan Umum Muetazim Mansyur.

Satu per satu, Chaidir menelepon keempat bawahannya. “Keputusan harus malam ini.” Keempatnya, lalu meminta waktu untuk konsultasi dengan keluarga lebih dulu. “Yang menghibur sedikit, sebab dari empat itu ada yang bertanya, apakah kalau sudah berakhir 5 tahun, bisa kembali jadi PNS,” ujar Chaidir sambil tertawa.

Hasilnya, tiga calon awal menolak. Alasannya karier dan jaminan kehidupan pasca-lima tahun pemerintahan. Hanya satu menerima, Muetazim Mansyur. Namun dramanya, belum berhenti. Saat Muetazim sudah siap, tiba-tiba istrinya menelepon dan menyampaikan kabar lebih menegangkan. “Katanya, kalau terpilih jadi wakil bupati, istri yang jadi karyawan Bank Sulselbar, harus mundur.”

Chaidir kaget namun tetap rasional. Pertama Chaidir meminta kembali Dr Yunus mempersiapkan berkas administratif. Di saat bersamaan, dia juga menelepon Dirut Bank Sulselbar Yulis Suwandi. “Pak Yulis inilah yang mengamankan Opu Muetazim untuk tetap melanjutkan pendaftaran Pilkada. Padahal habis itu, dokter Yunus berkasnya juga sudah siap.”

Pada akhirnya, Muetazim yang dipilih mendampingi Chaidir. Tantangan belum berhenti. Pasangan ini kemudian menghadapi fenomena kolom kosong yang tak benar-benar kosong. Dalam penelitiannya, Chaidir mengkaji secara sosiologis dukungan terhadap kolom kosong yang muncul pada Pilkada Maros 2024. “Kami meneliti fenomena kolom kosong, yang sebenarnya berisi. Bahkan kami melihat secara visual, spanduk kolom kosong terlihat lebih besar dibandingkan calon tunggal,” ungkapnya.

Menurutnya, fenomena tersebut menjadi indikator penting dalam membaca kualitas demokrasi lokal, baik secara prosedural maupun substansial. Berbagai upaya dilakukan pasangan Chaidir-Muetazim untuk memantapkan visi misi. Sekaligus membangun kembali kepercayaan masyarakat di tengah menguatnya dukungan terhadap kolom kosong. Hasilnya, pasangan ini memenangkan Pilkada Maros 2024 dengan perolehan 64,01 persen suara, sementara kolom kosong meraih 35,99 persen.

Meski menang, Chaidir mengakui Pilkada dengan calon tunggal berdampak pada tingkat partisipasi pemilih yang berada di kisaran 69,62 persen. Fenomena tersebut, kata dia, menjadi bahan refleksi akademik untuk memperkuat kualitas demokrasi di tingkat lokal ke depan.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *