Pemimpin Tertinggi Iran Beri Peringatan Keras terhadap Amerika Serikat
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, memberikan peringatan tajam kepada Amerika Serikat (AS) terkait pengerahan kapal perang ke kawasan Teluk Persia. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut justru dapat menjadi ancaman bagi Washington sendiri jika konflik pecah antara kedua negara.
Peringatan ini disampaikan Khamenei di hadapan ribuan warga di Tabriz pada Rabu (18/2/2026). Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa Iran memiliki kemampuan militer yang mampu menenggelamkan kapal perang musuh. “Meskipun kapal perang merupakan perangkat keras militer yang berbahaya, yang lebih berbahaya lagi adalah senjata yang mampu menenggelamkan kapal perang itu ke dasar laut,” ujar Khamenei.
Ia juga menanggapi pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang sering menyebut bahwa Amerika memimpin militer terkuat di dunia. Menurut Khamenei, kekuatan militer semata tidak menjamin kemenangan dalam peperangan. “Kami memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Mereka juga menyadari konsekuensi yang akan mereka hadapi jika melakukan kesalahan,” katanya.
Khamenei menilai ketegangan yang terjadi dipicu oleh keinginan AS untuk mendominasi Iran. Namun, ia menegaskan bahwa bangsa Iran dan Republik Islam tidak akan tunduk terhadap tekanan tersebut.
Peningkatan Kekuatan Militer AS di Timur Tengah
Di sisi lain, media Amerika melaporkan bahwa AS berencana mengirimkan kapal induk terbesarnya, USS Gerald R. Ford, guna memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah. Kapal tersebut sebelumnya ditempatkan di kawasan Karibia bersama kapal-kapal pengawalnya. Selain itu, kapal induk USS Abraham Lincoln beserta aset udara dan angkatan laut lainnya telah lebih dulu dikerahkan ke kawasan tersebut pada Januari lalu.
Laporan lain dari media AS menyebutkan militer Amerika telah memindahkan lebih dari 50 jet tempur ke Timur Tengah dalam 24 jam terakhir. Informasi tersebut, dikutip oleh Jerusalem Post dari Axios pada Selasa (17/2/2026) waktu AS, menyebutkan sejumlah jet tempur jenis F-16, F-22, dan F-35 terpantau menuju kawasan tersebut oleh pelacak penerbangan independen.
Pengerahan kekuatan militer ini berlangsung di tengah negosiasi tidak langsung antara pejabat AS dan Iran terkait program nuklir Teheran, yang hingga kini masih menjadi sumber ketegangan kedua negara.
Rencana Operasi Militer AS terhadap Iran
Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan sedang menyiapkan skenario operasi militer selama berminggu-minggu terhadap Iran sebagai langkah antisipasi jika Presiden AS Donald Trump memerintahkan penyerangan. Menurut laporan Reuters, Minggu (15/2/2026), dua pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa rencana ini memiliki risiko tinggi, terutama di tengah jalur diplomasi yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran.
Skenario militer kali ini disebut lebih kompleks dibanding operasi “Midnight Hammer” pada Juni tahun lalu, ketika bomber siluman AS melancarkan serangan tunggal terhadap fasilitas nuklir Iran. Saat itu, Teheran membalas secara terbatas dengan menyerang pangkalan AS di Qatar.
Dalam rencana terbaru, sasaran serangan tidak hanya terbatas pada fasilitas nuklir, tetapi juga infrastruktur negara dan fasilitas keamanan Iran. Langkah ini dinilai berisiko besar karena kemampuan rudal Iran yang tangguh, berpotensi memicu serangan balasan yang dapat meluas ke kawasan.
Kekuatan Militer AS yang Terus Diperkuat
Garda Revolusi Iran sebelumnya juga memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayah mereka akan dibalas ke pangkalan militer AS di kawasan. Saat ini, pangkalan AS tersebar di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, hingga Turkiye.
Di tengah ketegangan militer, jalur diplomasi masih dibuka. Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan perwakilan Iran di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026), dengan mediasi dari Oman. Namun, harapan tercapai kesepakatan damai dibayangi peringatan dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Pada Sabtu (14/2/2026), Rubio menegaskan bahwa meski Trump lebih memilih kesepakatan damai, hal itu tetap sulit diwujudkan.
Trump Memperkuat Kehadiran Militer AS
Sementara itu, Trump terus memperkuat kehadiran militer AS di Timur Tengah. Kementerian Pertahanan AS mengonfirmasi pengerahan kapal induk tambahan, ribuan tentara, jet tempur, dan kapal perusak rudal pemandu, yang siap untuk operasi serangan maupun pertahanan.
Setelah menghadiri acara militer di Fort Bragg, North Carolina, Trump menyinggung kemungkinan perubahan pemerintahan di Iran. “Tampaknya itu akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi,” katanya, tanpa menyebut siapa yang diinginkannya memimpin Iran.
Trump juga mengungkapkan frustrasinya terhadap proses diplomasi yang telah berlangsung lama dengan Teheran. “Selama 47 tahun, mereka terus berbicara, berbicara, dan berbicara,” ujarnya.











