Latar Belakang dan Keluarga
Kiai Haji (KH) Cholil Nafis adalah sosok yang sangat dekat dengan masyarakat Muslim Indonesia. Sebagai Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), ia sering tampil di layar kaca dengan gaya pembawaan yang tenang dan menenangkan. Kiai Cholil dikenal sebagai tokoh yang sering berdakwah melalui media televisi. Dengan keilmuan agama yang mendalam, dakwahnya menjadi semacam oase di tengah permasalahan yang membelenggu umat.
Wibawa sang kiai bukan datang dari langit begitu saja, melainkan berasal dari perjalanan panjang dalam menempuh pendidikan. Dalam program Ramadan 2026 Tribun Network bertajuk Cerita Kiai, ia menceritakan perjalanan hidupnya di Jakarta, Senin (16/2/2026).
Kiai Cholil lahir di Sampang, Madura, Jawa Timur, pada 1 Juni 1975. Ia berasal dari keluarga biasa, namun memiliki latar belakang yang berkaitan dengan dunia pesantren dan pendidikan. Dari jalur ibu, keluarganya adalah kiai yang memiliki pesantren. Sementara dari jalur ayah, mereka bekerja sebagai pengusaha. Meski demikian, semua anak-anaknya disekolahkan di sekolah agama dan pesantren.
Ia merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Sebagian besar anggota keluarganya menekuni dunia keagamaan dan pendidikan. Salah satu kakaknya, Amtur Rahman Hafiz, aktif sebagai Wakil Ketua MUI Jawa Timur serta Ketua PWNU Jawa Timur. Kiai Cholil menikah dengan Fairuz dan dikaruniai empat anak: Najma, Najwa, Hasby Cholili, dan ’Aisyah Farhana. Mereka tinggal di Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Dari empat saudara, tiga di antaranya menekuni bidang keagamaan dan pendidikan. Mereka juga menjadi pengasuh pesantren. Sementara satu saudara lainnya meneruskan bisnis keluarga.
Pendidikan dan Karier Akademik
Pria yang kini akrab dengan kacamata dan peci hitam ini sudah akrab dengan Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik sejak kecil. Pendidikan formalnya dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Syafi’iyah Al-Ihsan Jrangoan, Sampang, kemudian Madrasah Tsanawiyah Pesantren Sidogiri, Pasuruan, dan Madrasah Aliyah Al Miftah, Pamekasan.
Jenjang pendidikan tinggi ia lanjutkan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dengan gelar Lc, serta meraih gelar S.Ag dari Sekolah Tinggi Agama Islam Az-Ziyadah Jakarta. Pascasarjana ia selesaikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan gelar M.A, dan doktoralnya di Universitas Malaya, Malaysia, dengan konsentrasi ekonomi syariah.
Selain pendidikan formal, Kiai Cholil mengikuti berbagai kursus bahasa, kaderisasi ulama, serta sertifikasi pengawas syariah di tingkat nasional dan internasional.
Sertifikasi dan Jabatan
Kiai Cholil memiliki sertifikasi pengawas syariah dari Dewan Syariah Nasional dan Bank Indonesia, serta pernah menjalani post-doctoral di Muhammad V University, Maroko. Ia berstatus PNS dengan pangkat Pembina IVB dan jabatan Lektor Kepala.
Sejak 2004, ia menjadi Staf Pengajar Ekonomi dan Keuangan Syariah Pascasarjana Universitas Indonesia, serta mengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Institut Pembina Rohani Islam Jakarta, dan Sekolah Tinggi Al-Qur’an Al-Hikam, Depok.
Kiprah dalam Organisasi
Kiai Cholil juga aktif sebagai Dewan Pengawas Syariah di berbagai lembaga keuangan syariah, termasuk Pegadaian Syariah, Kresna Multi Finance, ACE Life Assurance, dan sejumlah koperasi serta asuransi syariah.
Sejak mahasiswa, ia dikenal sebagai aktivis. Kini menjabat Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI Pusat, Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ualama (PWNU) Jawa Barat, Ra’is Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), serta Wakil Ketua Umum MUI. Sebelumnya ia pernah menjabat di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), MUI Jakarta, dan PBNU.
Sebagai Ketua Komisi Dakwah, ia banyak memberikan pendapat tentang masalah kontemporer seperti dakwah di televisi, kasus penistaan agama, nasionalisme dalam Islam, hingga BPJS Kesehatan sesuai syariah.
Aktivitas Sosial dan Internasional
Kiai Cholil membina Yayasan Investasi Cendekia Amanah dan mengasuh Pesantren Cendekia Amanah di Depok. Ia mendirikan BMT Wakaf (koperasi simpan pinjam berbasis wakaf) serta menggagas program Berantas Buta Al-Qur’an (BBQ).
Di tingkat internasional, ia aktif sebagai Ketua Bidang Keagamaan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) dan Ketua Forum Antar Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (FAPSEDU).
Cerita di Balik Panggilan “Kiai”
Memasuki masa kuliah di Jakarta, Kiai Cholil aktif di PMII. Saat itu, ia bercita-cita menjadi aktivis dan intelektual. “Saya inginnya itu menjadi aktivis, menjadi intelektual. Menurut saya itu yang hebat kalau dia ngisi seminar, kalau jadi dosen. Jadi berpikirnya itu lebih pada yang umum,” katanya.
Namun, ada “kecelakaan” yang mengubah arah hidupnya. Dia bertemu dengan almarhum Mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dan diminta mendampingi ceramah di salah satu stasiun televisi swasta. “Satu saat saya ketemu dengan Ki Hasyim Muzadi, diminta menemani beliau ngisi ceramah di TV. Nah kebiasaan, itulah saya dipanggil kiai,” ungkapnya.
Sebelum itu, Kiai Cholil memang kerap tampil di televisi sebagai narasumber. Namun, ia hadir dalam kapasitas akademisi atau ilmuwan yang membahas isu-isu keislaman dan sosial. “Saya itu ngisi di beberapa stasiun TV memang ngisi, tetapi sebagai ilmuwan. Ada beberapa instansi itu berkenaan dengan keislaman, kesehatan, keluarga berencana, dan seterusnya. Tapi posisi sebagai agamawan, bukan kiai,” ujarnya.
Setelah mendampingi Hasyim Muzadi dalam ceramah di televisi, undangan ceramah datang silih berganti. Sejak saat itu pula, publik mulai menyematkan panggilan “kiai” kepada dirinya. “Tapi diajak Ki Hasyim Muzadi untuk ceramah di salah satu TV. Akhirnya saya diundang ceramah di TV itu. Saya akhirnya dipanggil kiai,” katanya.
Bagi Kiai Cholil, perjalanan tersebut menjadi pelajaran bahwa jalan hidup sering kali tidak berjalan sesuai rencana.











