Tradisi Ngabuburit dan Hukumnya dalam Islam
Ngabuburit merupakan salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia saat menjelang waktu berbuka puasa. Kata ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yaitu “ngalantung ngadagoan burit”. Istilah ini memiliki arti bersantai sambil menunggu waktu sore. Seiring berjalannya waktu, istilah ini digunakan untuk menyebut kegiatan yang dilakukan untuk menunggu waktu berbuka puasa.
Biasanya, ngabuburit diisi dengan kegiatan seperti berburu takjil, jalan-jalan sore, atau sekedar berkumpul bersama kerabat dan sahabat. Namun, sejumlah ulama menjelaskan bahwa ngabuburit saat puasa sebetulnya tidak dilarang. Namun ada beberapa catatan penting yang perlu diketahui oleh umat Islam saat melakukan ngabuburit.
Salah satunya adalah menjaga pandangan terhadap lawan jenis. Jika ini terjadi, maka pahala puasa akan hangus. Atau ketika ngabuburit dengan nongkrong dan ngobrol bersama teman-teman, jangan sampai topik pembahasannya adalah hal-hal yang mengundang dosa, seperti tentang adu domba, menggosipi orang lain, berbohong dan sumpah palsu. Hal ini bisa menyebabkan puasa menjadi sia-sia.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW:
“الصَّوْمُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا. بِمَ يُخْرِقُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكَذْبٍ أَوْ بِسَبَّابٍ أَوْ بِغِيْبَةٍ أَوْ نَمِيْمَةٍ”
Artinya, “Puasa adalah benteng, selama engkau tidak membakarnya. Para sahabat bertanya: “Dengan apa bisa membakarnya, wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab: “Dengan berbohong, berkata kotor, membicarakan keburukan orang lain, dan adu domba”.” (HR An-Nasa’i).
Dengan demikian, sebaiknya mengisi waktu menunggu berbuka puasa dengan hal-hal yang bermanfaat.
Tips Ngabuburit Bermanfaat dan Menghasilkan Pahala Melimpah
- Menuntut Ilmu
Mendengarkan kajian Ramadhan juga bisa menjadi pilihan tepat untuk mengisi waktu ngabuburit. Terlebih di era digital, kita bisa mengakses banyak kajian keislaman di media sosial. Banyak para pendakwah milenial membuat konten islami. Selain itu, tidak sedikit pula kiai-kiai pesantren yang melakukan live streaming pengajian dari pesantren masing-masing.
Ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang menyinggung soal keutamaan dan pahala menuntut ilmu. Salah satunya sabda Rasulullah saw,
“وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ”
Artinya, “Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah seperti keutamaan bulan di malam purnama dibanding seluruh bintang-bintang.” (HR Abu Dawud).
- I’tikaf di Masjid
Menghabiskan waktu ngabuburit dengan beri’tikaf di masjid juga memiliki nilai pahala yang cukup tinggi. I’tikaf dilakukan dengan berdiam diri di dalam masjid sambil memperbanyak ibadah seperti shalat sunah, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.
Hal ini sudah biasa dilakukan oleh Rasulullah saw. Dalam satu hadits disebutkan,
“كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ”
Artinya, “Rasulullah saw melaksanakan i’tikaf pada sepuluh (malam) terakhir dari bulan Ramadhan sampai beliau wafat, lalu (dilanjutkan) istri-istrinya yang i’tikaf sepeninggalnya.” (HR Al-Bukhari).
Hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah saw menjadikan sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan untuk banyak beri’tikaf di masjid. Sebab, waktu-waktu tersebut merupakan momen potensial terjadinya Lailatul Qadar. Meski demikian, tidak ada salahnya jika kita beri’tikaf selama satu bulan penuh, sebab waktu terjadinya Lailatul Qadar juga berpotensi di selain sepuluh hari terakhir.
- Tadarus Al-Quran
Bulan Ramadhan dikenal dengan syahrul quran (bulan Al-Quran). Rasulullah SAW menjadikan momen Ramadhan untuk memberikan perhatian lebih kepada Al-Quran. Ibnu Rajab Al-Hambali dalam Bughyatul Insān fī Wadzā’ifi Ramadhān saat menjelaskan anjuran perbanyak tadarus Al-Qur’an di bulan puasa mengutip hadits berikut,
“عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ”
Artinya, “Dari Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah saw adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril as menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah saw orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus.” (HR Al-Bukhari).











