My WordPress Blog
Bisnis  

Menanti layanan Bank Jambi pulih, nasabah khawatirkan kinerja perusahaan

Gangguan Sistem Bank Jambi Mengganggu Aktivitas Nasabah

Gangguan sistem yang terjadi di Bank Jambi hingga saat ini membuat banyak nasabah kesulitan dalam bertransaksi. Dari tarik tunai hingga layanan digital, aktivitas perbankan ikut terdampak. Banyak nasabah mengeluhkan ketidaknyamanan yang mereka alami akibat gangguan ini.

Harapan ribuan nasabah kini tertuju pada pemulihan sistem Bank Jambi. Di tengah aktivitas ekonomi yang terus berjalan, masyarakat berharap layanan perbankan segera kembali pulih tanpa hambatan. Namun, sampai saat ini, layanan seperti ATM, CRM, dan mobile banking masih belum kembali normal.

Antrean Panjang di Kantor Cabang

Tak sedikit nasabah yang mayoritas bekerja sebagai ASN di tiap Kabupaten/Kota mengorbankan waktu kerja untuk mengantre lebih lama demi mengambil uang mereka di Bank Jambi. Diketahui hingga kini layanan tersebut yang terjadi sejak Minggu (22/2/2026) belum juga kembali normal.

Di Muara Bulian, hingga Selasa (3/3/2026), ratusan nasabah masih terlihat mengantre untuk melakukan penarikan dana secara langsung melalui teller. Pantauan Tribun Jambi sekira pukul 11.36 WIB, antrean tampak memadati ruang pelayanan. Sejumlah warga dan ASN menunggu giliran dengan nomor antrean di tangan.

Diantara nasabah, Sufriadi ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batang Hari, mengaku sudah mengantre sejak pukul 09.00 WIB. Ia menyebut antrean panjang cukup menyita waktu kerja. “Kalau pekerjaan masih banyak, otomatis ada yang tertinggal karena harus antre lama seperti ini,” katanya.

Menurutnya, sistem antrean di dalam kantor cabang sebenarnya berjalan tertib dan kondusif. Namun, lamanya waktu tunggu tetap menjadi persoalan, terlebih di bulan Ramadan. “Kalau sistem antre bagus dan kondusif, tapi kami yang sudah berumur tentu terasa berat kalau harus lama menunggu. Apalagi suasana Ramadan,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, jika gangguan sistem tidak segera dibenahi, dikhawatirkan kepercayaan nasabah akan menurun. “Kalau sistemnya masih seperti ini, nasabah bisa lari. Karena yang paling banyak itu ASN,” ungkapnya.

Keluhan Nasabah Lain

Keluhan senada disampaikan Suharto, PPPK yang juga menjadi nasabah Bank Jambi. Ia mengatakan hingga hari kesembilan sejak gangguan terjadi, layanan ATM dan mobile banking masih belum dapat digunakan. “Untuk saat ini M-banking dan ATM memang belum bisa. Jadi harus tarik langsung ke teller,” jelasnya.

Ia mengaku baru selesai dilayani sekira pukul 11.43 WIB setelah mengantre sejak pagi. Meski demikian, ia menilai pelayanan petugas tetap berjalan baik di tengah lonjakan nasabah. “Sejauh ini pelayanan masih bagus, hanya memang ramai jadi harus sabar antre,” ujarnya.

Ia mengakui adanya kekhawatiran di kalangan nasabah, namun memastikan dana tetap dapat dicairkan secara langsung di kantor cabang. “Kalau khawatir tentu ada, tapi uang masih bisa diambil dan aman,” katanya.

Pernyataan dari Direktur Utama Bank Jambi

Pihak Bank Jambi akui belum tahu kapan layanan ATM dan Mobile Banking normal lagi. Direktur Utama Bank Jambi Khairul Suhairi menegaskan kondisi keuangan bank tetap stabil meski sempat terjadi lonjakan penarikan tunai oleh nasabah. Ia menyebut likuiditas dan keamanan data tetap terjaga hingga saat ini.

“Sampai hari ini masih aman-aman semua, dan semua rahasia juga terjaga dengan baik,” katanya. Operasional perbankan, lanjutnya, berjalan normal untuk layanan transaksi langsung, meskipun beberapa kanal digital masih dihentikan sementara.

Layanan yang masih dibekukan meliputi ATM dan Mobile Banking sebagai langkah antisipasi agar sistem benar-benar bersih sebelum kembali diaktifkan. “Kalau nanti kita buka terlalu cepat, takutnya justru memperparah keadaan. Jadi kita jaga supaya kondusif,” ujarnya.

Hingga kini, manajemen belum dapat memastikan kapan kedua layanan tersebut bisa kembali beroperasi sepenuhnya karena masih menunggu hasil asesmen dari BI. Upaya pembukaan kembali sempat diajukan, khususnya untuk transaksi on us atau penarikan melalui mesin ATM Bank Jambi sendiri, namun hasil evaluasi menyarankan perlunya pembangunan ulang sistem.

“Berdasarkan assessment BI, kami harus melakukan rebuild ekosistemnya. Itu yang membutuhkan waktu,” jelas Khairul. Proses rebuild tersebut, lanjut dia, bukan sekadar pembaruan perangkat lunak, melainkan juga mencakup penggantian perangkat keras demi memastikan tidak ada celah yang tersisa.

Menurutnya, menggunakan kembali perangkat lama justru berisiko tinggi terhadap potensi serangan serupa. “Kita harus ganti perangkat dan aplikasi. Kalau pakai yang lama lagi, itu seperti bunuh diri,” tegasnya.

Walaupun proses pemulihan membutuhkan waktu, manajemen memastikan komitmen untuk mempercepat normalisasi layanan dengan tetap mengedepankan keamanan sistem. Kekhawatiran terbesar, kata dia, adalah kemungkinan ancaman siber masih tersimpan dalam sistem dan kembali aktif jika layanan dibuka tergesa-gesa.

“Kalau dibuka dan ternyata masih ada di dalam, bisa lebih berdarah-darah lagi dampaknya,” ucapnya.

Terkait jumlah nasabah terdampak serta total dana yang sempat terdebet, pihak bank menyatakan data detail masih dalam tahap verifikasi lanjutan. Namun demikian, hasil verifikasi internal memastikan seluruh dana yang sempat berkurang telah dikembalikan secara utuh kepada pemilik rekening.

“Itu masih menunggu hasil final. Tapi berdasarkan verifikasi kami, yang terdampak sudah kita kembalikan sepenuhnya,” pungkasnya.


Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *