Kilang Ras Tanura Dihentikan Total Akibat Serangan Drone Iran
Kilang minyak terbesar di Arab Saudi, Ras Tanura, mengalami penutupan total akibat serangan drone Iran. Kejadian ini terjadi pada Senin (2/3/2026) setelah pesawat nirawak yang ditembak jatuh oleh sistem pertahanan negara tersebut menyebabkan kebakaran dan kepulan asap hitam pekat. Meskipun pesawat itu berhasil dicegat sebelum mencapai instalasi vital, pecahannya tetap memicu api yang langsung mengguncang pasar energi global.
Harga minyak Brent sebagai acuan utama dunia melonjak hingga 79,56 dolar AS per barel (sekitar Rp1,34 juta) pada pukul 11.51 waktu Uni Emirat Arab. Insiden ini menunjukkan betapa sensitifnya stabilitas energi global terhadap ancaman keamanan di kawasan Teluk Persia.
Ras Tanura merupakan kilang minyak tertua di sepanjang pesisir Teluk Persia dan berlokasi dekat kawasan industri Jubail di Provinsi Timur Arab Saudi. Fasilitas ini mampu mengolah hingga 550 ribu barel minyak mentah per hari yang pasokannya berasal dari ladang besar kerajaan, termasuk Ghawar sebagai ladang konvensional terbesar di dunia, serta Abqaiq dan Khurais. Produk olahan dari kompleks ini sebagian besar dipasok untuk kebutuhan domestik melalui bulk plant Dhahran, sedangkan sisanya dikapalkan ke berbagai negara di Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, juga ke kawasan Eropa. Di lokasi yang sama berdiri salah satu terminal ekspor minyak terbesar secara global.
Serangan tersebut menjadi catatan pertama aksi langsung Iran yang menargetkan fasilitas energi di wilayah Teluk. Provinsi Timur dikenal sebagai pusat infrastruktur minyak dan gas, mulai dari kilang hingga jaringan pipa dan pusat pemrosesan. Beberapa waktu sebelumnya, terminal gas petroleum cair (LPG) Juaymah yang berada tak jauh dari ladang gas Jafurah dan kilang Ras Tanura sempat mengalami gangguan distribusi.

Ketegangan Regional Memicu Rangkaian Serangan Lintas Negara
Serangan drone ke Ras Tanura terjadi di tengah eskalasi yang melibatkan Iran, kelompok proksinya, Israel, serta Amerika Serikat (AS). Bahkan, rudal dan drone yang dilepaskan Iran bersama sekutunya menghantam sejumlah sasaran di Israel dan negara-negara Teluk, termasuk kompleks Kedutaan Besar AS di Kuwait.
Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan beberapa jet tempur AS jatuh di wilayahnya dan para pilot telah dirawat di rumah sakit dalam kondisi stabil. Sebelum kompleks kedutaan diserang, AS sempat meminta warganya mencari perlindungan, dan hingga saat itu tak ada laporan korban jiwa langsung di lokasi tersebut.
Sebagai respons, AS dan Israel meluncurkan serangan udara ke lokasi rudal, fasilitas angkatan laut, serta pangkalan militer Iran. Militer AS menyatakan pembom siluman B-2 menjatuhkan bom seberat 2 ribu pon ke fasilitas rudal balistik Iran. Presiden AS Donald Trump menyampaikan kemungkinan konflik akan terus berlanjut.
“Sayangnya, kemungkinan besar akan ada lebih banyak lagi sebelum ini berakhir. Begitulah adanya,” katanya. Trump juga menegaskan operasi tempur akan berjalan hingga seluruh target tercapai dan mengklaim sembilan kapal perang Iran telah ditenggelamkan serta sebagian besar markas angkatan lautnya hancur. Pejabat keamanan Iran Ali Larijani melalui X menyatakan negaranya tak akan berunding dengan AS.
Dari Lebanon, kelompok Hizbullah menembakkan rudal ke wilayah Israel sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei bersama sejumlah pejabat senior lain akhir pekan lalu serta aksi berulang Israel. Otoritas Israel menyebut satu rudal berhasil dicegat, sementara lainnya jatuh di area terbuka.

Serangan Balasan Memperluas Dampak Korban di Berbagai Negara
Gempuran Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 149 lainnya, sehingga pemerintah Lebanon langsung menggelar rapat darurat. Situasi ini menambah daftar korban di kawasan yang terdampak konflik.
Serangan dari Iran juga menjalar ke sejumlah negara Teluk lain dengan tiga korban tewas di Uni Emirat Arab, satu orang di Kuwait, dan satu di Bahrain. Walau mayoritas rudal dan drone berhasil dicegat, serpihannya tetap menyebabkan korban serta merusak sejumlah properti.
Di wilayah Iran, lebih dari 200 orang dilaporkan meninggal sejak gelombang balasan dimulai. Jalan-jalan di Teheran tampak lengang karena warga memilih berlindung, sementara pasukan paramiliter Basij mendirikan pos pemeriksaan di berbagai sudut kota.
Sementara itu di Israel, rudal Iran menghantam beberapa titik termasuk Yerusalem dan sebuah sinagoge di Beit Shemesh, menewaskan sembilan orang serta melukai 28 lainnya. Secara keseluruhan, jumlah korban tewas di Israel akibat rangkaian serangan tersebut mencapai 11 orang.
Direktur regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Hanan Balkhy, menyoroti perlindungan warga sipil melalui media sosial.
“Perlindungan terhadap warga sipil dan layanan kesehatan harus mutlak. Semua pihak harus … memastikan fasilitas medis tetap terlindungi,” tulis WHO.
Inggris, Prancis, dan Jerman menyerukan semua pihak untuk menahan diri, namun operasi militer dilaporkan masih berlangsung di berbagai front.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











