My WordPress Blog

Lebanon dan Pakistan Dalam Kekacauan, Ratusan Tewas dan Ribuan Mengungsi

Situasi Kekacauan di Pakistan dan Lebanon Akibat Serangan AS-Israel ke Iran

Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu situasi kacau di berbagai wilayah, termasuk Pakistan dan Lebanon. Puluhan orang tewas dan ribuan warga mengungsi akibat kekacauan yang terjadi.

22 Orang Tewas di Pakistan

Di Pakistan, pemerintah memberlakukan jam malam setelah protes mematikan terhadap serangan AS-Israel di Iran yang menewaskan 22 orang. Jam malam selama tiga hari diberlakukan di kota-kota utara Gilgit dan Skardu. Sebelumnya, ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes serangan tersebut. Demonstran Syiah juga menyerang kantor Kelompok Pengamat Militer PBB yang memantau gencatan senjata di sepanjang wilayah Himalaya Kashmir yang disengketakan, serta Program Pembangunan PBB di kota Skardu.

Menurut para pejabat, para pengunjuk rasa juga membakar kantor polisi dan merusak sebuah sekolah serta kantor sebuah badan amal lokal di Gilgit. Asap terlihat mengepul dari gedung kantor PBB, setelah gedung tersebut dibakar oleh para demonstran pada hari Minggu (1/3/2026). Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyatakan bahwa keselamatan dan keamanan personel dan fasilitas PBB tetap menjadi prioritas utama.

Jam Malam

Shabir Mir, Juru Bicara Pemerintah Gilgit-Baltistan, mengatakan bahwa situasi terkendali dan jam malam akan tetap berlaku hingga hari Rabu mendatang. Polisi telah mendesak warga untuk tetap berada di dalam rumah, dengan alasan kondisi ketertiban dan keamanan yang memburuk.

Konsulat AS di Karachi Diserbu

Sementara itu, di Karachi, setidaknya 10 orang tewas dan hampir 120 orang terluka ketika para pengunjuk rasa menyerbu konsulat Amerika Serikat, menghancurkan jendela-jendelanya, dan mencoba membakar konsulat tersebut. Sebanyak 12 orang lainnya juga tewas dan sekitar 80 orang terluka dalam bentrokan dengan polisi di Gilgit-Baltistan.

Kematian pemimpin tertinggi berusia 86 tahun itu dalam serangan AS-Israel pada hari Sabtu (28/2/2026) menuai kecaman dari seluruh dunia dan memicu protes di beberapa negara terutama oleh Muslim Syiah yang menghormatinya sebagai otoritas agama. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengutuk pembunuhan itu sebagai kejahatan besar.

Presiden Asif: Pakistan Berdiri Bersama Bangsa Iran

Presiden Pakistan Asif Ali Zardari juga mengatakan kesedihan mendalam atas kemartiran Khamenei dan menyampaikan belasungkawa kepada Teheran. “Pakistan berdiri bersama bangsa Iran di saat duka ini dan turut merasakan kehilangan mereka,” kata kantornya mengutip pernyataan Zardari.

Kedutaan Besar AS di Pakistan mengatakan bahwa mereka memantau laporan demonstrasi yang sedang berlangsung di konsulat di Karachi dan Lahore serta seruan untuk protes di kedutaan di Islamabad dan konsulat di Peshawar. Bentrokan tersebut mendorong Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi untuk menyerukan ketenangan setelah kemartiran Ayatollah Khamenei.

Pemerintah provinsi Sindh, yang ibu kotanya adalah Karachi, memperingatkan masyarakat agar tidak terlibat dalam kekerasan. Di Irak, pasukan keamanan menembakkan gas air mata kepada para demonstran yang mencoba memasuki Zona Hijau yang dibentengi, tempat kedutaan besar Amerika Serikat di Baghdad berada. Para demonstran yang mengibarkan bendera kelompok bersenjata pro-Iran dilaporkan melemparkan batu ke arah pasukan keamanan saat ketegangan meningkat di Baghdad, Irak. Protes tersebut tidak terbatas di ibu kota, menurut laporan media lokal, dengan demonstrasi juga terjadi di seluruh Irak selatan.

Di Asia Selatan, para pelayat Syiah turun ke jalan untuk mengungkapkan kesedihan dan kemarahan atas pembunuhan Khamenei. Di wilayah Himalaya Kashmir yang bergejolak di India, rumah bagi sekitar 1,5 juta penganut Syiah, puluhan ribu demonstran terlihat memukul dada mereka sebagai tanda duka cita sambil meneriakkan, “Matilah Amerika” dan “Matilah Israel”. Di ibu kota India, New Delhi, para pelayat Syiah meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintahan Donald Trump saat mereka berduka atas kematian Khamenei.

Lebanon Mencekam

Sementara itu, situasi di Lebanon berubah mencekam setelah gelombang serangan udara Israel memicu kepanikan besar di berbagai wilayah, Senin (2/3/2026). Ribuan warga kocar-kacir meninggalkan rumah mereka menyusul peringatan evakuasi yang dikeluarkan militer Israel di tengah eskalasi konflik dengan Hizbullah.

Konflik Israel dengan Hizbullah

Ketegangan ini memperbesar kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka Israel–Hizbullah yang dapat menyeret kawasan Timur Tengah ke konflik lebih luas. Militer Israel melalui juru bicaranya, Ella Waweya, meminta warga di lebih dari 50 kota dan desa di Lebanon selatan serta timur untuk segera menjauh minimal 1.000 meter dari tempat tinggal mereka.

Tak lama setelah peringatan itu, eksodus massal terjadi dari Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah serta sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Jalan raya menuju Beirut macet total. Mobil dan sepeda motor berjejer panjang. Sebagian warga bahkan melarikan diri dengan berjalan kaki, membawa tas seadanya.

Puluhan sekolah dibuka sebagai tempat penampungan darurat. Beberapa keluarga terlihat bertahan di jalanan pusat kota dan kawasan tepi laut Beirut karena tidak memiliki tempat tujuan. Seorang ayah dari tiga anak, yang meminta identitasnya dirahasiakan, menggambarkan kepanikan yang terjadi saat serangan dimulai.

Kronologi Eskalasi: Balas Dendam hingga Serangan Balasan

Eskalasi konflik bermula ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket dan drone ke Israel utara sebagai “balas dendam” atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam operasi gabungan AS–Israel di Teheran. Sebagai respons, Israel menggempur sejumlah titik strategis di Lebanon melalui serangan udara besar-besaran. Target serangan meliputi Dahiyeh di pinggiran selatan Beirut, sejumlah kota di Lebanon selatan, hingga Lembah Beqaa di bagian timur negara itu.

Pemerintah Israel menyatakan serangan tersebut menyasar fasilitas dan personil Hizbullah yang dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata tahun 2024. Namun nyatanya dampak serangan itu cukup besar. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 31 orang tewas dan 149 lainnya luka-luka. Dari jumlah tersebut, 20 korban tewas dan 91 orang luka berada di Beirut, sementara 11 korban tewas dan 58 luka-luka tercatat di wilayah selatan Lebanon.

Situasi ini mengingatkan kembali pada perang besar tahun 2024 yang menyebabkan kehancuran luas di Lebanon dan menewaskan banyak warga sipil. Konflik tersebut juga melemahkan struktur komando Hizbullah, termasuk tewasnya pemimpin lamanya, Hassan Nasrallah.

Sejak gencatan senjata diberlakukan, Israel masih melakukan serangan berkala di wilayah selatan Lebanon, namun serangan roket terbaru yang diklaim Hizbullah kini menjadi titik balik baru dalam dinamika konflik. Eskalasi terbaru ini terjadi saat pemerintah Lebanon berupaya mencegah Hizbullah terlibat dalam perang regional yang lebih luas, khususnya yang berkaitan dengan Iran.

Dengan meningkatnya intensitas serangan udara, munculnya gelombang pengungsian warga sipil, serta ancaman langsung terhadap pimpinan Hizbullah, risiko perang terbuka di kawasan semakin besar. Lebanon kini kembali berada di persimpangan krisis antara menjaga stabilitas dalam negeri atau terseret lebih jauh ke dalam pusaran konflik Timur Tengah yang kian memanas.




Gusun Fawaida

Gusun Fawaida merupakan seorang Penulis yang fokus pada isu lingkungan kerja, produktivitas, dan human interest. Ia senang mengamati perilaku manusia, membaca buku self-improvement, dan minum kopi sambil menulis ide. Motto: “Tulislah untuk memberi dampak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *