Krisis Penerbangan Global Akibat Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Krisis penerbangan terbesar sejak pandemi Covid-19 kembali muncul akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Lebih dari 1.500 penerbangan ke kawasan Timur Tengah dibatalkan dalam waktu singkat, termasuk rute menuju bandara utama seperti Dubai dan Doha yang menghentikan operasionalnya. Situasi ini memicu kekacauan bagi jemaah umrah di Arab Saudi yang kini terjebak dalam ketidakpastian.
Dampak Terhadap Penerbangan dan Jemaah Umrah
Serangan balasan Iran atas operasi militer AS-Israel telah memicu penutupan sebagian wilayah udara oleh beberapa negara seperti Iran, Irak, Israel, Suriah, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Bandara-bandara utama di kawasan tersebut kini tidak beroperasi secara normal, memaksa maskapai global untuk mengalihkan rute atau membatalkan jadwal penerbangan. Salah satu contohnya adalah Dubai International Airport, yang menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia untuk penerbangan internasional, dilaporkan menjadi target serangan Iran.
Perusahaan analitik penerbangan Cirium melaporkan bahwa lebih dari 1.500 penerbangan ke Timur Tengah dibatalkan dalam sehari, sementara situs pelacakan FlightAware mencatat lebih dari 2.700 penerbangan global dibatalkan dan 12.300 lainnya mengalami keterlambatan. Hal ini menyebabkan kerugian finansial yang diperkirakan mencapai ratusan juta euro.
Keadaan di Bandara dan Pengalaman Penumpang
Dampak krisis ini terasa hingga ke berbagai penjuru dunia. Di Bandara Ngurah Rai Bali, penumpang terlihat memadati kantor layanan maskapai setelah penerbangan ke Doha, Dubai, dan Abu Dhabi dibatalkan. Di India, dua maskapai swasta terbesar, IndiGo dan Air India, menghentikan seluruh penerbangan ke Timur Tengah. Terminal keberangkatan di Chhatrapati Shivaji Maharaj International Airport dipenuhi calon penumpang yang kebingungan.
Seorang rapper Italia, BigMama, mengungkapkan pengalamannya saat penerbangannya dari Maladewa dialihkan ke gurun dekat Dubai. Ia mengaku sangat ketakutan karena mendengar suara rudal di atas kepala dan belum mengetahui kapan bisa pulang.
Negara-Negara Mulai Siapkan Evakuasi
Beberapa negara mulai menyiapkan langkah evakuasi. Prancis dan Thailand menyatakan tengah mempertimbangkan pemulangan warga dari kawasan konflik. Presiden Asosiasi Operator Tur Prancis (SETO), Patrice Caradec, mengatakan pihaknya berupaya membangun “jembatan udara” melalui hub alternatif seperti Istanbul.
Ledakan juga dilaporkan mengguncang kawasan Palm Jumeirah di Dubai, sementara puing drone menyebabkan kebakaran di hotel mewah Burj Al Arab. Seorang turis Prancis, Claudine Schwartz, mengaku mendengar ledakan dan melihat asap hitam membumbung. Para tamu hotel diminta berlindung di lantai terbawah gedung.
Jemaah Umrah Terlantar di Arab Saudi
Jemaah umrah dari berbagai negara, termasuk Afrika Selatan, kini terlantar di Arab Saudi setelah gelombang pembatalan penerbangan melanda kawasan Timur Tengah. Salah satu jemaah, Yaseen Abrahams, mengungkapkan bahwa situasi ini bukan hanya tentang pembatalan penerbangan, tetapi juga tekanan finansial yang dihadapi para jemaah.
“Salah satu faktor utama sekarang adalah beban biaya yang harus ditanggung para peziarah yang masih berada di kota-kota suci. Ketersediaan hotel menjadi tantangan besar, apalagi saat ini adalah bulan yang sangat suci dan penuh berkah bagi umat Islam,” ujarnya.
Meski demikian, ia menyebut solidaritas sesama warga Afrika Selatan di Arab Saudi cukup membantu. Sejumlah relawan dan komunitas setempat telah menyediakan akomodasi sementara dan makanan gratis bagi jemaah yang terdampak.
Imbauan dari Kemenhaj dan Kemenlu Indonesia
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meminta semua calon jemaah umrah untuk membatalkan keberangkatan seluruh calon jemaah umrah dalam waktu dekat ini. Para jemaah diminta menunda keberangkatan demi alasan keamanan. Keputusan tersebut juga diperkuat dengan surat resmi dari Kementerian Luar Negeri yang juga resmi meminta penundaan keberangkatan ke daerah Timur Tengah.
Menyusul makin meluaskan eskalasi konflik Timur Tengah, keselamatan perjalanan ke Timur Tengah dipertaruhkan. Untuk itu, Kemenlu meminta penundaan kepada jemaah umrah yang hendak berangkat ke Arab Saudi. Tidak hanya jemaah umrah yang hendak berangkat, seluruh warga negara Indonesia yang hendak bepergian ke Timur Tengah juga diminta untuk menunda.
Keselamatan Jemaah Umrah
Plt Kepala Kanwil Kemenhaj Jatim, Asadul Anam, menuturkan bahwa pihaknya juga meminta seluruh penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) untuk mempertimbangkan betul risiko keselamatan jemaah. “Kemenhaj pusat sudah resmi meminta semua jemaah umrah yang hendak berangkat ditunda dulu. Kemenhaj Jatim siap melanjutkan keputusan itu hingga sampai ke jemaah umrah melalui PPIU di Jatim,” kata Anam.
Banyak Pilih Umrah Ramadan
Momen Ramadan bagi calon jemaah umrah menjadi saat yang paling dinantikan. Banyak jemaah umrah lebih memilih bulan suci Ramadan untuk berangkat ibadah umrah. Namun kondisi keamanan Timur Tengah bisa berpotensi mengancam keamanan wilayah. Termasuk keamanan jemaah umrah juga menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia.











