Kehidupan Warga Binaan di Lapas Perempuan Bandung Selama Ramadhan
Di tengah suasana Ramadhan 2026, warga binaan di Lapas Perempuan Bandung menunjukkan semangat tinggi dalam menjalani berbagai aktivitas keagamaan dan pembinaan diri. Salah satu program yang menjadi fokus utama adalah tadarus Al-Qur’an dengan konsep one day one juz, yang dilaksanakan setiap hari di Aula Kartini.
Aula Kartini, yang biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan pembinaan, kini berubah menjadi ruang kontemplasi bagi para warga binaan. Di sana, mereka memperbaiki diri melalui kegiatan spiritual yang terstruktur dan disiplin. Setiap hari, satu juz Al-Qur’an ditargetkan selesai dibaca bersama-sama. Namun, tujuan utamanya bukan hanya sekadar menghabiskan satu juz, tetapi juga membangun kedisiplinan spiritual dan kesadaran akan pentingnya membaca Al-Qur’an secara rutin.
Program ini dipimpin oleh petugas lapas, yang memastikan semua kegiatan berjalan tertib dan sesuai rencana. Suara tilawah mulai bersahutan setiap pagi, saat warga binaan berkumpul untuk membaca ayat-ayat suci secara serentak. Meskipun ada yang terbata di awal, namun kekompakan dan semangat membuat kegiatan ini berjalan lancar.
Salah satu peserta, Vera, mengaku sangat antusias mengikuti program ini selama Ramadhan. Ia menyebutkan bahwa kegiatan ini memberinya rasa kenyamanan dan kebugaran jiwa. “Alhamdulillah selama Ramadhan di sini, pagi-pagi diisi dengan tadarus one day one juz dan dari hari pertama sampai sekarang saya terus mengikuti dan itu terasa kena badan, terasa lebih sehat apalagi ngaji satu juz lumayan panjang juga,” ujar Vera.
Setelah selesai membaca Al-Qur’an, Vera melanjutkan aktivitas membatik sebagai pos kerjanya di Lapas Perempuan Bandung. Ia berharap, Ramadhan kali ini bisa menjadi titik balik bagi kehidupannya dan masa depannya.
Selain Vera, banyak warga binaan lain yang memiliki aktivitas berbeda setelah sesi tadarus. Beberapa mengikuti kelas bahasa Mandarin, di mana mereka belajar kosakata dasar dengan penuh kesungguhan. Di perpustakaan kecil lapas, suasana tidak kalah hidup. Banyak warga binaan yang memilih membaca buku motivasi atau keagamaan untuk memperkaya wawasan mereka.
Anggita, salah satu warga binaan lain, mengungkapkan bahwa ia lebih senang membaca di perpustakaan setelah selesai tadarus. “Kegiatan kita di sini biasanya tadarus, one day one juz terus kita juga ada tausyiah, kemudian lanjut pos kerja, ada berkebun, menjahit dan segala macam, terus juga malamnya ada tarawih. Kalau aku lebih seneng baca buku aja,” ujarnya.
Di ruang keterampilan, aroma kue panggang menyeruak dari kelas bakery. Warga binaan tampak terampil dalam memproses adonan roti dan membentuknya dengan cekatan. Hasil karya mereka digunakan untuk kebutuhan lapas atau dipasarkan ke pihak ketiga. Di samping itu, beberapa warga binaan juga aktif dalam kegiatan seperti salon dan membatik, di mana mereka mencanting kain dengan pola tradisional.
Di halaman dalam, sebagian warga binaan merawat kebun kecil yang berisi cabai, kangkung, dan tanaman obat. Semua aktivitas ini merupakan bagian dari program pembinaan kepribadian yang diterapkan selama Ramadhan.
Kalapas Perempuan Bandung, Gayatri Rachmi Rilowati, menjelaskan bahwa semua aktivitas yang diikuti warga binaan merupakan program mandiri yang rutin dilakukan. Hanya saja, pada Ramadhan kali ini, ada penekanan pada program one day one juz sebagai bentuk pembinaan kepribadian.
“Kegiatan pembinaan kepribadian, yaitu one day one juz dipagi hari, kemudian malam harinya kita melaksanakan salat isya berjamaah yang dilanjutkan dengan salat tarawih yang diikuti oleh seluruh warga binaan yang beragama Islam,” ujar Gayatri.
Gayatri juga menambahkan bahwa hasil karya para warga binaan biasanya digunakan untuk kebutuhan di Lapas atau dijual ke pihak ketiga. Hal ini menjadi bekal kemandirian mereka saat nanti bebas.











