My WordPress Blog

Harga Minyak Tembus Asumsi APBN, Pertamina Pertimbangkan Impor dari Timur Tengah

Pemerintah dan Pertamina Berupaya Cari Alternatif Impor Minyak Mentah

Pemerintah Indonesia, khususnya PT Pertamina (Persero), sedang melakukan koordinasi intensif untuk mencari alternatif impor minyak mentah dari wilayah lain setelah rencana pengalihan impor dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS) diambil. Langkah ini dilakukan mengingat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap fasilitas di Iran.

Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran terhadap pergerakan harga minyak global, terlebih Iran dikabarkan menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur ekspor minyak strategis dunia. Dengan situasi ini, pihak Pertamina berupaya memastikan ketersediaan pasokan energi nasional dengan mencari opsi impor yang lebih stabil.

Koordinasi dengan Pemerintah

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah dalam proses pengalihan impor minyak mentah dari Timur Tengah. Menurutnya, langkah ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan energi nasional yang tetap terjaga meskipun ada fluktuasi pasar.

“Jadi alternatif-alternatif yang sedang kita lakukan tentu dalam proses karena ini baru beberapa hari dan nanti kami akan update ke media Untuk kesiapan proses alternatif tersebut,” ujar Baron di Grha Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Baron menekankan bahwa impor minyak mentah akan dilakukan sesuai dengan tata kelola yang baik. Ia juga menyatakan bahwa kebutuhan nasional menjadi prioritas utama dalam semua kebijakan terkait energi.

Harga Minyak Melonjak Akibat Perang

Harga minyak global saat ini melonjak akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Bahkan, harga minyak telah melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2026 yang sebesar US$70 per barel.

Berdasarkan data Bloomberg, pada hari ini harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada pada level di atas US$71 per barel usai reli lebih dari 6% pada perdagangan kemarin. Sedangkan, minyak Brent ditutup pada level dekat US$78 per barel.

Baron mengatakan bahwa pihaknya masih dalam proses meninjau perkembangan harga minyak dan akan segera memberikan update lebih lanjut terkait tarif BBM.

Pengalihan Impor Minyak Mentah dari Timur Tengah

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa impor minyak mentah dari Timur Tengah hanya mencapai 20% hingga 25%. Sementara itu, sisa impor berasal dari Afrika, Angola, Amerika, dan beberapa negara lain seperti Brasil.

Namun, Bahlil menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Pemerintah akan melakukan mitigasi dengan mengalihkan impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS). Tujuannya adalah untuk memastikan ketersediaan crude oil yang stabil.

“Kami mengambil alternatif terjelek, katakanlah ini lambat. Maka apa skenarionya? Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita,” jelas Bahlil.

Impor BBM dan LPG

Menurut Bahlil, impor BBM jadi seperti bensin dan solar tidak diambil dari wilayah Timur Tengah. Sebaliknya, impor BBM Indonesia diambil dari Asia Tenggara. Oleh karena itu, impor BBM tidak akan terimbas oleh ketegangan di kawasan tersebut.

Sementara untuk impor LPG, Bahlil menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor LPG sebanyak 7,3 juta ton per tahun. Angka ini akan dinaikkan menjadi 7,8 juta ton pada tahun ini. Dari total impor LPG tersebut, sebanyak 70% diambil dari AS, sedangkan 30% sisanya berasal dari Timur Tengah, yakni Aramco.

Bahlil mengungkapkan bahwa saat ini kilang Aramco ditutup lantaran terkena serangan rudal. Oleh karena itu, pihaknya akan mengalihkan impor LPG dari Aramco ke negara lain.

“Maka alternatifnya adalah kita switch lagi, supaya kita tidak mengambil risiko, sebagiannya kita switch lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan Selat Hormuz,” ujar Bahlil.

Meski demikian, Bahlil belum bisa merinci negara-negara tujuan impor LPG alternatif tersebut.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *