Kehidupan dan Pandangan Wakil Presiden ke-6, Try Sutrisno
Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1983 hingga 1988, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Meski telah tiada, pandangan dan kritiknya terhadap situasi bangsa masih relevan hingga saat ini. Salah satu tokoh yang pernah berinteraksi langsung dengannya adalah Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini.
Didik mengingat bahwa setiap kali bertemu dengan Try Sutrisno, mereka saling menyapa dengan senyum. Ia menceritakan bahwa Try sering menepuk punggungnya seakan sudah mengenal lama. Gestur ini sering terjadi dalam berbagai forum, sehingga Didik kerap memperhatikan gagasan-gagasan Try yang disampaikan di publik, baik pada masa Orde Baru maupun Reformasi.
Salah satu pandangan yang terkenang oleh Didik adalah ketika Try menyampaikan pidato dalam acara Pembinaan Ideologi Pancasila Dalam Rangka Peringatan 80 Tahun Membumikan Pancasila dan Peluncuran Pancasila Virtual Expo 2025 di Universitas Indonesia (UI) pada Juli 2025 lalu. Di momen tersebut, Try mengkritik kehidupan bangsa Indonesia yang cenderung liberal, sehingga mengikis moral dan etika sesuai nilai-nilai Pancasila.
Generasi Muda yang Tak Lagi Mengenal Falsafah Dasar Bangsa
Menurut Didik, generasi muda saat ini tidak lagi mengenal falsafah dasar bangsanya. Pancasila dinilai semakin memudar dan tidak menjadi dasar dalam UUD NRI 1945. Hal ini menunjukkan inkonsistensi dan inkoherensi dengan pembukaan UUD 1945.
Try juga menilai pelaksanaan demokrasi di Indonesia terlalu liberal, bahkan lebih liberal dari sistem yang berlaku di Amerika Serikat. Amandemen UUD 1945 yang dilakukan secara mendadak tanpa kajian mendalam memiliki banyak kelemahan setelah lebih dari dua dekade terakhir. Oleh karena itu, Try berharap ada evaluasi dan kaji ulang terhadap sistem ketatanegaraan yang mengacu pada UUD NRI 1945 hasil amandemen.
MPR Tak Lagi Berfungsi sebagai Lembaga Tertinggi Negara
Poin lain yang dikritisi oleh Try Sutrisno, menurut Didik, adalah hilangnya pilar musyawarah bangsa dalam ketatanegaraan Indonesia. MPR kini tak lagi berfungsi sebagai lembaga tertinggi negara yang membuat GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara). Akibatnya, rakyat Indonesia tidak lagi menjadi penentu arah kebijakan dan kehidupan negara.
Kini, arah-arah politik dibuat oleh partai politik yang hanya fokus pada jangka pendek untuk menang setiap lima tahun sekali. Didik berpandangan bahwa kritik negarawan senior ini perlu direnungkan sebagai diskursus penting dalam kehidupan bernegara. Menurut dia, kini tidak ada lagi pemimpin negarawan dan pemikir seperti Bung Karno, Bung Hatta hingga Sjahrir.

Yang ada adalah pemburu rente, pedagang yang bertransaksi jangka pendek atau anak ingusan yang dipaksa menjadi pemimpin dengan merusak pilar konstitusi. Try mencermati perjalanan dan pelaksanaan reformasi. Dalam pandangannya, reformasi tidak bisa lagi berdasarkan prinsip liberal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dasar keIndonesiaan. Beliau menekankan bahwa reformasi seharusnya berakar pada diri bangsa Indonesia dan bukan sekadar perubahan yang terpengaruh oleh gelombang luar liberalisasi.
Pemakaman Wakil Presiden ke-6, Try Sutrisno
Setelah disemayamkan di rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat, jenazah Try Sutrisno dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. “Insyaallah setelah tadi dimandikan dan dikafankan, beliau akan dibawa ke kediaman di Jalan Purwakarta Nomor 6 untuk segera dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,” ujar anak Try Sutrisno, Taufik Dwi Cahyono, di RSPAD Gatot Subroto pada hari ini.
Pemakaman dilakukan usai waktu zuhur. Pemakaman di TMP merupakan bentuk penghormatan terhadap mendiang atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara.












