Kondisi Darurat di Iran Akibat Serangan AS-Israel
Iran kini berada dalam situasi yang sangat memprihatinkan setelah mengalami serangan besar-besaran dari Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Dalam peristiwa tersebut, sebanyak 1.332 warga Iran dilaporkan tewas akibat serangan udara yang menargetkan berbagai fasilitas di negara tersebut.
Serangan yang terus-menerus ini menyebabkan jumlah korban jiwa semakin meningkat. Menurut informasi dari Komando Pusat militer AS (CENTCOM), lebih dari 3.000 target di Iran telah diserang sejak operasi militer dimulai. Selain itu, 43 kapal perang milik Iran juga diklaim telah hancur dalam serangan tersebut.
Tuntutan Penyerahan Tanpa Syarat oleh AS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuntut Iran untuk melakukan “penyerahan tanpa syarat”. Ia menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan atau negosiasi jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Tuntutan ini menjadi salah satu pemicu ketegangan yang semakin memburuk antara AS dan Iran.
Ancaman di Selat Hormuz
Meskipun militer Iran menyatakan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz masih terbuka, mereka memperingatkan bahwa kapal militer maupun komersial milik AS dan Israel dapat menjadi target jika mencoba melintasi jalur tersebut. Ancaman ini menunjukkan potensi konflik yang bisa berkembang lebih luas.
Peringatan kepada Eropa
Wakil Menteri Luar Negeri Iran juga memberikan peringatan kepada negara-negara Eropa bahwa mereka dapat menjadi “target sah” bagi Iran apabila ikut bergabung dengan operasi militer AS dan Israel. Hal ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya melihat AS dan Israel sebagai ancaman, tetapi juga negara-negara lain yang mendukung aksi militer tersebut.
Dukungan Rusia ke Iran
Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan menyampaikan belasungkawa atas korban tewas di Iran. Menurut pejabat AS yang berbicara secara anonim, Rusia juga diduga memberikan informasi intelijen kepada Iran terkait posisi militer Amerika Serikat. Di sisi lain, Kremlin menyebut konflik ini memicu peningkatan permintaan energi Rusia di pasar global.
Konflik Meluas ke Negara-Negara Teluk
Konflik ini tidak hanya terbatas di wilayah Iran, tetapi juga meluas ke kawasan Teluk. Beberapa negara seperti Qatar, Kuwait, dan United Arab Emirates melaporkan adanya rudal dan drone yang masuk ke wilayah udara mereka. Pemerintah Qatar menyatakan sistem pertahanan udara negara itu berhasil mencegat sembilan dari sepuluh drone Iran yang diluncurkan ke wilayahnya.
Arab Saudi dan Kuwait
Arab Saudi juga melaporkan berhasil mencegat sejumlah drone di dekat ibu kota Riyadh. Sementara itu, Kuwait dilaporkan mulai mengurangi produksi di beberapa ladang minyak karena keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak mentah di tengah situasi konflik.
Dukungan Militer Inggris
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berbicara dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan menjanjikan dukungan militer Inggris, termasuk jet tempur, helikopter, dan kapal perusak untuk membantu pertahanan Arab Saudi jika diperlukan. Inggris juga dijadwalkan mengirim pesawat tempur Typhoon tambahan ke Qatar untuk membantu patroli udara.
Gangguan Penerbangan
Penutupan wilayah udara di kawasan tersebut menyebabkan banyak penerbangan dibatalkan. Bandara Internasional Hamad di Qatar kemudian membuka kembali navigasi udara secara terbatas melalui jalur darurat khusus. Maskapai Qatar Airways juga mengumumkan penerbangan repatriasi khusus ke lima kota Eropa, yakni London, Paris, Madrid, Rome, dan Frankfurt.
Situasi di Israel
Serangan Rudal dan Drone Iran
Iran terus meluncurkan drone dan rudal ke berbagai wilayah Israel. Serangan tersebut memicu ledakan dan sirene peringatan di Tel Aviv, wilayah Israel utara, serta dekat Beersheba di Negev Desert.
Strategi Melemahkan Pertahanan Israel
Para analis menilai serangan berulang Iran bertujuan untuk membebani sistem pertahanan udara Israel dan menguras stok rudal pencegat. Tuduhan di PBB Di United Nations, duta besar Iran Amir-Saeid Iravani menuduh Israel dan Amerika Serikat telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hizbullah Ikut Terlibat
Kelompok Hezbollah juga menembakkan roket ke beberapa wilayah di Israel utara sebagai respons terhadap serangan Israel di Lebanon.
Situasi di Amerika Serikat
Pemerintah United States memberikan sinyal yang berbeda terkait durasi konflik. Gedung Putih menyebut operasi militer dapat berlangsung empat hingga enam minggu, sementara Pentagon belum memberikan perkiraan waktu. Dikutip dari Bloomberg, Presiden Donald Trump juga mengatakan produsen pertahanan AS akan melipatgandakan produksi senjata untuk mendukung operasi militer tersebut.
Situasi di Lebanon dan Irak
Bentrokan dengan Hizbullah
Kelompok Hizbullah mengonfirmasi bentrokan dengan pasukan Israel di Bekaa Valley di Lebanon timur setelah mendeteksi empat helikopter militer Israel memasuki wilayah tersebut dari arah Suriah.
Serangan Israel di Lebanon
Jet tempur Israel juga membombardir sejumlah kota di Lebanon selatan dan timur. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 217 orang tewas sejak serangan dimulai. Serangan ini memicu gelombang pengungsian besar di kota Tyre dan pinggiran selatan Beirut, termasuk wilayah Dahiyeh.
Respons Diplomatik
Presiden Lebanon Joseph Aoun meminta bantuan negara-negara sekutu untuk menghentikan serangan tersebut. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan dukungannya dalam percakapan telepon dengan Aoun.
Serangan Drone di Irak
Di Iraq, sebuah drone dilaporkan menghantam hotel Erbil Arjaan by Rotana di kota Erbil setelah Kedutaan Besar AS memperingatkan kemungkinan serangan dari kelompok yang bersekutu dengan Iran.











