Meningkatnya Permintaan Bunker di Tengah Ketegangan Regional
Perang antara Iran dan AS-Israel yang meletus pada 28 Februari 2026 telah memicu lonjakan permintaan terhadap bunker atau tempat perlindungan bawah tanah. Kecemasan akan ancaman serangan udara, rudal, drone, hingga potensi perang dunia ketiga membuat banyak orang kaya, termasuk pejabat pemerintah, memilih untuk membangun bunker di rumah mereka.
Atlas Survival Shelters, sebuah perusahaan pembuat bunker asal Amerika Serikat (AS), melaporkan peningkatan drastis dalam pesanan dari klien-klien mereka. Menurut pendirinya, Ron Hubbard, permintaan terhadap bunker meningkat “sepuluh kali lipat” sejak konflik regional ini dimulai. Perusahaan yang berbasis di Texas ini menyediakan berbagai jenis bunker dengan harga yang sangat beragam, mulai dari unit prefabrikasi yang relatif murah hingga fasilitas bawah tanah yang lebih besar dan mahal.
Harga yang Mahal, Tapi Tetap Diminati
Harga bunker dari Atlas Survival Shelters berkisar antara $20.000 (sekitar Rp 339 juta) untuk unit terkecil hingga $5 juta (sekitar Rp 84 miliar) untuk fasilitas yang lebih luas. Meski harganya mencapai ratusan miliar rupiah, permintaan tetap tinggi karena kebutuhan akan tempat perlindungan semakin mendesak.
Hubbard mengatakan bahwa penjualan bulanan Atlas, yang biasanya mencapai sekitar $2 juta, bisa meningkat menjadi $50 juta jika tren ini terus berlanjut. Ia menjelaskan bahwa situasi saat ini mirip dengan masa panen bagi petani, di mana semua kesempatan harus dimanfaatkan.
Klien dari Berbagai Kalangan
Tidak hanya kalangan kaya, perusahaan ini juga memiliki klien dari kalangan pejabat pemerintah. Hubbard mengungkapkan bahwa dua menteri dari kabinet Presiden AS Donald Trump telah memesan bunker. Meskipun tidak menyebutkan identitas kedua menteri tersebut, ia menuturkan bahwa salah satu dari mereka baru saja bertanya kapan bunker mereka akan siap.
Selain itu, Atlas juga memiliki klien yang merupakan para pemimpin bisnis kaya, termasuk Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Bunker bawah tanah telah dibangun oleh Atlas di peternakan Zuckerberg di Hawaii. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini juga menerima pesanan dari klien-klien kaya di negara-negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
Sejarah Perusahaan dan Tren Pasca-Pandemi
Atlas Survival Shelters didirikan oleh Hubbard pada 2011 setelah ia beralih dari bisnis manufaktur pintu besi. Minat terhadap bunker mulai tumbuh di kalangan eksekutif teknologi yang khawatir akan bencana atau keruntuhan sosial. Krisis global seperti pandemi COVID-19 juga turut mempercepat permintaan, karena banyak orang ingin mengisolasi diri dari ancaman luar.
Tren ini tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga menyebar ke wilayah lain. Di Israel, banyak penduduk rutin berlindung di bawah tanah selama serangan rudal dan drone dari Iran. Sementara itu, di negara-negara Teluk, banyak orang kaya juga mulai mempertimbangkan pembuatan bunker sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman yang mungkin muncul.
Bunker-bunker yang dibangun oleh Atlas Survival Shelters dirancang untuk melindungi penghuninya dari berbagai ancaman, termasuk serangan nuklir. Fasilitas-fasilitas ini dilengkapi dengan sistem ventilasi, penyimpanan makanan, dan ruang hidup yang cukup nyaman untuk bertahan dalam waktu lama.
Meski biayanya tinggi, banyak orang kaya dan pejabat pemerintah tetap memilih untuk membangun bunker sebagai bentuk perlindungan terhadap ancaman yang tak terduga. Hal ini menunjukkan bahwa kecemasan akan situasi politik dan militer yang tidak stabil terus meningkat, terutama di tengah ketegangan regional yang semakin memburuk.











