Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pergeseran pasukan militer AS ke kawasan Timur Tengah semakin memperlihatkan ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sebanyak 5.000 personel militer, termasuk marinir dari 31st MEU dan tiga kapal perang, dikerahkan sebagai bagian dari strategi menghadapi ancaman dari Iran. Langkah ini menunjukkan bahwa konflik yang telah berlangsung selama beberapa minggu makin memanas.
Pasukan Militer AS Dikerahkan
Dalam laporan terbaru, sekitar 5.000 personel militer tambahan dikerahkan ke kawasan Timur Tengah, terdiri dari 2.500 marinir dan 2.500 pelaut. Pengerahan ini disebut sebagai bagian dari strategi militer untuk memperluas opsi operasi dalam menghadapi eskalasi konflik. Amphibious Ready Group/Marine Expeditionary Unit (ARG/MEU), yaitu satuan gabungan marinir dan kapal perang yang siap melakukan operasi amfibi, juga dilibatkan dalam pengerahan ini.
Unit yang dikirim adalah 31st MEU, satu-satunya unit ekspedisi marinir AS yang ditempatkan permanen di garis depan, berbasis di Jepang. Mereka dilatih untuk tanggap krisis, termasuk evakuasi warga sipil dari wilayah berbahaya dan perlindungan kedutaan besar AS. Selain itu, tiga kapal perang – USS San Diego, USS Tripoli, dan USS New Orleans – yang sebelumnya beroperasi di Laut Filipina kini bergerak menuju Timur Tengah.
Pengerahan ini dilakukan atas permintaan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk memastikan kesiapan pasukan dalam menghadapi kemungkinan operasi lebih lanjut.
Iran Gunakan Rudal Kheybar Shekan
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menggunakan rudal Kheybar Shekan berbahan bakar padat dalam melancarkan gelombang serangan lanjutan ke wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, Jumat (13/3/2026). Serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang ke-45 Operasi Janji Sejati 4 terhadap Amerika dan Israel.
Dalam sebuah pernyataan Jumat sore, IRGC mengatakan bahwa operasi tersebut dilakukan berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC serta unit-unit drone dari Angkatan Darat Iran, dan Hizbullah Lebanon. Serangan menargetkan infrastruktur komando utara Israel dan titik-titik berkumpul pasukan Amerika. Dalam laporan target-target di Haifa, Caesarea, pemukiman Zarit dan Shlomi, serta kompleks industri militer Holon, dihantam drone Hizbullah dan rudal antariksa IRGC.
Sementara itu, titik-titik berkumpul pasukan Amerika, termasuk pangkalan Al-Dhafra dan Erbil, telah diidentifikasi dan dibombardir secara besar-besaran oleh rudal dan drone Angkatan Laut dan Angkatan Darat IRGC.
Markas Militer Israel Diserang Drone Iran
Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Darat Iran mengumumkan bahwa drone mereka menyerang markas besar rezim Israel di Beersheba pada Jumat pagi. Ditambahkan pula bahwa sejak Jumat pagi, Tentara Iran telah menargetkan markas besar pasukan pertahanan rezim Israel di wilayah pendudukan di Beersheba menggunakan drone perusak yang diluncurkan dari berbagai bagian negara tersebut.
“Beersheba adalah lokasi instalasi dan infrastruktur militer strategis tentara rezim Zionis, termasuk pangkalan yang terkait dengan pasukan darat dan udara,” demikian bunyi pernyataan tersebut. “Operasi besar-besaran ini akan berlanjut dalam beberapa jam mendatang dengan serangan skala besar terhadap lokasi-lokasi penting lainnya dari basis rezim Zionis,” demikian penegasan keterangan tersebut.
Korban Serangan Rudal Iran
Dilaporkan The Jerusalem Post, hampir 58 orang terluka akibat serangan rudal Iran terhadap sebuah gedung di Israel utara. Dari 58 korban, satu dalam kondisi kritis dan 57 mengalami luka sayatan akibat pecahan kaca. Mereka dirawat kini di rumah sakit terdekat. Pihak kepolisian Israel, pada gilirannya, mengatakan bahwa bangunan tersebut mengalami kerusakan akibat serangan itu. Tim penjinak bom saat ini sedang bekerja di area tersebut.
Dilansir dari TASS sebuah proyektil menghantam beberapa bangunan tempat tinggal di komunitas Zarzir selama serangkaian peluncuran rudal Iran. Otoritas setempat mengatakan satu bangunan hancur total. Belum jelas apakah itu terkena langsung oleh rudal, atau bangunan tersebut rusak akibat pecahan proyektil yang dicegat.
Pesawat Siluman AS Dikerahkan
Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan Amerika Serikat telah mengerahkan pesawat pembom siluman B-2 untuk berpartisipasi dalam Operasi Epic Fury AS melawan rezim Iran pada Jumat pagi. Menurut CENTCOM, pesawat B-2 akan digunakan untuk melakukan serangan jarak jauh. “Untuk menghilangkan ancaman dari Iran saat ini, dan menghilangkan kemampuan mereka membangun kembali kekuatan di masa depan,” tulis keterangan CENTCOM AS.
AS pun mengirimkan Unit Ekspedisi Marinir ke-31 ke Timur Tengah, yang mencakup sekitar 2.200 Marinir di atas tiga kapal serbu amfibi Angkatan Laut AS. Pasukan ini mencakup satu skuadron jet tempur F-35 dan pesawat tiltrotor MV-22 Osprey.
Saat ini merupakan hari ke 15 perang antara AS-Israel Vs Iran, sejak serangan pertama AS-Israel ke Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026. Di Iran sendiri dilaporkan lebih dari 1.300 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka akibat serangan AS-Israel. Sebagian besar yang menjadi korban adalah masyarakat sipil.











