My WordPress Blog
Budaya  

Jejak Diponegoro di Manado Dihadiri Putra Putri Literasi Sulut

Kegiatan Tapak Tilas Jejak Pangeran Diponegoro di Manado

Puluhan warga Sulawesi Utara antusias mengikuti kegiatan tapak tilas jejak Pangeran Diponegoro di Kota Manado, Jumat (13/3/2026). Kegiatan ini melibatkan berbagai kalangan masyarakat, termasuk putri-putri Literasi Sulut dan masyarakat umum. Mereka menyusuri beberapa titik yang pernah dikunjungi oleh Pangeran Diponegoro pada masa lalu.

Rute kegiatan dimulai dari Kampung Pondok Belakang Gramedia, kemudian melanjutkan ke bekas benteng Fort New Amsterdam yang terletak di Gedung Joang. Selanjutnya, peserta menuju eks kantor Bank Indonesia lama sekitaran Pelabuhan Manado lama, dan akhirnya berakhir di Kampung Islam. Setiap titik yang dikunjungi memiliki makna sejarah yang mendalam, sehingga memberikan pengalaman unik bagi peserta.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Ketua Putra Putri Literasi Provinsi Sulawesi Utara, Standius Bara Prima, M. I. Kom. Dalam sambutannya saat buka puasa di jalan roda Manado, ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari buku Karya Reiner Emot Ointoe Manado 1830, yang menceritakan kisah Pangeran Diponegoro di Manado.

Bara menekankan bahwa kegiatan ini menjadi momen penting untuk mengenang perjuangan salah satu pahlawan nasional Indonesia, yaitu Pangeran Diponegoro. “Kegiatan tapak tilas seperti ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap sejarah bangsa,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa peserta yang mengikuti kegiatan ini menyusuri sejumlah titik bersejarah yang berkaitan dengan jejak Diponegoro di Manado pada masa itu. “Kegiatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar memahami perjuangan para pahlawan,” tambahnya.

Selain berjalan menyusuri lokasi bersejarah, para peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai tapak tilas sejarah Diponegoro serta pengaruhnya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satu peserta mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut karena memberikan wawasan baru tentang sejarah yang selama ini hanya diketahui melalui buku pelajaran.

“Kami jadi tahu langsung tempat-tempat bersejarah di Manado yang berkaitan dengan Diponegoro. Ini pengalaman yang sangat berharga,” ujarnya.

Kegiatan tapak tilas ini juga diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat situs-situs sejarah yang ada di Sulawesi Utara, khususnya yang berkaitan dengan perjuangan para pahlawan nasional. Melalui kegiatan ini, panitia berharap generasi muda tidak hanya mengenal sejarah secara teori, tetapi juga dapat merasakan langsung nilai-nilai perjuangan, keberanian, dan semangat patriotisme yang diwariskan oleh para pahlawan bangsa.

Sejarah Pangeran Diponegoro di Manado

Pangeran Diponegoro adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang memimpin perlawanan besar terhadap penjajah Belanda dalam Perang Jawa (De Java Oorlog) pada tahun 1825–1830. Perang ini merupakan salah satu konflik paling besar dan paling mahal yang pernah dihadapi Belanda selama masa kolonialismenya di Nusantara.

Setelah ditangkap pada 1830, Pangeran Diponegoro dibuang ke Manado. Beliau ditahan di Benteng Nieuw Amsterdam di bawah pengawasan ketat pemerintah kolonial Belanda. Selama di sana, beliau didampingi oleh istri, Raden Ayu Retnaningsih.

Masa pengasingan di Manado menjadi momen intelektual yang sangat penting karena di sinilah beliau mulai menulis Babad Diponegoro. Karya sastra setebal ratusan halaman ini merupakan otobiografi yang ditulis menggunakan aksara Pegon (aksara Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa, Sunda, dan Melayu), menceritakan sejarah Jawa serta perjalanan hidupnya.

Naskah ini sekarang telah diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari Memory of the World karena nilai sejarah dan budayanya yang tinggi. Pangeran Diponegoro menetap di Manado selama kurang lebih tiga tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke Makassar pada tahun 1833.

Meskipun masa tinggalnya terbilang singkat, jejak keberadaannya tetap melekat pada komunitas Muslim di Manado, dan Sulawesi Utara pada umumnya.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *