Pernyataan Pertama Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Setelah sempat dilaporkan terluka, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, yang baru saja terpilih menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, memberikan pernyataan pertamanya. Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada hari Minggu (8/3/2026). Dalam pidatonya, Mojtaba Khamenei menekankan pentingnya persatuan dan upaya pertahanan rakyat Iran, serta menjaga keterbukaan Selat Hormuz.
Mojtaba Khamenei memulai pidatonya dengan doa, diikuti oleh ungkapan simpati mendalam atas wafatnya pemimpin besar revolusi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Ia menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran dan komunitas muslim global, khususnya kepada mereka yang terkena dampak perang AS-Israel di Iran, termasuk keluarga para korban dan para penyintas gerakan Islam.
“Saya, Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, mengetahui hasil pemungutan suara Majelis Pakar melalui media Republik Islam, sama seperti Anda semua,” ujar Mojtaba Khamenei, Kamis (12/3/2026).
Ia mengungkapkan beratnya tanggung jawab sebagai pemimpin yang meneruskan pendahulunya, seperti Imam Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei. “Menduduki posisi yang pernah ditempati oleh dua pemimpin besar, Imam Khomeini dan Sayyid Khamenei, adalah tugas yang berat,” katanya.
“Kursi ini dulunya milik seseorang yang, setelah lebih dari 60 tahun berjuang untuk Tuhan dan mengorbankan segala macam kesenangan dan kenyamanan, menjadi permata yang bersinar dan tokoh yang luar biasa, tidak hanya di zaman kita tetapi juga dalam sejarah para penguasa negara ini.”
“Baik kehidupannya maupun cara kematiannya terkait erat dengan martabat dan kehormatan, yang berakar pada kepercayaannya pada kebenaran,” lanjut dia.
Kunjungan ke Makam Almarhum Pemimpin Tertinggi
Mojtaba Khamenei menggambarkan kunjungannya ke makam almarhum Pemimpin Tertinggi Iran sebagai “gunung keteguhan hati”. “Inilah mengapa mengemban kepemimpinan setelah tokoh seperti itu merupakan tanggung jawab yang berat. Menjembatani kesenjangan ini hanya mungkin dilakukan dengan pertolongan Tuhan dan dukungan rakyat,” katanya.
Balas Dendam untuk Para Martir
Dalam bagian penting pidatonya, Mojtaba Khamenei menyampaikan simpatinya kepada mereka yang terkena dampak perang agresi yang sedang berlangsung terhadap Iran, khususnya mereka yang telah kehilangan orang yang dicintai atau menderita luka-luka.
“Saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga para korban,” katanya, seraya menyebutkan dirinya kehilangan ayah, istri, saudara perempuan, keponakan, dan saudara ipar.
“Yang membuat kita mampu menanggung kesulitan-kesulitan ini, bahkan lebih mudah, adalah keyakinan akan pahala yang dijamin Tuhan bagi mereka yang bersabar,” tambahnya.
Pemimpin Tertinggi Iran juga berjanji bahwa Iran tidak akan pernah meninggalkan upaya penegakan keadilan atas darah para korban, khususnya menekankan bahwa pembalasan dendam tidak terbatas atas wafatnya pemimpin revolusioner serta setiap anggota bangsa yang dibunuh musuh.
Dia meyakinkan para korban luka akan mendapat perawatan medis dan tunjangan. “Lebih lanjut, saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan menghentikan upaya penegakan keadilan demi darah para martir kami,” tegasnya.
“Balas dendam yang kita cari tidak terbatas pada kematian pemimpin besar revolusi, tetapi meluas kepada setiap anggota bangsa yang dibunuh oleh musuh,” ucapnya.
Konflik AS-Israel dan Iran
Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah tokoh sentral Iran. Menghadapi serangan tersebut, Iran melakukan balasan dengan meluncurkan rudal ke sejumlah Pangkalan Militer AS yang ada di kawasan Timur Tengah.
Dampak dari perang AS-Israel Vs Iran kini meluas dan merembet terhadap pasokan energi dunia. Pasokan energi seperti minyak dan LNG dunia saat ini terganggu setelah Iran menutup Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi dari wilayah Timur Tengah ke Asia, Afrika, dan Eropa.
Tak hanya itu, buntut serangan AS-Israel ke Iran, penerbangan ke sejumlah wilayah Timur Tengah pun terganggu. Selama 13 hari serangan AS-Israel, tercatat lebih dari 1300 orang di Iran meninggal dunia.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











