My WordPress Blog
Budaya  

Eksploitasi Batik di Balik Kemeja Aimé Leon Dore

Kemeja Bermotif Batik yang Menimbulkan Kontroversi di Media Sosial



Kontroversi terkait kemeja bermotif batik dari brand fesyen Aimé Leon Dore (ALD) telah memicu reaksi keras dari warganet Indonesia. Produk yang awalnya disebut sebagai “Printed Abstract Shirt” dianggap oleh banyak orang sebagai bentuk pembajakan motif batik tanpa adanya pengakuan yang jelas terhadap asal-usul budaya tersebut.

Akun Instagram ALD dipenuhi komentar dari netizen Indonesia yang mengecam tindakan brand fesyen tersebut. Mereka merasa bahwa motif batik yang digunakan dalam produk tersebut tidak hanya dibajak, tetapi juga tidak diberi penjelasan yang jelas mengenai asal usul dan makna dari corak tersebut.

Setelah kritik muncul, ALD akhirnya mengubah nama produk tersebut menjadi “batik inspired print shirt”. Meskipun perubahan ini bisa dianggap sebagai langkah positif, masalah utama masih tetap ada, yaitu apropriasi budaya atau eksploitasi budaya.

Apa Itu Apropriasi Budaya?

Apropriasi budaya adalah penggunaan elemen budaya oleh anggota komunitas lain. Richard A. Rogers, seorang pakar komunikasi antarbudaya, membagi apropriasi budaya menjadi tiga model: cultural exchange, cultural dominance, dan cultural exploitation.

Dalam kasus ALD, penggunaan motif batik tanpa melibatkan komunitas pemilik budaya tersebut termasuk dalam cultural exploitation. Hal ini terjadi karena brand fesyen yang berada di negara maju menggunakan elemen budaya dari negara yang lebih lemah secara politik dan ekonomi untuk keuntungan finansial tanpa memberikan apresiasi atau manfaat nyata kepada komunitas asli.

Contoh Kasus Serupa

Kasus serupa pernah terjadi pada 2012 ketika Louis Vuitton merilis koleksi musim semi/panas dengan corak yang diklaim terinspirasi dari kain suku Maasai. Namun, masyarakat adat Kenya tidak pernah diajak bicara atau mendapat kompensasi atas penggunaan corak tradisional mereka. Selain itu, LVMH, perusahaan yang memegang saham di ALD, juga memiliki hubungan bisnis dengan brand tersebut.

Mengapa Eksploitasi Budaya Terjadi?

Rogers menekankan bahwa dalam menilai apropriasi budaya, posisi kedua komunitas budaya harus diperhatikan. Dalam kasus ALD, posisi mereka sangat dominan karena didukung oleh produsen barang mewah seperti LVMH. Sementara itu, komunitas batik di Indonesia berada dalam posisi yang lebih lemah. Ketika pihak yang kuat menggunakan elemen budaya tanpa memberikan manfaat nyata, itu dianggap sebagai eksploitasi budaya.

Label “Terinspirasi” Tidak Cukup

Banyak pelaku apropriasi budaya menggunakan label “terinspirasi” untuk melegitimasi tindakan mereka. Namun, dalam konteks eksploitasi budaya, label ini sering kali tidak cukup. Motif batik Indonesia bukan sekadar corak kain, tetapi memiliki makna yang dalam dan erat dengan nilai-nilai budaya masyarakat tempat motif itu lahir.

Menurut Rogers, eksploitasi budaya membuat nilai-nilai tersebut luntur dan penggunaan elemen sering kali tidak sesuai dengan nilai budaya aslinya. Dengan menyebut batik sebagai motif abstrak, ALD justru mengabaikan sejarah dan makna penting dari motif tersebut.

Solusi yang Lebih Baik

Untuk menghindari apropriasi budaya, Rogers menyarankan model cultural exchange sebagai alternatif positif. Pertukaran budaya terjadi antara dua kelompok budaya dalam posisi setara sehingga tidak ada yang secara sepihak mengambil keuntungan dari sebuah elemen budaya.

Dalam kasus ALD, brand fesyen ini seharusnya tidak hanya mengganti label produk, tetapi juga menghargai batik dan komunitas asalnya dengan lebih serius. Misalnya, dengan berkolaborasi dengan perancang busana atau produsen kain batik di Indonesia. Kolaborasi ini bisa membantu masyarakat yang bergantung pada produksi batik mendapatkan manfaat ekonomi jika kain batik digunakan dalam produk ALD.

Kesimpulan

Apropriasi budaya secara positif tidak cukup hanya dengan memberi label apresiasi. Tindakan nyata diperlukan agar elemen budaya diimplementasi sesuai nilai-nilai aslinya dan komunitas pemilik elemen budaya mendapatkan manfaat yang positif dari penggunaannya. Dengan pendekatan yang lebih hati-hati dan respek, brand fesyen dapat menjaga kekayaan budaya tanpa melakukan eksploitasi.



Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *