Tradisi Unik Menerbangkan Balon Raksasa di Garut
Setiap tahun, suasana Lebaran di Garut tidak hanya dimeriahkan oleh silaturahmi dan hidangan khas, tetapi juga oleh tradisi unik yang telah berlangsung turun-temurun. Salah satu tradisi yang paling dinantikan adalah “Ngapungkeun Balon”, yaitu menerbangkan balon raksasa yang menjadi bagian dari perayaan Lebaran di wilayah Garut.
Tradisi ini terutama digelar di Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dalam tradisi ini, warga mengangkat balon-balon besar ke langit dengan menggunakan udara panas yang berasal dari pembakaran minyak tanah. Proses ini dilakukan setelah pelaksanaan Salat Id, biasanya dimulai sejak pagi hari.
Atep (41), salah satu penggerak tradisi ini, menjelaskan bahwa tradisi “Ngapungkeun Balon” sudah ada sejak tahun 1960-an. Awalnya, tradisi ini menjadi sarana untuk memperkuat silaturahmi antar warga. “Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1960-an, sebagai wadah silaturahmi antar warga,” ujarnya kepada Tribun, Sabtu (21/3/2026).
Balon-balon yang diterbangkan memiliki ukuran besar dan berbagai warna yang menarik perhatian. Warga berbondong-bondong menuju lapangan atau area terbuka untuk menyaksikan balon-balon tersebut perlahan mengudara. Proses penerbangan balon tidak hanya dilakukan di satu kampung, tetapi juga diikuti oleh setiap rukun warga di wilayah Panawuan.
Kreativitas warga terlihat dalam pembuatan balon. Mulai dari ukuran hingga coraknya dibuat sedemikian rupa agar terlihat unik. Bahan yang digunakan pun beragam, mulai dari kertas telur, kertas wajit, hingga kertas minyak yang disatukan menggunakan lem aci.
Proses pembuatan satu balon biasanya dilakukan oleh sekitar lima orang dalam waktu satu malam. Bahkan, saat balon diterbangkan, masih ada yang berjaga untuk menambal jika terdapat bagian yang bocor. “Ini 100 persen bahannya kertas dan di tahun ini di titik ini ada 4 balon, total di seluruh titik penerbangan ada 20 an balon,” ujar Atep.
Biaya pembuatan satu balon bisa mencapai sekitar Rp700 ribu. Dana tersebut diperoleh dari iuran warga dan donatur. Pengumpulan dana biasanya dilakukan sekitar 10 hari sebelum Lebaran. Pernah suatu tahun warga tidak menerbangkan balon lantaran tidak tersedianya biaya. Hal itu kemudian menuai keluhan dari masyarakat, sehingga akhirnya tradisi tersebut kembali dihidupkan melalui swadaya masyarakat.
Persiapan Gotong Royong
Persiapan penerbangan balon dilakukan secara gotong royong. Warga mulai menyiapkan tungku api yang menjadi sumber panas utama. Tungku tersebut ditambal menggunakan tanah dan kaleng agar lebih kokoh dan mampu menahan panas. Upaya ini dilakukan untuk memastikan aliran udara panas dapat masuk secara maksimal ke dalam balon, sehingga balon dapat mengembang sempurna sebelum dilepaskan ke udara.
Raden Syakira Salwa (18) mengaku cukup senang setiap tahun bisa menyaksikan langsung tradisi tersebut. Selain menjadi hiburan, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga. “Senang bisa kumpul bareng di lapangan sama warga lain, apalagi momen Lebaran. Jadi bukan cuma nonton balon, tapi sekalian silaturahmi juga,” katanya.
Peran Warga dalam Tradisi
Tradisi “Ngapungkeun Balon” tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Garut. Warga sangat antusias dalam mempersiapkan dan mengikuti tradisi ini. Setiap tahun, mereka berusaha menjaga kesinambungan tradisi ini meskipun terkadang menghadapi tantangan finansial.
Dengan adanya partisipasi aktif dari warga, tradisi ini terus bertahan dan menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran di Garut.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











