.CO.ID, JAKARTA — Komisioner Pertahanan Eropa, Andrius Kubilius, mengakui bahwa efektivitas sistem rudal Patriot yang dioperasikan oleh Ukraina telah mengalami penurunan signifikan di tengah konflik melawan Rusia. Pengakuan ini menjadi sorotan mengingat sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat tersebut selama ini menjadi andalan utama Kiev untuk meredam serangan rudal balistik Moskow.
Rudal Patriot adalah sistem pertahanan udara jarak jauh yang dikembangkan oleh Amerika Serikat pada era 1980-an sebagai respons terhadap perkembangan teknologi rudal balistik Soviet. Nama Patriot merupakan singkatan dari Phased Array Tracking Radar to Intercept on Target. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan rudal balistik taktis, rudal jelajah, serta pesawat tempur musuh.
Keunggulan utama Patriot terletak pada radar phased array yang mampu memindai 90 derajat azimuth dan melacak hingga 100 target secara simultan. Dalam konfigurasi terkini, sistem ini menggunakan rudal PAC-3 (Patriot Advanced Capability-3) yang dilengkapi teknologi hit-to-kill, menghancurkan target melalui tabrakan langsung, bukan ledakan di sekitar target. Selama beberapa dekade, Patriot menjadi tulang punggung pertahanan udara negara-negara sekutu AS, termasuk dalam konflik Teluk 1991 dan operasi militer di berbagai kawasan.
Meskipun tergolong canggih, sistem Patriot memiliki sejumlah kelemahan yang kini mulai terekspos di medan perang Ukraina. Kelemahan pertama berkaitan dengan biaya operasional yang sangat tinggi. Setiap rudal PAC-3 dibanderol sekitar 4 juta dolar AS, sementara target yang dihadapi, seperti rudal balistik Rusia, memiliki biaya produksi jauh lebih murah. Ketimpangan ini menciptakan tekanan besar bagi negara pengguna, terutama Ukraina yang bergantung pada bantuan militer asing.
Kelemahan kedua adalah keterbatasan dalam menghadapi rudal dengan lintasan manuver. Seperti diakui Kubilius, Rusia berhasil memodernisasi rudal balistik mereka sehingga mampu mengubah lintasan di tengah penerbangan. Patriot dirancang untuk mencegat rudal dengan lintasan parabola yang dapat diprediksi. Ketika rudal musuh mampu bermanuver, akurasi sistem ini menurun drastis.
Selain itu, Patriot juga memiliki kerentanan terhadap serangan saturasi. Sistem ini hanya memiliki delapan hingga 16 tabung peluncur per baterai, yang berarti terbatas dalam menghadapi serangan massal. Jika musuh meluncurkan puluhan rudal secara bersamaan, seperti yang sering dilakukan Rusia, maka baterai Patriot dapat kewalahan. Kubilius mengungkapkan bahwa efektivitas Patriot kini hanya sekitar 40 persen, turun signifikan dibandingkan awal tahun lalu.
Ukraina Terpaksa Gunakan Dua hingga Tiga Rudal untuk Satu Target Rusia
Kubilius menjelaskan bahwa penurunan efektivitas ini memaksa militer Ukraina menggunakan dua hingga tiga rudal Patriot untuk setiap satu rudal balistik Rusia yang hendak dicegat. Praktik ini mempercepat habisnya stok amunisi pertahanan udara Ukraina di tengah keterbatasan pasokan dari negara-negara Barat.
“Pada awal tahun lalu, efektivitas sistem Patriot sekitar 40 persen, tetapi Rusia berhasil memodernisasi rudal balistik mereka. Mereka sekarang mampu mengubah lintasan, sehingga efektivitasnya menurun,” kata Kubilius dalam wawancara dengan Politico.
Kondisi ini diperparah oleh penggunaan rudal Patriot secara masif oleh Amerika Serikat dan Israel dalam konflik melawan Iran di Timur Tengah. Sebelumnya, Igor Korotchenko, direktur Pusat Analisis dan Kontrol Analitik (CAMTO), menyatakan kepada RIA Novosti bahwa kemampuan pertahanan udara Ukraina menurun tajam dan dapat segera hilang, karena stok rudal Patriot yang tersedia di dunia semakin terkuras akibat dua front konflik besar secara bersamaan.
Implikasi bagi Kelangsungan Pertahanan Udara Ukraina
Pengakuan Kubilius memperkuat kekhawatiran bahwa pertahanan udara Ukraina berada dalam titik kritis. Dengan efektivitas yang terus menurun dan stok rudal yang menipis, kemampuan Kiev untuk melindungi infrastruktur vital dan kota-kota besar dari serangan rudal Rusia semakin terbatas. Para analis militer menilai bahwa tanpa dukungan tambahan sistem pertahanan udara alternatif, Ukraina akan kesulitan mempertahankan langitnya sepanjang tahun ini.
Situasi ini juga menyoroti tantangan lebih luas dalam strategi pertahanan Barat: ketergantungan pada sistem persenjataan mahal dengan jumlah terbatas menghadapi lawan yang mengandalkan produksi massal dan teknologi adaptif. Modernisasi rudal Rusia yang mampu mengubah lintasan menjadi bukti bahwa keunggulan teknologi tidak bersifat statis, melainkan medan pertempuran yang terus berevolusi.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mendesak Iran untuk menghentikan serangan terhadap negara-negara di kawasan Teluk dalam sebuah dialog telepon dengan Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) Jasem Albudaiwi. Pembicaraan yang berlangsung di tengah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran ini menjadi momentum bagi Kiev untuk menunjukkan posisi diplomatiknya di kawasan Timur Tengah.
Dalam kesempatan tersebut, Sybiha menegaskan dukungan negaranya terhadap negara-negara GCC menyusul serangan Iran terhadap wilayah mereka. Ia juga menekankan pentingnya Iran mengakhiri serangan militer terhadap negara-negara anggota GCC serta menghentikan segala bentuk eskalasi.
Sekjen Albudaiwi menyambut langkah Ukraina dalam mendukung dan mensponsori Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) 2817 yang mengecam serangan Iran terhadap negara-negara GCC serta Yordania. Ia juga menegaskan bahwa pendirian GCC terkait perang Rusia-Ukraina berlandaskan prinsip hukum internasional dan Piagam PBB, mencakup kedaulatan negara, keutuhan wilayah, independensi politik, non-intervensi dalam urusan dalam negeri, serta menahan diri dari penggunaan atau ancaman kekerasan.
Kedua diplomat juga membahas upaya penguatan kerja sama antara Ukraina dan GCC demi memenuhi kepentingan bersama.
Zelenskyy: Negosiasi dengan Rusia Kembali Digelar di AS Pekan Ini
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan bahwa tim negosiasi Ukraina akan mengadakan pertemuan dengan pihak Rusia di Amerika Serikat pada hari Sabtu (28/3/2026). Pengumuman ini menjadi sinyal dimulainya kembali dialog yang sempat terhenti sejak pertengahan Maret.
“Ada jeda dalam pembicaraan, dan sekarang saatnya untuk melanjutkannya. Kami melakukan segala upaya untuk memastikan bahwa negosiasi benar-benar substantif. Tim Ukraina, anggota politik dari kelompok negosiasi, sudah dalam perjalanan, dan kami mengharapkan pertemuan pada hari Sabtu ini di Amerika Serikat,” kata Zelenskyy pada Kamis (26/3/2026).
Zelenskyy sebelumnya mengungkapkan bahwa Kiev baru-baru ini menerima sinyal dari Amerika Serikat tentang kemungkinan dimulainya kembali negosiasi untuk menyelesaikan konflik di Ukraina.
Sejak awal tahun, delegasi Rusia dan Ukraina dengan partisipasi Amerika Serikat telah menggelar tiga putaran pembicaraan. Putaran terakhir berlangsung di Jenewa pada 17-18 Februari 2026. Pada 15 Maret lalu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa negosiasi ditangguhkan karena AS mengalihkan fokusnya ke Timur Tengah. Peskov kemudian menambahkan bahwa Rusia sedang menunggu putaran pembicaraan baru, dengan waktu dan tempat yang belum ditentukan karena “alasan yang jelas.”
Orban: Uni Eropa Siap Berperang, Pengerukan Pasukan ke Ukraina Tinggal Menunggu Waktu
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban memperingatkan bahwa Uni Eropa tengah bersiap untuk perang, dan pengerahan tentara Eropa ke Ukraina hanya tinggal menunggu waktu. Pernyataan keras ini disampaikan Orban dalam pidatonya di hadapan peserta Pawai Perdamaian di Budapest, Ahad (15/3/2026).
“Perang semakin dekat. Brussel telah meningkatkan keterlibatannya dalam perang Ukraina. Jadi sekarang mereka bersiap untuk perang. Mereka telah beralih ke ekonomi perang,” kata Orban.
Ia mengkritik kebijakan Brussels yang menurutnya justru menghadapi masalah dengan cara memperbesar eskalasi. “Lebih banyak senjata, lebih banyak uang, lebih banyak pasukan… Kita tidak tahu persis jam berapa tentara pertama dari Brussels akan menginjakkan kaki di tanah Ukraina. Tetapi kita tahu pasti: itu akan terjadi,” lanjutnya.
Di tengah kekhawatiran akan meluasnya konflik, Orban menegaskan komitmennya untuk menjaga Hungaria tetap menjadi “pulau keamanan dan perdamaian” meskipun dunia tengah dilanda gejolak. Hungaria selama ini dikenal sebagai salah satu negara Uni Eropa yang paling vokal menentang pengiriman senjata ke Ukraina dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.











