My WordPress Blog
Bisnis  

Jana, Pedagang Dodol yang Bertahan di Terminal Kampung Rambutan Sejak 1991

Kehidupan Pedagang di Terminal Kampung Rambutan

Di tengah hiruk-pikuk Terminal Kampung Rambutan pada masa mudik dan arus balik Lebaran, terdapat puluhan pedagang yang berusaha bertahan hidup. Mereka bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga. Salah satu dari mereka adalah Jana Surjana, seorang pria asal Garut yang menjajakan dodol di kawasan terminal tersebut.

Jana menggantungkan penghasilan harian dari penjualan dodol yang dibawanya langsung dari kampung halaman. Meski sering kali ditolak, ia tetap gigih menawarkan dagangannya kepada para penumpang yang lalu-lalang. Ia sengaja tetap berjualan selama momen mudik dan arus balik Lebaran. Jana mengaku sudah pulang ke kampung halaman jauh sebelum musim mudik, namun kini ia kembali bertahan untuk berjualan.

“Baru delapan hari balik dari kampung, sekarang mulai jualan lagi,” ujar Jana kepada Wartakotalive.com di Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (24/3/2026).

Dodol yang dijualnya memiliki berbagai rasa, mulai dari kacang hijau hingga buah-buahan seperti melon dan nanas. Namun, tidak semua penjualan lancar. Jana mengaku bahwa penjualan tidak selalu ramai, bahkan cenderung tidak menentu setiap harinya.

“Kalau hari ini paling baru habis sekitar 15 kotak, kadang bisa lebih, kadang juga sepi,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa jumlah pembeli sangat bergantung pada kondisi keramaian terminal. Semakin banyak penumpang, peluang dagangannya laku juga semakin besar. Meski begitu, kondisi ramai tidak selalu menjamin peningkatan penjualan.

“Kadang ramai orang lewat, tapi belum tentu beli,” ucapnya.

Jana mengungkapkan bahwa ia sudah merantau dan berdagang di Jakarta sejak tahun 1991. Dari dulu, ia pernah menjual berbagai jenis barang, mulai dari mainan anak-anak hingga kurma. Ia sempat berjualan kurma impor, namun harus berhenti karena harga yang semakin mahal dan sulit dijangkau pasar.

Dari situ, ia mulai beralih menjual dodol sebagai alternatif. “Sekarang kurma sudah mahal, jadi saya pilih jual dodol saja,” katanya.

Perjalanan hidupnya di Jakarta tidak selalu mudah. Jana mengaku pernah mengalami dilema saat tidak bisa pulang kampung karena kondisi tertentu. “Kalau enggak pulang kampung rasanya gimana, apalagi keluarga di sana nunggu,” ujarnya.

Kini, dengan usaha yang dijalani, Jana berharap bisa terus bertahan dan meningkatkan penjualannya. “Mudah-mudahan ke depan bisa lebih laku, siapa tahu bisa sampai 40 kotak sehari,” pungkasnya.

Berkah Ramadan bagi Pedagang

Mudik menjadi salah satu ajang yang paling dinantikan dalam momen Idul Fitri tahun 2026 ini. Seorang pedagang burjo bernama Herman misalnya menyimpan cerita menarik dalam perjalanan mudik kali ini. Mari kita simak cerita Herman, pedagang burjo yang hendak mudik ke Kuningan, Jawa Barat.

Herman menggenggam tiket bus itu erat-erat. Pedagang burjo di kawasan Banyumanik, Kota Semarang tersebut akhirnya bisa pulang kampung ke Kuningan, Jawa Barat menjelang Lebaran tanpa perlu memikirkan ongkos perjalanan yang biasanya cukup menguras kantong.

“Alhamdulillah terbantu sekali. Kalau mudik biasa kan lumayan mahal,” ujar Herman sebelum keberangkatan rombongan mudik gratis di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Senin (16/3/2026), dikutip via TribunJateng.com, senin.

Sehari-hari Herman berjualan burjo di Semarang. Ramadan biasanya menjadi waktu paling sibuk bagi warung kecilnya. Namun menjelang Lebaran, kerinduan untuk pulang ke kampung halaman selalu datang. Tahun ini ia bisa pulang bersama salah satu karyawannya.

Bagi Herman, perjalanan mudik kali ini terasa lebih ringan. Di ujung perjalanan nanti, ada keluarga dan anak-anak yang sudah menunggu kepulangannya di kampung halaman.

Biaya Mudik Gratis

Menurut Herman, biaya mudik dari Semarang menuju Kuningan biasanya sekitar Rp250 ribu untuk tiket bus. Belum termasuk ongkos angkutan umum dari terminal menuju rumah di kampung.

“Kalau dari sini sekitar Rp250 ribu, belum nanti naik angkot lagi dari terminal ke rumah. Jadi lumayan mengurangi beban,” katanya.

Program mudik gratis ini kembali digelar PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk untuk membantu para perantau pedagang Warmindo pulang ke kampung halaman saat Lebaran.

Berkah Ramadan dari PT Indofood CBP

Area Sales Manager Indomie wilayah Semarang, Agus Wahono, menjelaskan program tersebut merupakan bentuk apresiasi kepada para pedagang Warmindo yang selama ini menjadi mitra usaha. Secara nasional, kata Agus, program mudik gratis tahun ini memberangkatkan sekitar 11.300 pemudik menggunakan 195 armada bus dari berbagai kota seperti Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, hingga Malang.

“Kalau dari Semarang ada 11 bus dengan total 576 peserta mudik,” ujarnya. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun lalu tercatat sekitar 483 peserta dari 151 Warmindo, sementara tahun ini meningkat menjadi 576 peserta dari 167 Warmindo.

“Ini bentuk apresiasi kami kepada para mitra pedagang Warmindo. Paling tidak kami memberikan fasilitas agar mereka bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga,” katanya.


Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *