My WordPress Blog
Budaya  

Tari Beskalan Malang, Dari Ritual Sakral ke Tarian Penyambut Tamu

Sejarah dan Makna Tari Beskalan

Tari Beskalan merupakan tarian tradisional khas Malang yang memiliki akar dari ritual sakral masyarakat setempat. Awalnya, tarian ini digunakan sebagai bagian dari upacara adat dan ritual keagamaan. Namun, seiring berjalannya waktu, tari ini berkembang menjadi bentuk hiburan dan penyambutan tamu.

Tari Beskalan tidak hanya dikenal sebagai tari penyambutan tamu, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang terkait dengan tradisi masyarakat Malang. Dalam konteks budaya, tarian ini mengandung nilai-nilai sejarah dan filosofi kehidupan yang mendalam. Hal ini menjadikannya sebagai simbol identitas budaya Malang yang unik dan istimewa.

Asal Usul dan Makna Tari Beskalan

Tari Beskalan berasal dari Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan telah dikenal sebagai tarian penyambutan tamu dalam berbagai acara resmi maupun budaya. Menurut informasi dari situs resmi malangkota.go.id, tari ini melambangkan ucapan “selamat datang” kepada tamu yang datang ke Kota Malang.

Istilah “Beskalan” diyakini berasal dari kata “bakalan”, yang berarti awal atau dasar dari segalanya. Beberapa pendapat lain menyebutkan bahwa nama ini juga memiliki makna “persiapan” atau “pembejalan”, yang menggambarkan kesiapan tuan rumah dalam menyambut tamu dengan penuh keramahan. Bahkan, istilah tersebut dikaitkan dengan makna “cikal bakal” atau asal mula kehidupan. Dengan demikian, tarian ini memiliki filosofi mendalam tentang awal, harapan, dan penghormatan.

Sejarah: Dari Ritual Sakral hingga Seni Pertunjukan

Sejarah Tari Beskalan berawal dari tradisi ritual masyarakat Malang pada masa lampau. Dilansir dari tribunnewswiki.com, tarian ini awalnya dipentaskan dalam ritual pembukaan lahan atau pembangunan bangunan. Dalam ritual tersebut, masyarakat biasanya melakukan upacara “cok bakal” atau sesajen, termasuk penanaman tumbal seperti kepala kerbau sebagai simbol permohonan keselamatan dan kesuburan tanah.

Tari Beskalan menjadi bagian penting dalam prosesi ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan ungkapan rasa syukur. Menurut informasi dari Disparbud Kabupaten Malang, Tari Beskalan juga pernah ditarikan oleh seorang penari bernama Miskayah sekitar tahun 1920 sebagai bagian dari tradisi ritual masyarakat.

Memasuki era 1930-an, tarian ini mulai berkembang seiring popularitas kesenian Ludruk di Malang. Awalnya, tarian ini ditarikan oleh laki-laki yang berdandan sebagai perempuan, sebelum akhirnya lebih identik dengan penari perempuan.

Perkembangan Fungsi: Ritual, Hiburan, hingga Penyambutan

Fungsi Tari Beskalan mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Berikut adalah perkembangan fungsinya:

  1. Fungsi Ritual

    Pada awalnya, tarian ini berfungsi sebagai bagian dari ritual adat, seperti bersih desa atau upacara keselamatan. Salah satu tradisi yang masih mempertahankan fungsi ini adalah bersih desa di wilayah Tumpang, Kabupaten Malang. Dalam konteks ini, Tari Beskalan menjadi simbol permohonan perlindungan, keselamatan, serta harapan akan hasil panen yang melimpah.

  2. Fungsi Hiburan

    Memasuki tahun 1940-an, Tari Beskalan mulai berkembang sebagai hiburan rakyat. Saat itu, para seniman tradisional melakukan pertunjukan keliling dari desa ke desa sebagai bentuk hiburan dan sumber penghasilan. Hal tersebut sejalan dengan kondisi ekonomi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan pada masa itu. Pada tahun 1970-an, seiring meningkatnya kondisi ekonomi, berbagai kelompok seni bermunculan dan semakin mempopulerkan Tari Beskalan dalam berbagai acara budaya.

  3. Fungsi Penyambutan

    Kini, Tari Beskalan dikenal luas sebagai tarian penyambutan tamu. Tarian ini sering ditampilkan dalam acara resmi, festival budaya, hingga penyambutan wisatawan.

Ciri Khas Pertunjukan Tari Beskalan

Tari Beskalan umumnya ditampilkan oleh empat penari perempuan, meskipun dalam beberapa kesempatan jumlahnya bisa lebih sedikit atau lebih banyak. Busana penari Tari Beskalan memiliki ciri khas yang mencerminkan keindahan dan identitas budaya Malang.

Penari mengenakan sanggul yang dihiasi cundhuk mentul di bagian kepala, serta kemben dengan tambahan ilat-ilatan pada bagian atas. Pada bagian bawah, digunakan celana selutut yang dilengkapi kain tambahan di bagian depan dan belakang. Penampilan tersebut semakin lengkap dengan penggunaan kaus kaki putih dan gongseng di kaki, serta selendang yang dikenakan di bahu sebagai properti tari.

Seluruh unsur busana ini selaras dengan gerakan Tari Beskalan yang dikenal anggun, lincah, dan dinamis. Meski sekilas mirip dengan Tari Remo, tarian ini dinilai lebih menonjolkan kelembutan dan keindahan gerak perempuan. Gerakan tersebut menggambarkan keramahan serta keindahan perempuan Malang dalam menyambut tamu.

Untuk musik pengiring, awalnya menggunakan alat sederhana seperti kendang dan jidor, namun kini lebih sering diiringi gamelan Jawa.

Warisan Budaya Tak Benda Nasional

Kabar membanggakan datang pada tahun 2023, ketika Tari Beskalan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia oleh Kemendikbudristek RI. Penetapan ini menjadi bukti bahwa Tari Beskalan memiliki nilai budaya tinggi yang patut dilestarikan.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan bahwa pengakuan ini diharapkan mampu mendorong pelestarian budaya oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.

Simbol Identitas dan Kebanggaan Malang

Kini, Tari Beskalan tidak hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Malang. Berawal sebagai tarian ritual yang sakral, Tari Beskalan kini telah bertransformasi menjadi seni pertunjukan yang lebih fleksibel.

Tarian ini tidak hanya ditampilkan dalam upacara adat, tetapi juga hadir dalam berbagai acara modern sebagai bagian dari pertunjukan budaya. Melalui gerakan yang anggun dan penuh makna, tarian ini mencerminkan nilai keramahan, rasa syukur, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Keberadaannya menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya lokal harus terus dijaga dan diwariskan, agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *