Dampak Perang Timur Tengah pada Pasokan BBM dan Kebijakan yang Diperlukan
Perang di kawasan Timur Tengah masih berlangsung, dan dampaknya terasa hingga ke sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu aspek yang paling terkena dampak adalah pasokan bahan bakar minyak (BBM), yang mengancam stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Krisis energi ini dipicu oleh gangguan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz, salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak mentah global. Konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran telah memperburuk situasi tersebut, sehingga menimbulkan ancaman krisis energi global. Indonesia, sebagai negara yang bergantung pada impor energi, kini harus bersiap menghadapi tantangan besar ini.
Peneliti UI Mendorong Realokasi Anggaran untuk Subsidi BBM
Dalam upaya mengantisipasi krisis energi, Telisa Aulia Falianty dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyarankan agar pemerintah melakukan realokasi anggaran subsidi BBM. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memakan anggaran besar bisa sementara dialihkan ke kebutuhan energi.
“Program prioritas yang ada, yang besar-besar, itu memang harus lebih dikaji mana yang lebih bisa direalokasi. Walaupun tidak semua, mungkin sepuluh persennya saja yang direalokasi. Artinya tidak mengganggu kepada tujuan prioritas nasional,” ujarnya.
Telisa juga menekankan bahwa pemerintah perlu lebih cermat dalam membuat kebijakan, terutama dalam menjaga fiskal negara tetap aman. Jika harus menaikkan subsidi BBM, ia berharap langkah tersebut dilakukan setelah seluruh opsi lain telah dievaluasi.
Pemerintah Diminta Lebih Proaktif
Di tengah krisis energi global, beberapa negara tetangga seperti Singapura, Vietnam, Kamboja, dan Filipina sudah mulai menaikkan harga BBM. Contohnya, Kamboja telah menyesuaikan harga BBM sebesar 10 persen, sedangkan Vietnam, Laos, dan Filipina mencatat kenaikan signifikan antara 6-8 persen.
Namun, Pemerintah Indonesia belum menunjukkan langkah konkret untuk meredam dampak krisis energi. Hingga saat ini, tindakan yang diambil hanya sebatas pernyataan tentang keterbatasan suplai BBM dan wacana pengaturan pola kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) serta kegiatan sekolah dari rumah.
Ancaman Krisis Energi Global
Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengingatkan bahwa konflik Timur Tengah yang berkepanjangan berpotensi memperburuk kondisi pasokan energi global. Arab Saudi sendiri telah menyatakan akan mengurangi ekspor minyak ke Asia per April 2026, sementara Selat Hormuz masih terganggu.
“Semakin lama perang terjadi, semakin terganggu pasokan minyak mentah secara global dan harga minyak bisa semakin tinggi. Eskalasi konflik ini menimbulkan ancaman kelangkaan minyak mentah, terutama ke negara Asia yang memang pengirimannya melalui selat Hormuz,” ujarnya.
Nailul juga memperingatkan bahwa inflasi global dapat meningkat tajam jika harga barang semakin sulit dikendalikan. Hal ini akan memberikan tekanan besar bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.
Cadangan Energi Nasional yang Masih Rendah
Menurut Nailul, cadangan energi nasional Indonesia lebih rendah dibandingkan Jepang, namun Jepang lebih responsif dalam menghadapi krisis. Indonesia masih belum mengeluarkan kebijakan yang efektif untuk mengurangi dampak perang di Timur Tengah.
Pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, terutama dalam mengantisipasi lonjukan harga energi dan dampaknya terhadap inflasi. Tanpa langkah mitigasi yang cepat dan terukur, dampak krisis energi global berpotensi menjalar ke berbagai sektor, mulai dari industri hingga daya beli masyarakat.
Kebijakan Antisipatif yang Diperlukan
Nailul menekankan bahwa pemerintah harus segera menyiapkan kebijakan antisipatif guna menjaga ketahanan energi dan stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. “Sudah sewajarnya pemerintah khawatir dengan kondisi ini. Jika tidak khawatir, maka rakyat yang akan semakin khawatir karena pemerintahan yang tidak kredibel,” ujarnya.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











