Iran Menolak Tawaran Gencatan Senjata dari AS
Iran menolak tawaran Amerika Serikat (AS) untuk melakukan gencatan senjata selama 48 jam. Sejak 28 Februari 2026, AS bersama Israel telah menggempur Iran, menewaskan lebih dari 2 ribu orang di negara tersebut. Menurut kantor berita Fars, AS mengusulkan gencatan senjata tersebut melalui negara ketiga pada Kamis (2/4/2026). Seorang pejabat mengatakan bahwa tawaran itu muncul setelah meningkatnya ketegangan dan tantangan yang dihadapi oleh pasukan AS di kawasan Timur Tengah.
“Upaya diplomatik AS untuk menghentikan pertempuran telah meningkat, terutama setelah adanya laporan serangan terhadap depot militer AS di Pulau Bubiyan di Kuwait,” kata pejabat tersebut. Awal pekan ini, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan Iran lah yang meminta gencatan senjata. Namun, Teheran membantah klaim tersebut.
Upaya Mediasi Gencatan Masih Menghadapi Hambatan
Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ), upaya Pakistan untuk memediasi gencatan senjata menemui jalan buntu setelah Iran menolak bertemu dengan pejabat AS di Islamabad karena menilai tuntutan Washington tidak dapat diterima. Teheran mengajukan sejumlah syarat tersendiri untuk mengakhiri konflik, di antaranya AS harus menarik seluruh pasukannya dari pangkalan-pangkalan di Timur Tengah serta memberikan kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan pada sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur penting lainnya.
WSJ juga melaporkan bahwa Turki dan Mesir tengah menjajaki alternatif lain untuk melanjutkan upaya mediasi, termasuk mempertimbangkan lokasi baru seperti Doha atau Istanbul. Namun, Qatar menolak berperan sebagai mediator utama dalam kemungkinan perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Iran Tembak Jatuh 2 Pesawat Tempur AS
Iran kemungkinan besar telah siap dengan konflik jangka panjang. Menurut asesmen intelijen AS yang dilaporkan oleh CNN, militer Iran masih memiliki sekitar setengah dari peluncur rudal dan setengah dari drone kamikaze. Hal ini bertentangan dengan klaim Trump dan pemerintah Israel yang berulang kali menyatakan telah menghancurkan kemampuan pertahanan Iran.
Pada Jumat (3/4/2026), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menembak jatuh jet tempur AS F-15E di wilayah barat daya negara itu. Baik militer AS maupun Iran melancarkan pencarian terhadap dua pilot yang selamat. Salah satunya telah berhasil diselamatkan oleh pasukan AS, sementara satunya lagi masih dalam proses pencarian. Tak lama berselang, pesawat tempur AS lainnya, A-10 Warthog, juga ditembak jatuh di kawasan Teluk Persia saat melakukan operasi pencarian terhadap jet F-15E. Sang pilot berhasil keluar dengan kursi lontar dan diselamatkan.

Serangan Iran Picu Kebakaran di Negev, Israel
Dilansir dari Al Jazeera, Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran (HRANA) mencatat sedikitnya 206 serangan dilancarkan terhadap Iran pada Kamis dan Jumat, menewaskan sedikitnya satu warga sipil. Serangan tersebut terjadi di 13 provinsi dalam waktu 24 jam. Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS itu menyebutkan bahwa serangan AS-Israel sejauh ini telah menewaskan 1.607 warga sipil, 1.213 personel militer, dan 711 orang yang status militernya tidak diketahui, sejak perang meletus pada 28 Februari. Jumlah ini lebih dari rendah dari yang dilaporkan oleh pemerintah Iran, yakni 2.076 kematian.
Sementara itu, serangan balasan Iran terhadap Israel memicu kebakaran di sebuah lokasi industri di Negev. Beberapa bangunan juga mengalami kerusakan di Rosh Haayin dan Petah Tikvah, Israel tengah.

Eks Menlu Iran Alami Luka Parah akibat Serangan AS-Israel
Beberapa tokoh penting di Iran juga menjadi korban dari serangan AS-Israel. Salah satunya adalah eks Menteri Luar Negeri Iran yang mengalami luka parah akibat serangan tersebut. Peristiwa ini menunjukkan betapa intensifnya konflik yang terjadi antara kedua negara.
Ini Isi Surat Terbuka Presiden Iran untuk Rakyat Amerika Serikat
Presiden Iran juga merespons serangan yang terjadi dengan mengirimkan surat terbuka kepada rakyat Amerika Serikat. Dalam surat tersebut, ia menjelaskan alasan Iran bertindak keras dan mengingatkan masyarakat AS akan dampak dari aksi militer yang dilakukan oleh pemerintahnya.
Intelijen AS: Iran Enggan Negosiasi Akhiri Perang
Menurut laporan intelijen AS, Iran tampak enggan melakukan negosiasi untuk mengakhiri perang. Hal ini membuat situasi semakin sulit untuk diselesaikan secara damai. Pihak AS terus mencoba untuk mencari solusi, tetapi Iran tetap bersikeras pada prinsipnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











