My WordPress Blog
Budaya  

Aroma kayu manis menghidupkan kehidupan di sudut Pasar Johar Semarang

Kembali Menghidupkan Tradisi dengan Konsep Baru

Di sudut Pasar Johar yang perlahan kembali ramai, aroma kayu manis menyelinap dari sebuah toko ujung Johar Utara. Di dalamnya, ada cerita tentang kue lama yang tetap relevan tanpa kehilangan akarnya. Toko ini memiliki konsep yang menyerupai toko bolu tjilaki Bandung, dengan dominasi warna hijau tosca yang ramah dipandang mata. Beberapa ornamen seperti lampu hias Eropa klasik menjadi daya tarik toko tersebut.

Selain itu, terdapat satu lemari kayu dan kaca yang khusus berisi bongkahan besi yang di yakini sebagai sisa pasar Johar yang terbakar. Pemilik toko, Aldin Meidito, memilih tidak langsung menyebut dagangannya sebagai ganjel rel. Ia menamai tokonya “Gambang”, istilah yang diambil dari Betawi atau bisa juga dipresepsikan dari lagu Gambang Semarang.

“Kalau dibilang ganjel rel, orang Semarang sudah kebayang kue yang seret. Jadi kita bikin orang penasaran dulu. Masuk, baru tahu ternyata ini ganjel rel,” ujarnya.

Padahal secara dasar, dua nama itu merujuk pada kue yang sama. Disebut gambang karena bentuknya menyerupai bilah alat musik gambang kromong. Sementara di Semarang, nama ganjel rel muncul dari bentuknya yang menyerupai bantalan rel. Di toko ini, resep lama tetap dipertahankan, terutama varian original dengan dominasi kayu manis. Namun, untuk menarik minat pembeli, dilakukan sedikit penyesuaian. Ada tambahan isian keju, coklat, hingga stroberi. Bahkan disediakan versi potongan (slice) dengan olesan butter di atasnya agar lebih lembut saat dimakan.

“Biar orang mau coba dulu. Kalau sudah suka, baru beli yang besar,” katanya.

Dari beberapa varian, rasa keju justru jadi yang paling diminati. Kombinasi gurih dan manis dinilai lebih cocok di lidah pengunjung saat ini. Untuk persiapannya, mereka melakukan baking mulai sekira pukul 04.00 WIB, jam 09.00 WIB baru buka. Saat ini, toko hanya buka sehabis kue, biasanya sampai sore.

Upaya Pembukaan Toko Kue Ini Bukan Tanpa Latar Belakang

Upaya pembukaan toko kue ini bukan tanpa latar belakang. Sejak kebakaran Pasar Johar pada 2015, keberadaan ganjel rel di kawasan tersebut mulai sulit ditemukan. Padahal sebelumnya, kue ini identik dengan tradisi masyarakat Semarang, terutama menjelang Ramadan.

“Dulu orang cari ganjel rel pasti ke Johar atau Kauman. Sekarang sempat hilang, jadi kita coba hidupkan lagi di tempat asalnya,” ujarnya.

Ia juga mempertahankan konsep sederhana untuk minuman. Alih-alih kopi kekinian, toko ini justru menyediakan teh jadul atau teh kepyur yang masih menggunakan kemasan klasik berbahan kertas. Dari beberapa campuran teh kepyur itu, menjadi teh original yang memiliki rasa pahit setelah meneguk.

“Untuk minuman harganya mulai dari Rp9 ribuan. Sementara kue dijual mulai Rp13 ribu per potong hingga mulai Rp69 ribu per boks,” tuturnya.

Kedekatan Personal dengan Kawasan Johar

Di balik konsep tersebut, ada kedekatan personal dengan kawasan Johar. Saat masih SMP, Aldin pernah berjualan sepatu di area yang dikenal sebagai pasar maling di sekitar Johar. Pengalaman itu membuatnya cukup memahami dinamika pasar tradisional termasuk bagaimana menarik pembeli agar mau datang dan bertahan.

“Dulu sempat jualan di sini. Jadi ada keinginan balik lagi, tapi dengan konsep yang berbeda,” katanya.

Ide membuka usaha ini juga terhubung dengan media yang ia kelola, Hidden Gem Semarang. Saat mencoba merayakan capaian pengikut, ia justru menemukan keresahan pasar di Semarang belum sepenuhnya menjadi ruang yang menarik bagi anak muda, seperti di kota lain. Ia kemudian membandingkan dengan Pasar Santa di Jakarta, Pasar Cihapit di Bandung, hingga Pasar Gedhe di Solo yang dinilai lebih hidup karena mampu menggabungkan tradisi dan gaya baru.

Dari situ, ia melihat celah di Johar. Setelah mengantongi izin pada September, proses pembangunan berjalan bertahap. Toko kue ini baru resmi dibuka 14 Maret 2026, bertepatan dengan momen Ramadan. Menariknya, pengunjung yang datang tidak hanya warga Semarang. Berdasarkan data internal, cukup banyak pembeli berasal dari luar kota, termasuk Jakarta.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *