Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) menyatakan bahwa pemerintah memiliki kemampuan untuk menurunkan biaya penggunaan sistem operasi. Pernyataan ini berbeda dengan pandangan dari Strategic Partner Manager Google for Education, Ganis Samoedra Murharyono.
Deputi Bidang Hukum Dan Penyelesaian Sanggah LKPP Setya Budi Arijanta mengungkapkan bahwa pihaknya berhasil menurunkan biaya penggunaan sistem operasi melalui proses negosiasi. Namun, Setya tidak menjelaskan secara rinci jenis sistem operasi maupun besaran penurunan harga yang dimaksud.
“Jika berdasarkan pengalaman saya, biaya pemakaian sistem operasi komputer bisa dinegosiasi setelah dikonsolidasi. Tergantung bagaimana cara negosiasinya,” ujar Setya sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi laptop Chromebook di Pengadilan Jakarta Pusat, Kamis (2/4).
Diketahui bahwa Google menyatakan harga pemakaian sistem operasi Chromebook sama secara global, yakni US$ 38 per laptop. Jumlah laptop dengan sistem operasi Chromebook yang dibeli pemerintah dalam kasus ini lebih dari 1 juta unit.
Setya mengungkapkan bahwa Kementerian Keuangan berhasil menurunkan biaya penggunaan sistem operasi untuk seluruh pegawainya yang mencapai hampir 77.500 orang. Selain itu, Setya juga mengaku berhasil menurunkan biaya penggunaan sistem operasi untuk seluruh pegawai kantornya yang hanya sekitar 400 orang.
“Biaya penggunaan sistem operasi tidak bisa diturunkan itu pemahaman yang salah. Saya langsung negosiasi ke produsen untuk menurunkan biaya penggunaan sistem operasi dan bisa kok,” katanya.
Dalam konteks pengadaan perangkat TIK nasional, biaya yang dibutuhkan tidak hanya terbatas pada pembelian perangkat keras seperti laptop. Negara juga harus memperhitungkan biaya lain, seperti lisensi OS dan biaya pengelolaan perangkat secara tersentralisasi atau device management.
Kubu Nadiem menjelaskan struktur biaya Chromebook pada saat pengadaan dilakukan, terdiri dari beberapa elemen utama yang dirancang untuk menekan pengeluaran negara.
Biaya lisensi Chrome OS gratis, karena sudah termasuk dalam harga perangkat. Sedangkan lisensi CDM sekali bayar atau one-time license, yakni US$ 30 per laptop.
Selain itu, tidak ada biaya langganan yang harus diperbarui setiap tahun. Chromebook juga dilengkapi berbagai aplikasi pembelajaran yang terintegrasi, secara gratis, termasuk Google Workspace dan Google Classroom, dan tanpa biaya lisensi tambahan.
Persidangan dugaan kasus korupsi dalam digitalisasi pendidikan pada 2019-2022 menghadirkan saksi kedua, yakni Hamid Muhammad. Hamid menjabat sebagai Plt Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad selama tiga bulan hingga Juni 2020.
Hamid mengatakan sistem operasi Chromebook dipilih setelah melihat mayoritas handphone yang digunakan guru adalah Android yang dapat langsung terhubung dengan Chromebook.
“Dengan demikian, penggunaan platform Chromebook berdampak pada harga perangkat yang dibeli lebih murah,” kata Hamid di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (19/1).
Di sisi lain, Google menjelaskan peran perusahaan secara tegas terbatas pada pengembangan dan pemberian lisensi sistem operasi atau OS Chrome dan alat pengelolaan kepada para mitra.
Proses pengadaan dikelola sepenuhnya oleh produsen peralatan asli alias Original Equipment Manufacturers (OEM) yang independen dan para mitra lokal.
Perusahaan asal Amerika Serikat itu memastikan tidak memproduksi atau menjual Chromebook secara langsung kepada pelanggan akhir. “Kami juga tidak menentukan harga,” kata Google dalam blog resmi, Sabtu (10/1).
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











