My WordPress Blog

Masalah stunting dan ketimpangan pembangunan di Jayapura

Pengertian Stunting dan Penyebabnya

Stunting adalah kondisi di mana tinggi badan anak lebih rendah dari rata-rata untuk usianya, akibat kekurangan nutrisi yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada ibu selama kehamilan atau pada anak saat sedang dalam masa pertumbuhan.

Data Stunting di Kabupaten Jayapura

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan, Papua menduduki peringkat ke 8 nasional dengan presentase 28,6 persen anak penderita stunting. Di Kabupaten Jayapura sendiri, prevalensi stunting pada tahun 2024 berada di angka 14,02 persen. Namun, data Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura menunjukkan bahwa pada tahun 2025, angka tersebut turun menjadi 13,25 persen.

Sedangkan hingga Januari 2026, tercatat sebanyak 688 anak mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis di 22 puskesmas yang tersedia di Kabupaten Jayapura. Data tersebut diperoleh melalui sistem Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).

Sebaran Kasus Stunting di Wilayah Pembangunan

Berdasarkan pemetaan wilayah pembangunan (WP), sebaran kasus tertinggi berada di Wilayah Pembangunan I dengan 300 anak, disusul Wilayah Pembangunan III sebanyak 159 anak, Wilayah Pembangunan IV sebanyak 157 anak, dan Wilayah Pembangunan II sebanyak 72 anak.

Mengapa Masih Ada Kasus Stunting?

Meskipun prevalensi stunting menunjukkan penurunan, masih ada kasus stunting yang terjadi. Penurunan persentase tidak selalu berarti jumlah kasus menurun. Dalam kasus stunting yang terjadi di Kabupaten Jayapura, stunting masih terjadi karena dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah populasi anak, serta meningkatknya cakupan pendataan. Oleh karena itu, masalah stunting masih ada dan belum sepenuhnya terkendali.

Faktor lain penyebab masih maraknya kasus stunting di Kabupaten Jayapura ialah adanya ketimpangan pembangunan antar wilayah. Pembangunan seharusnya tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, melainkan juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk aspek kesehatan dan gizi.

Ketimpangan Pembangunan dan Tantangan yang Dihadapi

Tingginya angka stunting di Kabupaten Jayapura merupakan bukti nyata bahwa pembangunan manusia belum berjalan secara optimal. Adanya ketimpangan pembangunan, baik dari segi akses layanan kesehatan, distribusi program gizi, maupun kondisi ekonomi antar wilayah.

Fluktuasi angka stunting dari tahun ke tahun juga menunjukkan bahwa proses pembangunan kesehatan masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam efektivitas kebijakan dan implementasi program.

Penanganan Stunting sebagai Bagian dari Pembangunan Berkelanjutan

Oleh karena itu, penanganan stunting perlu dipandang sebagai bagian integral dari pembangunan berkelanjutan yang berfokus pada pemerataan, intervensi berbasis data, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

Jika dianalisis menggunakan perspektif teori pembangunan manusia yang dikemukakan oleh Amartya Sen, pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kemampuan individu untuk hidup sehat, berpendidikan, dan memiliki kualitas hidup yang baik.

Implikasi bagi Pembangunan Manusia

Tingginya angka stunting, meskipun prevalensinya menurun, menunjukkan bahwa kemampuan dasar masyarakat khususnya dalam pemenuhan gizi dan kesehatan yang masih terbatas. Artinya, pembangunan di Kabupaten Jayapura belum sepenuhnya meningkatkan kapabilitas manusia secara merata.

Selain itu, ketimpangan distribusi kasus stunting antar wilayah pembangunan juga menunjukkan adanya masalah dalam pemerataan pembangunan. Ketimpangan wilayah merupakan salah satu indikator bahwa proses pembangunan belum inkusif.

Wilayah dengan jumlah kasus stunting tertinggi kemungkinan memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan serta program intervensi gizi. Hal ini memperlihatkan bahwa pembangunan masih cenderung terpusat.

Kesimpulan

Pembangunan yang berkelanjutan seharusnya mampu menghasilkan perbaikan konsisten dalam jangka panjang. Dapat disimpulkan bahwa permasalahan stunting di Kabupaten Jayapura masih menunjukkan kondisi kompleks dan belum sepenuhnya tertangani secara optimal.

Meskipun terjadi penurunan kasus dari tahun 2024 ke 2025, peningkatan jumlah kasus secara absolut serta masih ditemukannya ratusan kasus pada awal tahun 2026 menunjukkan bahwa upaya penanganan belum berjalan efektif dan merata.

Selain itu, adanya ketimpangan distribusi kasus antar wilayah pembangunan menegaskan bahwa akses terhadap layanan kesehatan dan gizi masih belum seimbang. Dalam perspektif pembangunan manusia, kondisi ini mencerminkan bahwa proses pembangunan di Kabupaten Jayapura belum sepenuhnya mampu meningkatkan kapabilitas masyarakat, khususnya dalam aspek kesehatan dan pemenuhan gizi.

Pembangunan yang masih tidak merata dan belum berkelanjutan menjadi faktor utama yang memengaruhi tingginya kasus stunting.


Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *