Pertunjukan Sendratari “Babad Mahardika” Menggugah Semangat Kebangkitan Budaya
Pertunjukan sendratari bertajuk “Babad Mahardika” sukses memukau ratusan penonton dengan sajian kolaborasi seni yang megah, sarat makna, dan penuh semangat kebangkitan budaya. Acara ini digelar di alun-alun Kota Magelang dalam rangka memeriahkan hari Jadi yang ke-1120 Kota Magelang, pada Minggu (12/04/2026) siang. Sendratari ini menjadi simbol kekuatan nilai-nilai lokal yang tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Mengisahkan Awal Berdirinya Kota Magelang
Sendratari ini mengisahkan awal berdirinya Kota Magelang sejak masa pemerintahan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 M. Pada masa kerajaan Mataram Kuno di bawah kendali pemerintahan Sri Maharaja Rakai Watu Humalang, banyak terjadi kerusuhan sampai penjuru negeri yang disebabkan oleh ulah para perampok. Berbagai upaya untuk melenyapkan para perampok tersebut, baik dengan mengirimkan pasukan segelar sepapan ataupun dengan kesigapan pasukan telik sendinya untuk melakukan sergapan mendadak, namun selalu menemui kegagalan.
Hal itu dikarenakan, kemampuan para perampok yang lebih menguasai medan pertempuran yang memang menjadi areal operasinya dibanding pasukan Mataram. Tindakan para perampok yang kejam tersebut, sangat meresahkan rakyat Mataram. Siang sampai malam mereka selalu diliputi kecemasan, sehingga kenyamanan mereka sangat terusik.
Pada waktu itu, ada seorang pemuda dari daerah Watukura yang bernama Balitung yang dengan kesaktian yang dimiliki, dibantu oleh para pemuda daerah Mantyasih ternyata mampu mengalahkan para perampok yang selama ini membikin resah rakyat Mataram. Karena jasanya, maka Balitung diberikan anugrah sekar kedhaton Mataram yang bernama Giri Kanya. Ketika Sri Maharaja Watu Humalang sudah surud ing kasedan jati, tahta Mataram diserahkan kepada Balitung dan diberi gelar abhiseka Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharumadaya Mahasambhu.
Setelah Balitung menjadi raja, sebagai ungkapan terima kasihnya kepada rakyat Manyasih pada waktu menumpas para perampok, maka daerah Mantyasih dijadikan daerah yang bebas memberikan upeti setiap tahunnya. Di samping itu daerah Mantyasih dijadikan sebagai daerah perdikan yang dipimpin oleh 5 orang patih secara bergiliran. Mereka itu adalah, Patih Pu Sna, Pu Kola, Pu Punjeng, Pu Kara, dan Pu Sudraka. Kepemimpinan mereka sangat disegani rakyat Mantyasih, sehingga kemakmuran dan ketentraman daerah perdikan tersebut menambah keagungan dan kewibawaan kerajaan Mataram.
Dari Jasa kelima patih tersebut, maka Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung berkenaan mengeluarkan Prasasti Mantyasih. Isi dari prasasti tersebut salah satunya menyebutkan bahwa Perdikan Mantyasih (sekarang Meteseh) dijadikan daerah sima yang bebas dari pajak. Arti nama Mantyasih berasal dari manti: panti, sangat, penuh dan sih: cinta kasih. Jadi Mantyasih berarti pengabdian yang penuh cinta kasih.
Penjelasan Sutradara
Sutradara Sendratari Babad Mahardika, Gepeng Nugroho menjelaskan “Babad Mahardika” yang secara filosofis berarti membuka kejayaan atau menggelar kemerdekaan jiwa, ini mengangkat pada zaman mataram hindu pada abad ke -9. “Pada zaman itu memiliki tempat bersejarah di tempat ini menjadi tempat transitnya pelaku ritual dari bagian timur hingga ke Dieng, nah di sini tempat transitnya sehingga terjadi akulturasi, perdagangan itu maju perekonomian makin meningkat pertanian mengikutinya maka kesejahteraan terjadi waktu itu pada abad ke 9 itu,” jelasnya.
Gepeng menambahkan total ada 250 penari yang dilibatkan dalam sendratari babad mahardika ini ditambah 35 pengrawit yang mengiringi, kemudian didukung oleh 11 koreografer.











