Gagalnya Perundingan Damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad
Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Ibu Kota Pakistan, gagal karena kedua pihak sama-sama kaku. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium, sementara Iran melihat tuntutan tersebut sebagai tidak masuk akal dan berlebihan. Berikut adalah beberapa faktor utama yang menyebabkan kegagalan perundingan tersebut.
1. Kedua Pihak Tidak Bersedia Berkompromi
Alasan utama kegagalan pembicaraan AS-Iran di Islamabad adalah karena kedua pihak tidak bersedia berkompromi atau bergeser dari tuntutan mereka. AS menuntut agar Iran menghentikan pengayaan uranium dan berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir di masa depan. Namun, Iran menolak tuntutan ini, dengan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil yang damai.
Pimpinan delegasi AS, Wakil Presiden JD Vance, mengatakan bahwa mereka tidak dapat mencapai situasi di mana Iran bersedia menerima persyaratan mereka. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tuntutan AS sebagai “berlebihan dan tidak masuk akal”. Para ahli menyatakan bahwa kesimpulan dari perundingan di Islamabad memberikan keuntungan bagi Iran, karena mereka tampaknya tidak merasa perlu untuk memberikan konsesi dalam perundingan tersebut.
2. Suasana Tidak Kondusif dan Ancaman Trump
Perundingan perdamaian membutuhkan kepercayaan. Namun, saat para negosiator dari Iran dan AS berkumpul di Islamabad, suasana tidak kondusif. Presiden AS Donald Trump berulang kali mengeluarkan ancaman terhadap Iran, bahkan mengatakan “seluruh peradaban akan mati malam ini” sebelum pembicaraan dimulai. Ancaman ini justru memperkeras posisi Teheran, membuat Iran melihatnya sebagai tekanan, bukan diplomasi.
Para analis menunjukkan bahwa gencatan senjata itu sendiri terjadi setelah ancaman maksimalis dari Trump. Alih-alih membangun kepercayaan, hal itu justru memperkeras posisi Teheran. Iran memasuki ruangan dengan waspada, sementara AS datang dengan tuntutan tegas, sehingga menjauhkan keduanya lebih jauh.
3. Israel Ikut Menghambat Negosiasi?
Saat pembicaraan Iran-AS sedang berlangsung di Pakistan, Israel terus melakukan serangan di Lebanon, wilayah yang dikuasai oleh Hizbullah, kelompok yang selama ini didukung Iran. Iran menginginkan serangan Israel terhadap Lebanon dihentikan sebagai prasyarat untuk perundingan perdamaian. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata bilateral antara AS dan Iran tidak berlaku untuk Iran. Serangan Israel terhadap Lebanon terus berlanjut.
Menteri Pertahanan Pakistan Khwaja Asif memprovokasi Israel dengan sebuah cuitan yang kemudian dihapusnya, menjelang perundingan. Asif menuduh Israel melakukan “genosida” di Lebanon. Unggahannya yang menyerukan “pemusnahan Israel” menuai reaksi marah dari kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sementara itu, duta besar Israel untuk India mengatakan bahwa Pakistan bukanlah mitra yang kredibel untuk perundingan perdamaian.
4. Selat Hormuz Penghalang Kesepakatan
Selat Hormuz, yang sebagian besar telah ditutup Iran sejak 28 Februari, berubah menjadi titik permasalahan utama dalam pembicaraan AS-Iran. Iran sebelumnya telah memasang ranjau di beberapa bagian selat tersebut, yang menghambat pelayaran dan aliran minyak dari Teluk Persia. AS menginginkan Selat Hormuz segera dibuka kembali. Namun, Iran melihat Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar dan ingin pencabutan sanksi serta jaminan keamanan sebagai prioritas utama.
Menurut kantor berita Reuters, perbedaan pendapat mengenai kendali Selat Hormuz tetap ada meskipun ada kemajuan pada isu-isu lain. CNN mencatat bahwa kegagalan tersebut menimbulkan kekhawatiran baru tentang pembukaan kembali selat tersebut. Sebelumnya, Trump telah mengatakan kepada ABC bahwa ia sedang mempertimbangkan usaha patungan dengan Iran untuk mengendalikan jalur pelayaran yang sempit tersebut dan ingin memungut biaya dari kapal-kapal yang melewati selat itu.
5. Faktor Kepercayaan Dua Pihak
Pada akhirnya, kepercayaan adalah penentu terbesar dalam perundingan perdamaian di Islamabad. Bertahun-tahun permusuhan membuat kedua belah pihak meragukan niat satu sama lain. Bahkan sebelum perundingan, negosiator Iran yakni Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, “Kami memiliki niat baik, tetapi kami tidak saling percaya”.
Pola pikir itu adalah beban dari Iran yang dibawa oleh para negosiator selama 21 jam pembicaraan. Sementara Wakil Presiden Amerika, Vance, menyebut proposal AS sebagai “proposal terakhir dan terbaik”, pihak Iran melihatnya sebagai proposal yang “berat sebelah”. Tepat setelah pembicaraan di Jenewa, yang dikatakan berjalan positif, AS dan Israel melakukan serangan udara mematikan terhadap Iran pada 28 Februari.
Bagi Iran, pembicaraan perdamaian juga terdengar seperti kedok untuk serangan militer. Mengingat sejarah panjang permusuhan antara AS dan Iran, ketidakmampuan atau penolakan Washington untuk mengendalikan serangan Israel terhadap Lebanon, dan tuntutan berulang-ulang yang telah ditolak Teheran, praktis tidak ada kepercayaan. Jadi, setiap proposal dari AS tampak seperti jebakan. Konsesi, jika memang ditawarkan, terlihat berisiko. Hasilnya dapat diprediksi. Tidak ada kesepakatan.











