Produk Kertas Daur Ulang Suhuf Menembus Pasar Internasional
Dari sebuah workshop sederhana di Kota Bandung, produk kertas daur ulang yang dibuat oleh Suhuf kini tidak hanya beredar di dalam negeri, tetapi juga menembus pasar internasional. Produk ini memanfaatkan tumpukan jerami dan limbah kertas yang kini menjadi produk bernilai tinggi.
Kanada dan Finlandia menjadi tujuan pengiriman terbaru dari Suhuf. Risma Indriyani M, CEO Suhuf, mengatakan bahwa produk mereka sudah masuk ke sejumlah retail nasional hingga pusat perbelanjaan. Contohnya seperti Paperclip Indonesia dan Borma di Bandung.
Selain itu, Suhuf juga mulai merambah marketplace. Untuk pemesanan dalam jumlah besar atau business to business (B2B), transaksi biasanya dilakukan secara langsung melalui WhatsApp karena dapat mendapatkan harga khusus.
Kolaborasi dengan Limbah Kain Batik
Menariknya, produk Suhuf tidak hanya berbasis kertas daur ulang biasa. Mereka juga memadukan material dengan limbah kain batik yang sudah tidak terpakai. Batik tersebut berasal dari sisa-sisa yang sudah tidak digunakan lagi, sehingga sama-sama dilakukan proses daur ulang.
Kolaborasi ini justru menarik minat pasar luar negeri. Produk tersebut sempat dikirim ke Finlandia dan Kanada sebagai bagian dari kerja sama dengan pihak ketiga.
Permintaan Pasar Domestik
Untuk pasar domestik, produk yang paling diminati saat ini adalah kebutuhan journaling dan notebook. Selain tampil unik, kertas dari jerami memiliki tekstur yang cukup halus dan bisa digunakan untuk mencetak.
“Yang dari jerami itu kalau dipegang teksturnya lebih halus, jadi bisa masuk printer biasa,” kata Risma.
Sementara varian lain yang menggunakan pelepah pisang juga menjadi salah satu produk unggulan dengan tampilan serat alami yang khas.
Ketahanan Produk Kertas Daur Ulang
Soal ketahanan, Risma mengklaim produk kertas daur ulangnya mampu bertahan cukup lama meski tanpa bahan tambahan. “Tanpa anti jamur pun bisa bertahan lima tahun. Kalau ditambah anti jamur bisa sampai belasan tahun,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, untuk kebutuhan khusus seperti wallpaper atau media lukis, pihaknya menyediakan opsi tambahan agar produk lebih tahan terhadap kondisi lembap.
Proses Produksi Ramah Lingkungan
Dalam proses produksinya, Suhuf tetap memperhatikan aspek ramah lingkungan, termasuk dalam penggunaan pewarna. “Kalau pewarna, kita pakai yang eco-friendly. Bahkan kalau untuk kebutuhan packaging makanan, kita gunakan pewarna food grade,” ujarnya.
Risma melihat kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan kini mulai meningkat. Ia menilai peran media sosial dan influencer turut mendorong perubahan tersebut.
“Sekarang banyak banget influencer yang fokus sama lingkungan. Orang-orang jadi mulai sadar kalau bumi itu nggak sehat,” katanya.
Produk Eco-Friendly Lainnya
Produk-produk eco-friendly, termasuk sabun natural dan self-care berbasis bahan alami yang juga diproduksi Suhuf, mulai dilirik. Antusiasme masyarakat juga terlihat dari respons pengunjung dalam berbagai pameran.
“Antusiasmenya meningkat. Dari tahun ke tahun, orang yang tahu dan menggunakan produk ini semakin banyak,” ujarnya.
Perjalanan Risma dan Visi Suhuf
Perjalanan Risma sendiri tak instan. Lulusan Biologi ITB ini sempat berkarier di berbagai industri, mulai dari perusahaan gawai hingga BUMN seperti Bio Farma dan Kimia Farma. Total hampir sembilan tahun ia bekerja sebelum akhirnya memutuskan fokus membangun usaha.
Ia bahkan sempat menjalani “double job” demi mengumpulkan modal sebelum mengakuisisi dan menghidupkan kembali Suhuf.
Titik baliknya datang saat mengalami kecelakaan pada 2025, yang memaksanya beristirahat dari pekerjaan. “Waktu itu saya lihat lagi catatan lama saya, ternyata dari dulu pengen jadi social entrepreneur,” tuturnya.
Keputusan pun diambil. Ia kembali ke Bandung dan memilih fokus mengembangkan Suhuf sebagai bisnis yang tak hanya berorientasi profit, tetapi juga berdampak sosial.
“Tujuan saya pengen memberdayakan lebih banyak orang, petani, pengrajin, dan membuka lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Di sisi lain, kepedulian terhadap lingkungan menjadi dorongan utama. Risma berharap langkah kecilnya dalam mengolah limbah bisa memberi manfaat jangka panjang.
“Ini mungkin jadi salah satu hal yang bisa saya lakukan untuk lingkungan. Insyallah bisa menjadi amal jariyah,” katanya.











