Pelaku UMKM di Blitar Kena Dampak Kenaikan Harga Bahan Baku
Kondisi pelaku usaha kecil menengah (UMKM) di Kota Blitar, Jawa Timur, semakin terpuruk akibat kenaikan harga bahan baku seperti plastik dan minyak goreng. Salah satu yang terdampak adalah produsen kerupuk siap saji. Meski biaya produksi meningkat secara signifikan, para pengusaha tidak berani menaikkan harga jual karena pasar sedang sepi.
Pengalaman Bayu Prasetyo
Bayu Prasetyo (39), seorang produsen kerupuk di Jl Sumba, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, mengungkapkan dampak kenaikan harga plastik dan minyak goreng terhadap usahanya. Pada pertengahan Ramadan lalu, ia dikejutkan dengan kenaikan tajam harga kedua bahan tersebut yang hampir bersamaan.
“Kenaikan harga plastik hampir 100 persen. Sebelumnya Rp 1.000 per lembar, sekarang menjadi Rp 2.000,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa plastik dan minyak goreng merupakan bahan utama dalam proses produksi kerupuknya.
Hampir bersamaan dengan kenaikan harga plastik, harga minyak goreng juga mengalami kenaikan. Minyak goreng curah yang biasanya dijual Rp 16.000–Rp 17.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp 22.000 per kilogram.
Tantangan Pasar yang Sepi
Kenaikan harga bahan baku ini membuat biaya produksi usaha Bayu membengkak. Namun, ia tidak berani menaikkan harga jual kerupuk karena kondisi pasar yang masih sepi setelah Lebaran.
“Harga jual kerupuk gak bisa naik. Kalau saya naikkan, pelanggan protes. Apalagi saat ini kondisi pasar masih sepi,” katanya.
Untuk mengurangi kerugian, Bayu memutuskan untuk mengurangi jumlah isi kerupuk dalam kemasan. Misalnya, satu kemasan kerupuk harga Rp 2.500 yang biasanya berisi 10 biji, sekarang dikurangi menjadi 8 biji. Sedangkan kemasan harga Rp 5.000 yang biasanya berisi 20 biji, kini hanya 15 biji per kemasan.
“Dengan cara itu saya tidak rugi, tapi untungnya tipis. Hanya cukup buat makan dan gaji pekerja. Yang penting usaha tetap jalan,” ujarnya.
Perbandingan dengan Krisis Moneter 1998
Bayu mengatakan bahwa kondisi serupa pernah dialami ketika terjadi krisis moneter pada 1998. Namun, bedanya, ketika itu meskipun harga bahan baku naik, penjualan kerupuk sangat tinggi. “Kalau sekarang, harga bahan baku naik, penjualan lambat,” katanya.
Mengurangi Produksi
Akibat penjualan yang lambat, Bayu kini mengurangi produksi kerupuk. Biasanya, ia bisa menggoreng 1,5 kuintal per hari. Sekarang, produksinya hanya separuh dari biasanya.
“Pemasaran kerupuk saya hanya di wilayah Blitar. Harapannya, harga bahan baku bisa kembali normal,” pungkasnya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











